Zubair bin Awwam, Sahabat Nabi Yang Gandrung Menemui Syahid

Setiap nama Thalhah disebut, pastilah nama sahabat yang satu ini disebut ! Begitu pula sebaliknya bila  nama sahabat ini disebut, maka pasti nama Thalhah disebut pula. Maka sewaktu Rasulullah SAW. mempersaudarakan para sahabatnya di Mekkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan diantara keduanya.

Siapakah sahabat Rasul yang dipersaudarakan dengan Thalhah itu ? Siapakah ia sebenarnya yang begitu istimewa mendapat penghargaan sebagai pembela Rasulullah karena keberanian, keteguhan, kekuatan daya fikirnya, kemuliaan, kedermawanan serta sifat satrianya  yang dapat dipertanggungjawab ini ? Beliau adakah Zubair bin ‘Awwam, yang sirah perjalanan hidupnya kami kutip dari Rijal Haular Rasul, karta Khalid Muhammad Khalid.

Sudah semenjak lama Nabi Muhammad SAW memperkatakan keduanya secara bersamaan, seperti kata beliau : “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga”. Dan kedua mereka berhimpun bersama.

Dari segi silsilah  Thalhah bertemu asal-usul turunnannya dengan Rasul pada Murrahbi Ka’ab. Sedang Zubair bertemu pula asal-usulnya dengan Rasulullah pada Qusa’i bin Kilab, sebagaimana pula ibunya Shafiah, adalah saudara ayah Rasulullah. Thalhah dan Zubair, mempunyai banyak persamaan satu sama lain dalam aliran kehidupan, dalam pertumbuhan di masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan beragama dan kegagah-beranian, keduanya termasuk orang-orang angkatan pertama masuk Islam. Dan tergolong  sepuluh orang yang di beri kabar gembira oleh Rasul masuk Surga. Keduanya juga sama termasuk kelompok sahabat ahli musyawarah yang enam, yang diserahi tugas oleh Umar bin Khatab memilih Khalifah sepeninggalnya. Akhir riwayatnya pun  juga bersamaan dengan sempurna dan  satu sama lain tidak berbeda.

Sebagaimana telah dikatakan, Zubair termasuk dalam rombongan pertama yang masuk Islam, karena ia adalah dari golongan tujuh orang yang mula-mula menyatakan keislamannya, dan sebagai perintis telah memainkan peranan yang penuh berkat dirumah Arqam. Usianya waktu itu baru lima belas tahun. Dan begitulah ia telah di beri petunjuk, nur dan kebaikan. Ia benar-benar seorang penunggang kuda dan berani sejak kecilnya, hingga ahli sejarah menyebutnya bahwa pedang pertama yang di hunuskan untuk membela Islam adalah pedang Zubair bin Awwam.

Pada hari-hari pertama dalam Islam, sementara kaum muslimin waktu itu sedikit sekali hingga mereka masih sembunyi-sembunyi dirumah Arqam,  tiba-tiba  tersebar berita bahwa Rasul terbunuh. Saat  itu, tiada lain tindakan Zubair kecuali menghunus pedang dan mengacungkannya. Ia berjalan mengelilingi  Kota Mekah laksana tiupan angin kencang guna meneliti berita tersebut dengan bertekad seandainya berita itu ternyata benar, maka niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka atau mereka menewaskannya.

Di suatu tempat ketinggian kota Mekah Rasulullah menemukannya lalu bertanya akan maksud Zubair, maka Rasulullah memohonkan bahagia dan mendo’akan kebaikan baginya serta keampuhan bagi pedangnya.

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya, namun tak kurang ia menanggung adzab derita dan penyiksaan Quraisy yang dipimpin oleh pamanya sendiri. Siksaan demi siksaan, penderitaan demi penderitaan dialaminya dengan kekuatan imannya yang kokoh tak tergoyangkan. Pernah ia di sekap di suatu kurungan, kemudian dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak nafasnya, lalu dipanggilnya Zubair dibawah tekanaan siksa : “Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepaskan kamu dari siksa ini”.  Tantangan itu dijawab oleh Zubair dengan pedas dan mengejutkan : “Tidak ! demi Allah !, aku tak akan kembali pada kekafiran untuk selama-lamanya!” padahal pada waktu itu ia belum menjadi pemuda teruna, masih belia bertulang lembut.

Zubair melakukan hijrah ke Habsyi (Ethiopia) dua kali, kemudian ia kembali, untuk menyertai ketinggalan semua peperangan bersama Rasulullah. Tak pernah ia ketinggalan dalam berperang atau bertempur. Banyaknya tusukan dan luka-luka yang terdapat pada tubuhnya yang masih membekas membuktikan kepahlawanan Zubair dan keperkasaannya.

Salah seorang sahabatnya menuturkan : “Aku pernah menemani Zubair Ibnul ‘Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya, maka aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya seperti terdapat mata air yang dalam, menunjukkan bekas tusukan lembing dan anak panah”. Maka kataku kepadanya : “Demi Allah, telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikitpun !” Mendengar itu Zubair menjawab : “Demi Allah, semua luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah !”

Ketika perang Uhud usai dan pasukan Quraisy berbalik kembali ke Mekkah, ia diutus Rasul bersama Abu Bakar untuk mengikuti gerakan tentara-tentara Quraisy dan menghalau mereka, hingga mereka menganggap kaum Muslimin masih punya kekuatan, dan tidak terpikir lagi untuk kembali ke Madinah guna memulai peperangan yang baru.

Abu Zubair memimpin tujuh puluh orang Muslimin sekalipun mereka sebenarnya sedang mengikuti suatu pasukan yang menang, namun kecerdikan dan muslihat perang yang dipergunakan oleh Ash-Shiddiq dan Zubair, membuat orang-orang Quraisy menyangka bahwa mereka salah duga menilai kekuatan Kaum Muslimin, dan membuat mereka berfikir, bahwa pasukan perintis yang dipimpin oleh Zubair dan ash-Shiddiq  tampak kuat, tak lain sebagai pendahuluan dari bala tentara Rasul yang menyusul di belakang, dan akan tampil menghalau mereka dengan dahsyat. Karena itu mereka bergegas mempercepat perjalanannya dan mengambil langkah seribu pulang ke Mekah!

baca juga: Abdullah bin Rawahah, Penyair Kesayangan Nabi Yang Merindukan Mati Syahid

baca juga: Kisah Karomah Dan Akhlak Mulia Salman Al-Farisi

baca juga: Sahabat Yang Terjebak Di Sarang Dajjal

 

Di samping Yarmuk, Zubair merupakan seorang prajurit yang memimpin langsung suatu pasukan. Sewaktu ia melihat sebagian besar anak buah yang dipimpinnya merasa gentar menghadapi balatentara Romawi yang menggunung maju, ia meneriakkan  “Allahu Akbar “ dan maju membelah pasukan musuh yang mendekat itu seorang diri dengan mengayunkan pedangnya, kemudian ia kembali ke tengah-tengah barisan musuh yang dahsyat itu dengan pedang di tangan kanannya, menari-nari dan berputar bagaikan kincir, tak pernah melemah apalagi berhenti. Zubair r.a. sangat gandrung menemui syahid ! Amat merindukan mati di jalan Allah.

Ia pernah berkata : “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tak ada nabi lagi sesudah Muhammad SAW, maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada, semoga mereka berjuang mengikuti syuhada!” Hingga  anaknya dinamai  Abdullah bin Zubair mengambil berkat dengan sahabat yang syahid Abdullah bin Jahasy. Dinamainya pula seorang lagi al-Munzir mengambil berkat dengan sahabat yang syahid al-Munzir bin Amar. Dinamainya pula yang lain ‘Urwah mengambil berkat dengan ‘Urwah bin Amar. Dan ada pula yang dinamainya Hamzah, mengambil berkah dengan syahid yang mulia Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada lagi Ja’far, mengambil berkat dengan syahid yang besar Ja’far bin Abu Thalib. Juga ada yang dinamakannya Mush’ab mengabil berkat dengan sahabat yang syahid Mush’ab bin Umeir. Tidak ketinggalan juga ada yang dinamainya Khalid mengambil berkat dengan sahabat Khalid bin Sa’id. Demikianlah ia seterusnya memilih untuk anak-anaknya nama para syuhada, dengan pengharapan agar sewaktu datang ajal mereka nanti, mereka tercatat sebagai syuhada !

Dalam riwayat hidupnya telah dikemukakan : “Bahwa ia tak pernah memerintah satu daerah pun, tidak pula mengumpul pajak atau bea cukai, baginya tiada jabatan lain kecuali berperang pada jalan Allah“. Kelebihannya sebagai prajurit perang tergambar pada pengandalan pada dirinya sendiri secara sempurna dan kepercayaan yang teguh. Sekalipun sampai seratus ribu orang menyertainya di medan tempur, namun akan kau lihat bahwa ia berperang seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seolah-olah tanggung jawab perang dan kemenangan terpikul di pundaknya sendiri.

Keistimewaannya sebagai pejuang, terlukis pada keteguhan hatinya dan kekuatan urat syarafnya. Ia menyaksikan atas gugurnya pamannya Hamzah di perang Uhud. Orang-orang musrik telah menyayat-nyayat tubuhnya yang terbunuh itu dengan kejam, maka ia berdiri di mukanya dengan sikap satria menahan gejolak hati dengan memegang teguh hulu pedangnya. Tak ada fikirannya yang lain dari pada mengadakan pembalasan yang setimpal, tapi wahyu segera datang melarang Rasul dan Muslimin.

Sewaktu pengepungan atas Bani Quraidha sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah mengirimnya bersama Ali bin Abi Thalib. Ia berdiri dimuka benteng musuh yang kuat serta mengulang-ulang ucapannya : “Demi Allah, biar kami rasakan sendiri apa yang dirasakan Hamzah, atau kalau tidak, akan kami tundukan benteng mereka !”. Kemudian ia terjun kedalam benteng hanya berdua saja dengan Ali, dengan kekuatan urat syaraf yang mempesona, mereka berdua berhasil menyebarkan rasa takut pada musuh yang bertahan dalam benteng, lalu membukakan pintu-pintu benteng tersebut bagi kawan-kawan mereka di luar.

Di perang Hunain, Zubair melihat pemimpin suku Hawazin yang juga panglima pasukan musyrik dalam perang tersebut Malik bin Auf, yang lari tunggang langgang bersama pasukannya dari medan perang Hunain. Saat itu Zubair sedang berada di tengah-tengah gerombolan besar sahabat-sahabatnya bersama sisa pasukan yang kalah. Tanpa di duga ia secara tiba-tiba menyerbu rombongan itu seorang diri, dan membubarkan kesatuan mereka, kemudian menghalaunya dari tempat persembunyian yang mereka gunakan sebagai pangkalan untuk menyergap pemimpin-pemimpin Islam yang baru kembali dari arena peperangan.

Kecintaan dan penghargaan Rasul terhadap Zubair luar biasa sekali. Beliau  sangat membanggakannya,dengan mengatakann: “Setiap Nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin ‘Awwam!” Karena bukan saja ia saudara sepupunya dan suami dari asma binti Abu Bakar yang empunya dua puteri semata, tapi lebih dari itu karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang perkasa, kepemurahannya yang tidak terkira dan pengurbanan diri dan hartanya untuk Allah Robbul Alamain semata.

Sungguh, Hasan bin Tsabit telah melukiskan sifat-sifatnya ini dengan indah sekali, katanya : “Ia berdiri teguh menepati janjinya kepada nabi dan mengikuti petunjuknya. Menjadi pembelanya, sementara semua perbuatan sesuai dengan perkataannya. Ditempuhnya jalan yang telah digunakannya, tanpa hendak menyimpang sedikitpun daripadanya. Bertindak sebagai pembela kebenaran, karena kebenaran itu jalan sebaik-baiknya. Ia adalah seorang berkuda yang termasyhur, dan pahlawan yang gagah perkasa. Meraja lela di medan perang dan ditakuti di setiap arena. Dan dalam membela Islam mempunyai jasa-jasa yang tidak terkira. Betapa banyaknya marabahaya yang mengancam Rasulullah Al-Musthafa SAW. disingkirkan Zubair dengan ujung pedangnya, maka semoga Allah membalas jasa-jasanya”.

Ia seorang yang berbudi tinggi dan bersifat mulia. Keberanian dan kepemurahannya seimbang laksana dua kuda satu tarikan. Ia telah berhasil mengurus perniagaannya dengan gemilang, kekayaannya melimpah, tetapi semua itu dibelanjakannya untuk membela Islam, sehingga ia sendiri mati dalam keadaan  berhutang.

Tawakkalnya kepada Allah merupakan dasar kepemurahannya, sumber keberanian dan pengurbanannya, hingga ia rela menyerahkan nyawanya, dan diwasiatkannya kepada anaknya Abdullah untuk melunasi hutang-hutangnya. Pesannya : “Bila aku tak mampu membayar hutang, minta tolonglah kepada Maulana – induk semang kita “. Lalu ditanya anaknya Abdullah: “Maulana mana yang ayah maksudkan?” Maka jawabnya: “Yaitu Allah . . . .Induk semang dan penolong kita yang paling utama . . . .!” Kata Abdullah kemudian: Maka demi Allah, setiap aku terjatuh dalam kesukaran karena utangnya, tetap aku memohon : “Wahai Induk Semang Zubair, lunasilah utangnya, maka Allah mengabulkan permohonan itu, dan alhamdulillah hutang pun dapat dilunasi”.

Dalam perang Jamal sebagaimana telah kami utarakan dalam ceritanya yang lalu mengenai Thalhah, Zubair menemui akhir hayat dan tempat kesudahannya. Sesudah ia menyadari kebenaran dan berlepas tangan dari peperangan, terus diintai oleh golongan yang menghendaki terus berkobarnya api fitnah, lalu ia pun ditusuk oleh seorang pembunuh yang curang waktu ia sedang lengah, yaitu disaat ia sedang shalat menghadap Tuhannya.

Si pembunuh itu pergi kepada Imam Ali, dengan maksud melaporkan tindakannya terhadap Zubair, sambil menanggalkan pedang-pedang Zubair yang telah dirampasnya. Tetapi Ali berteriak demi mengetahui bahwa di muka pintu ada pembunuh Zubair yang meminta ijin masuk dan memerintahkan orang untuk mengusirnya, katanya : “Sampaikan berita kepada pembunuh putra ibu Shafiah itu, bahwa untuknya telah disediakan api neraka !”

Dan ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali oleh beberapa sahabatnya, ia mencium dan lama sekali ia menangis kemudian katanya : “Demi Allah, pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya untuk melindungi Rasulullah dari marabahaya”.

Apakah masih ada penghormatan yang lebih indah dan berharga untuk dipersembahkan kepada Zubair, dari ucapan Imam Ali ? Yaitu : “Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya! Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah!”

 

                                                          

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *