Sudah Benarkah Shalat Kita?

 

Sobat muda, masih dalam spirit ingin menjadi pewaris garis perjuangan Rasulullah, kali ini kita akan ngebahas bagaimana sih kualitas ibadah kita? Terutama how about our shalat? Kita semua yakin bahwa kamu udah ngelaksanain shalat. Masalahnya udah lengkap nggak shalatnya. Kalo udah lengkap lima waktu, udah punya sayap nggak shalatnya (masih ingat pembahasan syabab edisi April khan?). Kalo udah punya sayap, biar shalat kamu menjadi lebih bermakna maka mari kita melakukan inner journey shalat.

Sobat muda, jangan diterusin baca bahasan kali ini kalo kamu belum siap untuk jujur pada diri sendiri dan tidak siap untuk berubah memiliki shalat dengan kualitas lebih baik.

Ikhwan muslim, betul nggak bahwa selama ini kita shalat hanya karena kewajiban. Itupun masih sering curi-curi mata dengan ortu. Ternyata kita shalat masih bukan karena Allah. Tapi karena takut ada guru, malu pada teman, takut pada ortu, karena wajib jamaah dluhur di masjid sekolah, dan lain sebagainya. Jika semua tidak ada, apa ada jaminan kamu masih shalat. Bisa dikatakan seandainya ada pengumuman bahwa shalat sudah tidak lagi diwajibkan, pasti kamu orang yang paling pertama bahagia. Karena terbebas dari kewajiban yang harus dilaksanakan lima kali sehari. Jangan-jangan sampai kamu baca tulisan ini shalat belum lengkap lima waktu, apalagi punya sayap.

Kalo kamu mati-matian nyari cara gimana caranya bisa lulus UN (ujian nasional), harus adil dunk, cari juga cara and strategi gimana caranya kualitas shalat kamu meningkat. And sebenernya, justru shalat itu yang harus pertama kamu benahin. Allah berfirman, fasta’inu bi shobri wa shalat, minta tolonglah dengan shalat dan bersabar. Gimana bisa sukses apa yang kamu harapkan jika shalat kamu belum beres, ditambah nggak sabar lagi? Tapi ada kok yang sukses tanpa shalat. Awas yang entu namanya istidroj dari Allah. Tampaknya aja berupa nikmat tapi aslinya itu adalah ujian bahkan adzab. Karena sebenernya dibalik “nikmat” tersembunyi murka Allah. Dengan kata lain Allah mengangkat kemuliaan orang itu di dunia saja, tapi di akhirat dia menjadi yang paling menderita. Nah lho? Mau?

Sobat, siapakah yang butuh dengan shalat kita? Allah kah? Tidak, sama sekali tidak. Kita sendiri yang butuh dengan shalat kita. Allah sama sekali tidak butuh dengan shalat kita. Bahkan seandainya seluruh dunia tidak ada yang shalat, Allah tidak akan turun kemuliaanNya. Dan meski seluruh dunia shalat, Allah tidak bertambah kemulianNya. Kitalah yang butuh dengan shalat kita. Karena kita yang butuh dengan shalat kita, maka selayaknya kita siapkan diri dalam menjalankan shalat. Sejak dari wudlu, hati harus senantiasa tertuju bahwa kita tengah berjalan menuju Allah.

 

Belajar Dari Kisah

Sering denger cerita? Pastinya. Tapi apa setiap kisah bisa kamu dapatkan hikmah di dalamnya. Kalo belum, kita punya beberapa kisah yang semoga saja bisa ngebantu kamu bisa meningkatkan kualitas shalat.

Kisah pertama, apabila Abdullah bin al-Zubair sudah mendirikan shalat, maka seakan-akan dia adalah sebatang pohon, karena khusyu’nya. Saat dia sujud, lalu ada beberapa ekor burung yang hinggap di punggungnya, maka hal tidak membuatnya terusik. Yang bisa mengusiknya ialah jika dia ditimpa runtuhan dinding. Suatu hari dia shalat dekat al-Hijir. Tak lama kemudian Qudzafah datang ke tempat itu dan mengambil sebagian kainnya. Tapi sepertinya Abdullah bin al-Zubair tidak mengetahuinya.

Kisah kedua, Maimun bin Mahran berkata, “Sekalipun aku tidak pernah melihat Muslim bin Yassar menoleh saat mendirikan shalat. Suatu kali sebagian bangunan masjid ada yang roboh, sehingga orang-orang yang berada di pasar menjadi kaget karenanya. Sementara itu pula Muslim bin Yassar berada di dalam masjid mendirikan shalat. Tapi dia sama sekali tidak menoleh.

Kisah ketiga, jika sedang wudhu’, rupa Ali bin Hasan berubah menjadi kekuning-kuningan. Ketika ada yang bertanya, “Mengapa hal ini menjadi kebiasaan yang terjadi pada dirimu saat engkau berwudhu’?” Dia menjawab, “Tahukah kalian, di hadapan siapakah aku hendak mendirikan shalat?” Bagaimana dengan kualitas wudlumu. Sudahkah hakikat wudlu telah kamu dapatkan?

 

Siapkan Sejak Awal

Sobat, ketauhilah bahwa ketika engkau berkumur maka keluarlah dosa-dosa dari mulutmu. Ketika membersihkan hidung, keluarlah dosa-dosa dari hidung. Ketika membasuh muka, keluarlah dosa-dosa dari wajah sampai pinggir kelopak matamu. Ketika membasuh tangan, dosa-dosa keluar dari tangan sampai balik kuku. Ketika engkau mengusap kepala, dosa-dosamu keluar dari kepalamu bahkan dari kedua telingamu. Ketika membasuh kaki, keluar pula dosa-dosamu dari kaki sampai sela-sela kuku jari. Kemudian perjalanannya ke masjid dan shalatnya menjadi pahala baginya. Subhanallah, kini engkau sudah siap menghadap sang khaliq. Siap?

Para ulama mengatakan: ”kalau saudara sudah berdiri di atas sajadah, sudah mengangkat tangan untuk takbir ketahuilah bahwa saudara sudah meninggalkan bumi ini. Sudah meninggalkan Indonesia. Sudah meninggalkan planet bumi ini. Saudara sudah mi’raj (naik) menghadap Allah SWT. Seperti Rasulullah SAW ketika Mi’raj, Anda berada di Sidratul Muntaha.” Tidak ada yang berhak mengusik kemesraanmu bersama Allah dalam shalat.

Tapi ingatlah bahwa Shalat bukanlah tanda bahwa seseorang yang melakukannya dapat disebut sebagai mukmin, tetapi ia merupakan tanda bahwa yang melakukannya adalah seorang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah shalat ditambah dengan syarat yang lainnya. Syarat ini lebih pada pemenuhan keadaan batin demi kesempurnaan shalat itu sendiri.

Ada beberapa cara yang bisa kamu terapkan supaya shalat kamu lebih baik.

Pertama, usahakan sebelum shalat jangan ngelakukan hal atau kegiatan yang bisa merusak mekhusyukan shalat. Misalnya, dengerin musik, nonton TV, ngobrol nggak jelas isinya, kongkow-kongkow di pos kamling, pokoknya kamu lebih tahu deh. Kalo perlu kondisikan dirimu agar lebih khusyu’. Itulah sebabnya kenapa di masjid atau musholla, setelah azan dibacakan puji-pujian atau sholawat, selain untuk menunggu jamaah kumpul juga untuk “menyiapkan” batin para jamaah.

Kedua, pahami makna bacaan-bacaan dalam shalat. Sejak dari takbir hingga salam, kamu harus bener-bener paham artinya. Gimana bisa mendalami setiap bacaan dan gerakan shalat, bila kamu nggak ngerti maksudnya. Nah, ketahuan khan?

Ketiga, kondisikan suasana agar bisa mendukung kekhusyukan shalat. Suatu kali Rasulullah pernah memerintahkan mencabut sebuah kayu yang ada dihadapan beliau ketika beliau hendak melaksanakan shalat. Hal ini dilakukan karena beliau merasa terganggu dengan kayu yang ada di depannya.

Keempat, ketika kamu akan shalat, ucapkan dalam hati kalimat berikut ini, “Ya Allah, mungkin ini shalat terakhir saya, karenanya bantu saya untuk lebih khusyuk ya Allah. Saya ingin inilah ibadah terbaik yang akan saya persembahkan untukMu ya Allah.”

Selanjutnya kamu bisa mencari cara-cara lain yang bisa meningkakan kualitas shalat kita. Kalo udah ketemu dan terbukti manjur, nggak ada salahnya kamu sebarkan ke temen-temen. Khan ada SMS gratis, blog, facebook, e-mail dan lain sebagainya? (Apa hubungannya).

Di samping adanya tuntutan terus untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang terdapat shalat dalam kehidupan sehari-hari. Sobat muda, setiap gerakan dalam shalat mengandung ajaran-ajaran yang bisa kamu terapin dalam kehidupan sehari-hari. Semisal, ketika kamu sujud, kamu baca doa subhana robbi al-A’la wa bi hamdihi, Maha Suci Allah, Rabb yang Maha Luhur dan Segala Puji bagi Allah. Ketika kamu sujud kepala dan kakimu sejajar sama rendahnya. Ini menandakan bahwa dihadapan Allah tidak ada yang patut dibanggakan. Sebagai manusia yang penuh kekurangan dan dosa, tidak patut kita menyombongkan diri di hadapan makhluk lain. Allah-lah yang Maha Tinggi Maha Suci. Karenanya setiap habis shalat, kamu berjanji untuk lebih menghormati orang lain, tidak sombong, riya’ dan ujub. Sadar bahwa kita manusia yang sangat jauh dai kesempurnaan ibadah. Woi……keren nggak tuh…!

Dengan demikian, nggak berlebihan kalo kita husnudzan (berbaik sangka kepada Allah) bahwa shalat kita udah pasti diterima. Tanda-tanda shalat seseorang diterima Allah diantaranya adalah mampu mengendalikan dirinya dari hawa nafsunya.

Tanda-tanda yang lain ialah membiasakan hatinya takut kepada Allah. “Dia tidak sombong kepada makhluk Allah. Memberi makan kepada orang yang lapar. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang. Menyayangi orang yang terkena musibah. Dia memberi perlindungan kepada orang yang terasing. Tidak akan mengulangi lagi maksiatnya kepada Allah SWT. Selalu menyayangi orang-orang miskin.

Ehm, sekian dulu, berjanjilah sobat bahwa kamu akan senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kita terutama shalat. Karena Baginda Rasulullah pernah bersabda, “Perkara yang pertama kali akan dihisab bagi seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik maka dinilai baik seluruh amalnya. Jika rusak amalnya, maka dinilai rusak seluruh amalnya.”

Terserah kamu mau pilih barisan yang mana. Wallahu a’lam. Muhammad Nawawi

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *