Sejarah Rabithah Alawiyah dan Darul Aitam

jamiat

Imam Ali bin Thalib ra., termasuk salah satu sahabat Nabi yang sangat mencintai anak-anak, terlebih anak-anak yatim. Bahkan, di seluruh kota, Imam Ali dikenal sebagai “bapaknya anak-anak yatim” sekota itu. Sebaliknya, setiap anak yatim menganggap Imam Ali sebagai ayah mereka.” Yayasan Daarul Aitam berusaha meneladani Nabi dan para sahabatnya dalam mendidik anak-anak yatim secara profesional sebagaimana berikut ini :

 

Pada tanggal 12 Agustus 1931 (27 Rabi`ul Awwal 1350 H), Sayid Abu Bakar bin Muhammad Al Habsyi bersama 12 orang mendirikan Yayasan Al Rabithah Al `Alawiyah Daarul Aitam. Berdasarkan akte notaris Dirk Johannes Michiel de Hondt No 40, modal dasar yayasan ditetapkan sebesar  1.860 Gulden. Pengurus yayasan terdiri dari 12 orang dan 16 komisaris. Modal dasar tersebut merupakan sumbangan dari para pendiri.

Seiring perjalanan waktu, modal yang dimiliki yayasan Daarul Aitam (DA) juga terus bertambah. Berkat sumbangan dari berbagai pihak, akhirnya modal yayasan yang terkumpul mencapai 3.500 Gulden.

 

Mengawali Perjuangan

Pada awal 1932, pengurus yayasan DA telah memulai kegiatannya. Lazimnya organisasi baru, pengurus pun berusaha menyebarkan informasi tentang yayasan ke berbagai daerah. Selain itu, pengurus juga merintis pembangunan gedung bagi kegiatan operasional yayasan. Hasilnya, di tahun yang sama berdirilah bangunan seluas 24×7,5 m2 di atas persil jalan karet No 47 tanah Abang, Jakarta. Bangunan itu lantas dipakai untuk menampung anak-anak yatim. Syarifah Qomar, 8 tahun, seorang anak perempuan kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat sebagai anak asuh pertama. Ia diserahkan oleh perkumpulan Al Rabithah Al `Alawiyah kepada Yayasan DA setelah sebelumnya ditangkap oleh pihak kolonial Belanda hanya karena dituduh mencuri kue. Atas inisiatif Sayid Alwi bin Thahir Al Haddad, pengurus DA bertekad untuk membebaskan si gadis cilik tersebut. Sebab, kuatir gadis cilik ini akan diambil oleh misionaris Kristen.

Sampai awal tahun 1937 yayasan DA telah mengasuh anak yatim sebanyak 22 orang. Mereka berasal dari Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Solo dan kota-kota lain di Indonesia. Untuk mengembangkan pendidikannya, bagi anak-anak yang telah melewati usia 6 tahun dimasukkan ke madrasah Jamiatul Kheir. Seiring dengan kemajuan yayasan, pada tahun 1938 pengurus kembali membangun gedung berukuran 22×7,5 m2 yang diperuntukkan bagi anak asuh putra.

Datangnya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942 sempat membuat kondisi keuangan memburuk. Namun, hal itu tak menyurutkan langkah pengurus untuk menjadikan kegiatan panti dengan baik. Melalui berbagai kegiatan, pengurus berusaha mencari sumber pendanaan baru. Misalnya, membuat sejumlah kerajinan tangan bekerjasama dengan anak asuh. Produk seperti sandal, sepatu dan sejenisnya itu selanjutnya dijual di pasar tanah Abang.

Lambat laun, kondisi keuangan DA terus membaik. Bahkan antara tahun 1945 sampai 1955, yayasan mendapat tambahan sumbangan wakaf berupa tanah dan rumah. Masing-masing dari Sayid Syekh bin Shahab (berupa rumah di jalan Karet 18), Syarifah Aisoen binti Muhammad bin Salim Aidit (satu rumah di jalan Kebon Jahe), Sayid Abu Bakar bin Abdurrahman Al Junaid (dua rumah di jalan Petojo selatan Gg IV/2 dan no 11), serta Sayid Abdullah bin Idrus Alatas (rumah di jalan Kramat Lontar).

Bertambahnya aset yayasan tadi, rupanya, juga diikuti dengan meningkatnya problematika yang harus dihadapi yayasan DA. Misalnya, jumlah anak asuh yang terus membengkak. Sampai tahun 1966, jumlah anak asuh telah mencapai 90 anak. Selanjutnya, pada tangal 21 januari 1973 dibentuk DA Jakarta.

Di pihak lain, secara organisatoris, kedudukan cabang Jakarta di bawah kendali DA pusat. Namun, pengurus cabang mendapat porsi wewenang dan tanggung jawab cukup besar. Mereka diberi kewajiban untuk mengelola seluruh bangunan dalam komplek DA yang terletak di jalan KH. Mas Mansur no. 47 Jakarta.

Akan tetapi, dalam musyawarah kerja (MUSKER) II tangal 9 dan 10 juni 1987, DA cabang Jakarta dibekukan karena beberapa persoalan yang membelit. Selanjutnya, yayasan DA memutuskan kembali ke khittah 1931 yang itu berarti, di Jakarta hanya ada satu kepengurusan yaitu, pengurus pusat yaysan DA.

 

Darul Aitam untuk Semua Kalangan

Menurut Ir. Ali Abu Bakar Shahab, ketua yayasan DA, ketika beroperasi 1931, keberadaan yayasan DA hanya diperuntukkan bagi keluarga `Alawiyah (keturunan Sayidina Ali). Kenapa hal itu bisa terjadi? Tidak lain, karena pemerintah Belanda tak ingin melihat umat Islam bersatu. Namun, begitu fajar kemerdekaan menyinari bumi pertiwi, eksistensi yayasan dikembalikan fungsinya secara utuh dengan melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan suku maupun ras.

Adapun sasaran dan tujuan panti asuhan DA adalah :

 

  • Mempersiapkan anak asuh menjadi berdaya guna dan sadar akan tangung jawab sebagai bagian masyarakat.
  • Mengembangkan potensi anak asuh, sehingga mereka dapat melakukan fungsi sosialnya dengan baik.
  • Menghindarkan jurang pemisah dalam pergaulan antara warga panti dan masyarakat sekelilingnya.
  • Menciptakan suasana kekeluargaan.
  • Menyalurkan warga panti ke berbagai lapangan kerja sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimilikinya.
  • Memberikan binaan lanjutan dalam batas waktu tertentu kepada mereka yang telah kembali dalam masyarakat.

 

Guna mencapai sasaran dan tujuan tadi, panti asuhan DA memberikan pendidikan formal  maupun non formal kepada seluruh anak asuhnya. Pendidikan formal berupa wajib belajar kepada setiap anak asuh melalui sekolah umum ataupun sekolah kejuruan. Bagi anak asuh yang dinilai memiliki keunggulan dan prestasi, kepadanya diberi kesempatan untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. “Biayanya akan ditanggung oleh panti,” kata Ir. Ali Abu Bakar Shahab.

Untuk mewujudkan prestasi anak asuh, pihak yayasan senantiasa berdiri sebagai fasilitator yang baik  dengan melakukan monitoring dan pendampingan anak asuh. Selain itu, pihak yayasan juga menyediakan sejumlah perangkat komputer dan perpustakaan yang bisa menunjang prestasi anak asuh dengan lebih maksimal. Ruang perpustakaan yang berukuran 4×11 m itu dilengkapi dengan fasilitas AC, 5 buah meja, 18 kursi dan 4 rak buku serta 2 buah lemari kaca besar. Hingga saat ini, jumlah koleksi perpustakaan sudah mencapai 2500 buku dengan beragam materi, mulai cerita anak-anak, remaja, hingga tentang sejarah Islam.

Sementara itu, untuk pendidikan non formal cukup beragam. Ada yang berupa latihan kerja atau kegiatan lain yang bersifat ekonomis-produktif. Latihan ini diberikan terutama bagi mereka yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Di luar itu, seluruh anggota panti diberi keleluasaan untuk mengembangkan bakatnya, baik di bidang kesenian ataupun olehraga. Juga yang tidak dilupakan adalah pendidikan agama. Pihak panti membekali anak asuhnya dengan ilmu-ilmu agama agar kelak ketika mereka kembali ke masyarakat, ilmu agama yang diperolehnya selama tinggal di panti selalu menjadi pegangan hidup yang abadi sehingga anak asuh itu bisa bermanfaat, bagi dirinya pribadi serta masyarakat lingkungannya.

baca juga: Profil Universitas al-Ahgaff Hadhramaut Yaman

baca juga: Darul Musthafa Tarim, Citranya Seharum Namanya

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

 

Hijrah ke Lokasi Baru

Tepat di ulang tahunnya yang ke-75, tanggal 12 Agustus 2006, panti asuhan DA pindah ke lokasi baru yang berada di jalan Kahfi I Jagakarsa Jakarta selatan. Ada sejumlah pertimbangan yang membuat pengurus mengambil kebijakan itu. Pertama, di lokasi saat ini yaitu Jln. KH. Mas Mansur no. 47 Jakarta, suasananya dinilai sudah tidak kondusif lagi. Banyaknya pusat perbelanjaan baru menjadikan wilayah tanah Abang ini semakin bising dan sesak dengan aktivitas perekonomian.

Kedua, munculnya pusat-pusat ekonomi di sekitar, ikut mendorong munculnya aktivitas sampingan. Mulai kemacetan yang semakin menjadi hingga banyaknya tindak kriminalitas. Tak hanya preman yang sering melakukan pemalakan, para pengedar narkoba pun kini sudah merangsek masuk ke sekolah-sekolah padahal anak asuh menghabiskan waktu sekolahnya di luar area panti. Sehingga, walaupun pihak panti tetap melakukan monitoring dan pengawasan ketat, ancaman terhadap anak asuh tetap tak bisa dihindari.

Sejalan dengan itu, anak asuh memang harus mendapatkan tempat yang nyaman dan tenang sehingga proses belajar-mengajar yang berlangsung tidak terganggu dengan lingkungan. Di samping itu, semakin buruknya sanitasi di sekitar panti membuat wabah penyakit mudah menular. Sedangkan lokasi baru di Jagakrasa relatif lebih nyaman, sehat, dan masih hijau. Di lokasi baru ini, semua fasilitas sekolah tersedia mulai SD-SMP-SMU, termasuk di dalamnya madrasah. Yang lebih menggembirakan, masyarakat di sekitar sangat menjunjung nilai-nilai Islam yang kelak bisa menjadi patner yang harmonis dengan panti untuk mendidik dan membesarkan anak-anak yatim.

Dengan ‘hijrah’, pengurus berharap panti asuhan benar-benar dijalankan dengan penuh amanah dan profesional. Hanya dengan itulah, keberlangsungan panti akan semakin dirasakan. Tidak hanya oleh masyarakat sekitar, tapi lebih luas lagi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Semoga !

 

dapatkan buku: Terjemah Sullamut Taufiq

dapatkan buku: Fiqih & Tasawuf Wanita Muslimah

dapatkan buku: Terjemah Safinatun Najah

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *