Valentine’s Day: Mitos atau Realitas?

Bulan Pebruari adalah bulan yang paling disukai oleh kaum muda, khususnya sebagian umat Islam, karena bulan ini merupakan bulan yang spesial untuk mengungkapkan segala perasaan kasih dan sayang meskipun hanya sebatas mengirim kartu ucapan kasih sayang kepada orang yang dicintainya. Realitas seperti ini yang merupakan potret Valentine’s Day (Hari Kasih Sayang) yang dipropagandakan oleh Barat untuk mempromosikan budaya mereka. Inilah skenario, menururt Baudrillard, libidinal sphere (lingkungan kapitalistik) yang menawarkan identitas dan kultur Barat untuk dijadikan sebagai budaya yang universal seperti yang digagas oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dalam deklarasinya: universal declaration of human rights  (deklarasi universal tentang hak asasi manusia).

Selain itu, hal yang paling menarik pada perayaan Valentine’s Day di dunia Barat, sebut saja Amerika, adalah terciptanya lingkungan publik yang identik dengan hura-hura, berpesta-pora, berciuman di jalan-jalan, kumpul kebo, dll. Potret kehidupan yang sangat hedonistik ini memberi nuansa baru bagi budaya dan peradaban Indonesia yang sangat santun dengan nilai-nilai luhur ketuhanan. Peristiwa ini sekaligus memberi dampak yang kurang baik bagi tatanan perikehidupan berbangsa dan bernegara yang percaya akan eksistensi Tuhan bukannya hanya kamuflase seperti di Amerika yang di semua mata uangnya, baik coin maupun bill, yang selalu bertuliskan: In God We Trust  (Kami percaya pada Tuhan) padahal tradisi agama mereka telah terkontaminasi oleh mitos.

Mitos ini telah menciptakan Hiperealitas (suatu realitas pembentukan citra yang semau gue) dengan senjatanya yang paling aktual yaitu Lifestyle (Gaya Hidup) yang berorientasi pada gaya hidup Fun (Chaney, 2004:9).  Misalnya, di kota-kota besar para pemuda, khususnya, sudah gerah mengejawantahkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan mereka; hal ini disebabkan oleh pengaruh Barat yang cukup dominan karena ia menguasai media audio-visual yang cukup representatif dengan tayangan-tayangan yang glamor. Coba lihat bagaimana para wanita yang gandrung dengan telenovela yang berpakaian sangat minim dan menawarkan budaya yang tidak segaris dengan nilai-nilai Islami.

Demikian halnya dengan Valentine’s Day  yang selalu ditayangkan dengan beberapa  infotainment dan didukung oleh aktifitas para selebriti. Inilai dunia hiperealitas yang menjadikan para selebritis sebagai panutan dan segala gerak-gerik mereka seakan menjadi “fatwa” yang harus diikuti oleh semua orang. Fakta ini sekaligus mendukung tesis O’Guinn (dalam Chaney, 2004:7) bahwa masyarakat abad ke-21 segalanya adalah mengenai selebriti. Argumen inilah yang menciptakan, menurut Piliang (2004),  cyber-community  (komunitas di luar batas rabaan kita) di abad  cyberspace  ini.

Bukti ini menunjukkan kepada kita bahwa Barat mencoba mengadakan “penjajahan kultural” kepada bangsa di dunia ketiga, khususnya umat Islam, dan negara maju untuk mengajarkan liberalisme yang berujung pada kebebasan yang tanpa batas bahkan melintasi kebenaran agama (beyond religion). Konsepsi kultural ini senada dengan yang dikatan oleh Sartre  dalam Being and Nothingness  (dalam Hassan, 1996:159): “realitas manusia itu pada dasarnya bebas dan sepenuhnya bebas.”

Bagaimanakah historisitas-mitologis Valentine’s day ini? Fenomena ini berangkat dari satu mitologi (studi tentang mitos) yang memiliki beberapa refleksi cerita tentang kasih sayang yang diyakini sebagai asal muasal Valentine’s Day.

Pertama, sejarah  Saint Valentine (Valentine yang kuat atau berkuasa) yang dihukum gantung dalam hukuman paganisme kuno di Roma yang terjadi pada 14 Pebruari 269 Masehi. Kematian ini diperingati sebagai sebuah “hari yang suci” setelah Romawi menjadi Kristen.

Kedua, cerita tentang Februata  Juno, istri dewa Jupiter yang Mahakuasa. Di sini para pemuda mulai menulis nama-nama gadis yang mereka cintai sebagai penghormatan kepada dewi Juno. Mitologi ini, akhirnya, diakomodasi oleh kaum Nasrani sebagai hari kasih sayang.

Ketiga, cerita tentang kisah kasih seorang gembala tampan, Luciano, dan seorang perempuan, Julietta. Percintaan mereka ditentang oleh orangtua perempuan itu dan keduanya berpisah dalam kurun waktu yang lama. Akhirnya, mereka dapat menyatu kembali. Proses penyatuan inilah yang menjadi dasar penghormatan terhadap dewi Amour, dewi kasih sayang.

Bagaimanakah Islam mengajarkan tentang  “sifat kasih sayang” ini? Allah SWT dalam Al-Qur’an menyebut kata ar-Rahman  (Yang Maha Pengasih) sebanyak 18 surat dan kata ar-Rahiim  (Yang Maha Penyayang) sebanyak 42 surat. Dua sifat Allah (dalam al-Asma’ul Husna) ini menjadi tonggak umat Islam untuk menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama. Kata ar-Rahman dan ar-Rahiim ini sekaligus mengajarkan umat Islam agar mau mewarisi sifat Pengasih dan Penyayang Allah dalam segala kehidupan mereka. Misalnya, salah satu dari mereka bersalah, hendaknya yang lainnya memberi maaf untuknya. Memiliki sikap selalu ingin memberi kepada orang yang membutuhkan, cinta akan nilai-nilai humanitas dan  saling mengasihi, dll.

Ini adalah cermin teologi sosial yang merupakan esensi dari agama (Islam). Pemikiran seperti ini sekaligus dijiwai oleh sabda Nabi. Suatu ketika salah seorang sahabat Rasulullah SAW bertanya kepada beliau dari segala penjuru, di mana Rasulullah duduk, dan melontarkan pertanyaan yang sama, yaitu: “Apa agama itu, ya Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Agama itu adalah perbuatan baik.” Jawaban yang sangat singkat ini sangat mengandung nilai filosofis yang tinggi. Inilah substansi Islam yang mensyaratkan umatnya untuk  saling berbuat baik yaitu saling mengasihi agar tercipta keteraturan kosmis. Bukankah Rasulullah SAW  diutus sebagai rahmat bagi alam semesta (yang meliputi semua ciptaan termasuk bangsa, ras dan corak perbedaan lainnya)?

Mengapa Rasulullah disebut sebagai  the agent of reform bagi semua ciptaan yang ada di muka bumi beserta isinya ini? Karena Rasulullah merefleksikan sifat  ar-Rahman  dan ar-Rahiim dalam bentuk memberi perhatian kepada semua umat dari agama dan ras apa pun hanya untuk menunjukkan kemuliaan ajaran Islam yang identik dengan nilai-nilai humanistik. Sekarang ini sebagian manusia terobsesi dengan  teologi sosial, teologi kerakyatan, teologi fikih, tauhid lingkungan, dll. hanya ingin menemukan “jati diri agama” yang hanya berkutat pada diskursus global yang hampir-hampir kurang memperhatikan etika dan estetika dari nilai-nilai Islam.

Sebut saja, misalnya, mereka hanya bangga bisa mengadakan seminar-seminar di lingkungan mewah (hotel berbintang) dengan komunitas yang terbatas. Mereka memperbincangkan universalisme Islam atau apa saja yang mirip dengan itu. Namun, mereka lupa bahwa ajaran Islam itu bersifat praktis bukan hanya wacana belaka yang menyebabkan kesenjangan dalam implementasi ajaran Islam yang semestinya menyatu, yaitu yang bersifat normatif  dan praktis. Penyatuan nilai-nilai Islam ini akan menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-‘aalamiin. Bahkan, kalau kita boleh menelusuri studi tentang historisitas perjuangan Rasulullah yang cukup elegan itu, kita akan mendapati filosofi perjuangan beliau yang sangat spektakuler.

Betapa tidak. Beliau berani mengatakan: “Tidak”  (dalam kalimat syahadat) diantara komunitas yang multitheis pada waktu itu. Mengapa Rasulullah berani mendeklarasikan kalimat itu? Apa karena dibela oleh pamannya, Abi Thalib dan Hamzah atau lainnya? Tentu saja tidak. Keberanian Rasulullah ini karena didasari oleh sifat ar-Rahman dan ar-Rahiim  yang ada dalam diri beliau sehingga beliau tidak rela manusia menempuh jalan yang sesat (politheis).

Nilai spiritualitas seperti ini sekaligus memberi gambaran yang jelas betapa Islam itu sangat menganjurkan untuk bersikap saling sayang-menyayangi dalam batas-batas yang telah ditentukan. Begitu besar arti kasih sayang ini dalam Islam karena akan mampu menciptakan tatanan dunia yang harmonis. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.”  (Bukhari dan Muslim) Aktifitas kasih sayang ini dilakukan oleh umat Islam dalam setiap detik, menit, jam, bulan dan tahun bukannya diperingati hanya pada satu kurun waktu  tertentu seperti Valentine’s Day.

baca juga: Rumahku Surgaku

baca juga: Inilah 4 Kriteria Masyarakat Madani

baca juga: Memahami Makna Ikhtilaf (Perbedaan Pendapat)

 

Dalam surat Al-Baqarah, ayat :163  Allah berfirman: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pengakuan akan eksistensi Tuhan ini dan refleksi atas sifat-sifat-Nya dalam praktik sosial umat Islam ini seharusnya diinternalisasikan dalam segala perikehidupan sehingga tidak ada perilaku yang dilakukan tanpa didasari oleh perasaan kasih dan sayang. Ini adalah dasar hukum yang sangat kuat dan bijak sehingga umat Islam tidak perlu mencontoh tradisi Barat yang banyak berangkat dari mitologi yang tidak jelas dasar hukumnya.

Adapun implementasi rasa kasih sayang yang sering dilakukan oleh umat Islam adalah memberi salam jika mereka bertemu, umat Islam selalu mendoakan sesama muslim dengan penuh kasih-sayang yang bunyinya: “Ya, Allah. Menangkanlah Islam dan kaum muslimin,”  menjenguk orang sakit, memberi sedekah kepada orang yang tidak mampu atau fakir miskin, dll. Aktifitas teologi sosial  yang selalu dipraktekkan umat Islam yang taat ini dan menjadi teladan bagi penyebaran rasa kasih sayang. Bahkan umat Islam sendiri tidak harus percaya pada mitologi Romawi itu karena ajaran agama mereka berangkat dari Tuhan dan berakhir hanya kepada Tuhan yaitu Tuhan semesta alam (Allah  SWT).

Sedangkan dalam redaksi Al-Qur’an yang lain, dalam surat Al-Furqaan :26, Allah berfirman: Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Allah Yang Maha Pemurah; dan adalah suatu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Hal ini menunjukkan fenomena yang sangat luar biasa akan terjadi dan orang-orang yang menebarkan rasa kasih dan sayang (antar umat Islam) akan merasa nyaman dalam kerajaan Allah dan mereka yang ingkar terhadap peringatan Allah akan memperoleh kesulitan yang sangat pedih. Ayat ini memberi peringatan kepada kita bahwa hanya orang yang memiliki rasa kasih dan sayang dan mempraktekkannya dalam segala kehidupan mereka yang akan selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Melihat realitas di atas nampaknya umat Islam tidak perlu ikut-ikutan merayakan satu tradisi yang mana tradisi tersebut tidak kita kenal sama sekali. Oleh sebab itu, umat Islam perlu kembali kepada “ruh Islam” yang menjadi satu ideologi komunal. Umat Islam bisa mempromosikan simbol-simbol keislaman yang menjadi identitas umat Islam. Mereka terkadang malu menerapkan atribut-atribut umat Islam karena tidak dianggap modern atau ketinggalan zaman. Sebut saja, misalnya, cara berpakaian mereka dan lifestyle mereka yang sarat dengan budaya Barat yang penuh dengan keglamoran. Mereka lupa bahwa  esensi ajaran Islam itu adalah cinta kesederhanaan (zuhud dan Qonaah) dan perilaku yang mulia seperti  sabda Rasulullah: “Setiap tindakan adalah ibadah.”

Jadi, tindakan yang didasari oleh nilai-nilai spiritualitas inilah yang seharusnya mereka kerjakan bukannya ikut-ikutan tradisi Barat yang tidak jelas nilai “filosofi-spiritualnya.” Akhirnya, marilah kita renungkan bersama dan sekaligus kita kembali kepada tradisi-tradisi Islam yang jauh lebih luhur daripada peradaban Barat yang hanya bersifat sesaat belaka. Semoga umat Islam yang “tersesat” dalam pesta  Valentine’s Day akan segera sadar dan berada pada ruang publik yang menyenangkan seperti  yang dikatakan oleh Kiekergaard (dalam Camus, 1999:47): “Dalam kegagalannya, orang beriman menemukan kemenangnanya.”  Aamiin ya rabb al-‘aalamiin.

 

AGUS HARIANTO

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *