Sejarah Masuknya Islam Di Aceh

aceh

Pada abad ke tiga Hijriah atau ke sembilan Masehi, berdirilah kerajaan Islam  pertama Perlak dibumi Nusantara ini, begitulah banyak diceritakan  dalam  buku-buku sejarah Islam.

Pada tahun 173 H. sebuah kapal layar telah belabuh di Bandar Perlak, membawa angkatan dakwah dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah, yang datang dari teluk Kambay Gujarat pada tanggal 1 Muharram 225 H. dan menurut banyak keterangan dan diduga oleh Prof. A. Hasjmy, nahkoda Khalifah tersebut berasal dari keturunan Bani Khalifah di Jazirah Arab   (Drg.H. Muhammad Syamsu As,Ulama Pembawa Islam Di Indonesia, h.  10).

Angkatan dakwah yang dipimpin Nahkoda Khalifah berjumlah seratus orang, yang terdiri dari orang Arab, orang Persia, dan orang India. Mereka ini menyiarkan Islam pada penduduk setempat dan keluarga istana. Salah seorang dari padanya adalah Sayid Ali dari suku Qurays yang kawin dengan  sorang putri  yaitu Makhdum Tansyuri, salah seorang adik dari Maurah Perlak yang bernama Syahir Nuwi. Dari perkawinan ini lahirlah Sayid Abdul Aziz, putra campuran Arab-Perlak, yang kemudian setelah dewasa pada tahun 225 H. dilantik menjadi Raja  dari kerajaan Islam Perlak yang pertama.

Syahir Nuwi yang menjadi Maurah Perlak itu adalah anak dari Pangeran Salman yang telah memeluk agama Islam. Jikalau kedatangan angkatan dakwah ini pada tahun 173 H.,sedangkan Pangeran Salman sebagai seorang Muslim datang di Perlak 50 tahun sebelumnya, maka dapat diduga bahwa Islam Masuk di Aceh pada awal abad kedua hijriah atau akhir abad pertama Hijriah.

Sayid Abdul Aziz ini kawin dengan anak pamannya Syahir Nuwi yang pertama Makdum Khadewi. Dan ibukota negeri Perlak yaitu bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.

Marcopolo menerangkan, “Perlu diketahui bahwa Perlak selalu disinggahi saudagar Arab sebab di Kerajaan Perlak ini mereka telah meng-Islam-kan  penduduknya.”

Abu Hasan M.A. pada makalahnya menulis, Abdullah Arif datang dari Mekkah pada masa pemerintahan Maharaja Nurdin (Meurah Nui) tahun 1155 – 1210 M. Ulama-ulama lain yang hidup di zaman Meurah Nui adalah, Qaidul Mujahidin Maulana Naima al  Malabary, yang mangkat pada tahun 1226 M., Maulana Quthub Ulma’aly Abdurrahman Al Pasy, yang mangkat pada tahun 1213 M., Tengku Ja’kub Blang Peuria, yang mangkat pada tahun 1233 M.

Jikalau kita memperhatikan tulisan pengarang Barat tentang kapan Islam masuk di Aceh /Sumatera. Maka dapatlah ditulis disini makalah tuanku Abdul Jalil yang memnerikan prasaran pada seminar “Masuknya Dan Berkembangnya Islam Di Indonesia” yang diselenggarakan pada tahun 1980 di Rantau Kuala Simpang.

Kontak perdaganagan sutera antara Arab dan Canton sebelum Islam (600 Masehi), dan ini melalui Selat Malaka, demikianlah makala Tuanku Jalil yang mengutip tulisan dari Harry U. Hazard dalam bukunya Atlas of Islamic History (Princeton University Press, 1954, page 42) yang artinya dalam bahasa Indonesia :

Kontak antara orang Islam dan Cina dimulai pada permulaan sekali sebelum Islam, maka itu legenda tentang kunjungan paman Nabi Muhammad pada kerajaan Cina ini di tahun 620 Masehi adalah diragukan. Perdangangan orang Arab tentang sutera dilakukan sebelum 600 Masehi dan Islam datang membuat koloni di Canton berasal dari jalur pelayaran dan jika jalur kafila itu melalui daratan. Kira-kira pada tahun 650 M. Maharaja  Kou Tsung dari dinasti T’ang setelah dinasti Sasanid dan Byzantine melaporkan bahwa sesuatu kekuatan militer baru yang telah mengontrol perjalanan perdangangan, telah mengirimkan suatu perutusan ke Madinah, dan utusan balasan dari Saidina Ustman dalam tahun 713 M. dan 726 M. suatu golongan Zaydite yang pro Saidina Ali, mengungsi dari Kerajaan Bani Umamayah karena dikejar-kejar, telah bermukim di Cina sebelum tahun 750 M.

Kaum Muslimin pertama kali mengunjungi Indonesia diduga pada abad ke 7 Masehi. Pedagang Arab yang telah berdiam di Sumatera dan ini dalam perjalanan ke Cina. Pengikut-pengikut mereka adalah pedagang–pedagang dari Gujarat yang turut mengambil bagian dalam perdagangan lada, dan menjelang tahun 1100 Masehi mereka telah mewujudkan kombinasi keunikan perdaganagan dan agama yang merupakan gaya penyebaran Islam di Indonesia.

baca juga: Tanda Kewalian Syekh Abu Yazid al-Busthami di Masa Kecil

baca juga: Kisah Karomah dan Dakwah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Di Negeri Permata

baca juga: Ketika Nabi Idris Berjumpa Dengan Setan dan Malaikat Maut

Sejarah pergolakan di Aceh

             Tanah Aceh sepanjang Selat Malaka memilki sejarah perjuangan Islam. Syiarnya dimulai sejak akhir abad kedua Hijriyah. Setengah abad setelah dakwah meluas ke seantero pesisir mulailah muncul keinginan mendirikan negara (kerajaan). Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah secara berani memproklamirkan kerajaan Islam Peureulak (perlak) pada Selasa, 1 Muharram 225 H.

Beberapa tahun kemudian muncul beberapa karajaan Islam lainnya seperti kerajaan Islam Samudera Pase dan kerajaan Aceh Darussalamah yang terus berjaya hingga datangnya kolonial Belanda.

Ketegangan memuncak saat kerajaan Belanda mengultimatum Sultan agar menyerahkan kekuasaannya melalui surat resmi tertanggal 26 Maret 1837. Tak ada pilihan kecuali melakukan perang fi sabilillah yang digelorakan Sultan. Perang di jalan Allah itu berlangsung selama 70 tahun.

Perlengkapan dan persenjataan perang Belanda tak sebanding dengan kerajaan Aceh Darussalam. Akibatnya, ibukota kerajaan, Banda Aceh, dikepung dan dikuasai. Diatas kelemahan kerajaan Aceh tersebut Gubernur Jenderal Van Swieten mengubah nama ibukota Banda Aceh menjadi Kutaradja. Ini dimaksudkan sebagai langkah awal penghapusan dan penghancuran kegemilangan kerajaan Aceh.

Usaha pemerintah Hindia Belanda untuk mengusai tanah rencong ini secara penuh tak pernah berhasil. Pertempuran demi pertempuran, baik secara sporadis maupun gerilya oleh pejuang Aceh terus terjadi. Hingga ketika Soekarno –Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia,17 Agustus 1945, para pejuang Aceh menyatakan dukungan dan bersatu dengan NKRI.

Hanya saja, perjuangan tokoh-tokoh Aceh seperti Daud Beureueh, Hasan Aly, Husin Jusuf dan Amir Husin yang pro Islam pasca kemerdekaan kecewa. Sebab Soekarno dinilai tidak memberikan tempat bagi cita-cita darul Islam. Bahkan janji Soekarno untuk memberikan otonomi khusus bagi Aceh tidak dipenuhi. Perbedaan sikap mereka dengan Soekarno yang nasionalis tak bisa disatukan hingga terjadi pergesekan dan berujung pada upaya pemisahan diri menuju negara Islam Aceh Darussalam.

Situasi memuncak pada paruh 1950-an. Ketika itu, tokoh-tokoh Aceh diincar untuk ditangkap. Namun rahasia penangkapan itu bocor hingga tokoh-tokoh itu memutuskan menyelamatkan diri ke gunung-gunung pada 19 september 1953. Sejak saat itu Daud Beureueh mengumumkan proklamasi, menyatakan Aceh dan daerah-daerah sekitarnya menjadi bagian dari Negar Islam Indonesia(NII) yang dipimpin S.M Kartosoewirjo.

Daud beralasan bahwa para pemimpin Republik “musyrikin” di Jakarta telah menyimpang dari jalan yang benar. Republik Indonesia Komunis (RIK) –ia menyebutnya demikian – katanya tidak berkembang menjadi sutau negara yang berdasarkan Islam sebagimana terkandung dalam prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Soekarno, menurutnya lebih membesarkan nasionalisme Indonesia.

Dukungan Daud atas perjuangan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang telah digulirkan Kartosoewirjo sejak 1949 kian memudahkan alasan Soekarno memberangus perjuangan mereka. Sementara itu, pasukan TNI dikerahkan ke daerah-daerah sentra DI/TII, khusunya Jawa Barat tempat Kartosoewirjo mengendalikan DI/TII. Dan nyaris kekuatan DI/TII melemah, termasuk pasukan pimpinan Daud, setelah tetangkapnya Kartosoewirjo, 4 Juni 1962, melaui pengepungan total di markasnya. Daud sendiri juga berhasil ditangkap pasukan TNI. Sejak itu Aceh  dikendalikan pemerintah pusat hingga masa Orde Baru pimpinan Soeharto.

Hanya selang sepuluh tahun  pemerintahan Soeharto, benih-benih hasutan tentang ketidakadilan “Jawa” terhadap nasib rakyat Aceh berhembus kencang. Tengku Hasan Muhammad Ditiro, pemimpin gerakan National Liberation Front Of Aceh, memanfaatkan sejarah perlawanan rakyat Aceh untuk mengambil hati mereka atas ketidak adilan pemerintah Jakarta.

Setelah Hasan Tiro merasa cukup banyak pengikutnya, pada tanggal 4 Desember 1976 dia mendeklarasikan kemerdekaan Aceh –Sumatera. Dalam kalimat pembuka deklarasinya yang disebarkan ke berbagai pemerintahan di dunia, Hasan Tiro menegaskan; “We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self determination, and protecting our historic right of emininent domain to our fatherland, dohereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java.” 

             Setelah deklarasi tesebut Rezim Suharto memerintahkan aparat untuk menangkap Hasan Tiro dan kelompoknya.  Namun Hasan Tiro selalu bisa lolos dari kejaran, bahkan  Pidie, tempat dia mendeklarasikan kemerdekaan Aceh, dijadikan sebagai basis National Liberation Front of Acheh yang gerakannya kemudian dikenal sbagai Free Acheh Movement atau Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sesuai nama gerakannya, Hasan Tiro tak mendasarkan gerakannya pada Visi dan misi Islam sebagaimana Daud Beureueh. Dia sama sekali tidak mencita-citakan penerapan syariat Islam diserambi Mekkah itu. Bahkan mereka menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya itu, seperti merampok, memeras, menanam dan menjual ganja,membakar sekolah dan hal-hal lain yang dilarang oleh Islam. Cita-cita menerapkan syari’at Islam tentunya tidak akan menggunakan cara-cara yang justru bertentangan dengan cita-cita tersebut. (dari berbagai sumber)

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

dapatkan buku: Kunci Penarik Rezeki

dapatkan buku: Doa Dan Wirid Harian Khulasoh Madad Nabawiy (plus terjemah)

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *