Sebab-Sebab Runtuhnya Peradaban Islam

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. Al-Baqarah: 218)

 

Empat belas abad silam terjadi peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam. Episode penting dalam sejarah peradapan Islam berhasil diukir oleh Rasulullah SAW beserta para sahabat. Itu ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya dari Makkah menuju Madinah. Di Madinah, Rasulullah SAW sukses membangun masyarakat madani, sejahtera, aman, dan tentram dalam tatanan kehidupan yang Islami. Episode tersebut kemudian diteruskan olah para pengganti beliau hingga beberapa abad lamanya.

Namun, sayang pada abad ke-18 M, bersamaan dengan runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki, umat Islam lambat laun menglami kemunduran. Peradapan Islam yang dibangun Nabi SAW hancur diserang Barat.

Umat Islam kemudian berusaha bangkit dengan sekuat tenaga mengembalikan kejayaan seperti yang terjadi pada periode awal Islam. Akan tetapi hingga kini, umat Islam masih saja mengalami kelumpuhan, bahkan kini umat Islam hidup dalam cengkraman budaya dan peradapan Barat.

Untuk bangkit dari keterpurukan, umat Islam selayaknya mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya saat berjuang menegakkan dinullah pada masa awal Islam. Ketika Rasulullah SAW berdakwah pada periode Makkah, beliau hidup dalam kekangan masyarakat mayoritas musyrik Makkah. Dakwah hanya bisa dilakukan dengan sembuny-sembunyi. Ancaman, teror dan penindasan kerap menimpa para pioneer pejuang Islam. Akan tetapi, ancaman dan teror tidak akan pernah menggentarkan hati Rasulullah SAW untuk terus berjuang.

Dari sini Rasulullah SAW kemudian mulai menerapkan strategi. Yang tentunya patut kita ambil contoh dan hikmahnya untuk kita implementasikan dalam masyarakat Islam saat ini.

Strategi awal yang diterapkan adalah “proses penyucian akidah” dari praktik-praktik kemusyrikan. Masyarakat Arab waktu itu mmeang hidup dalam budaya paganisme (menyembah berhala). Rasulullah SAW berjuang membersihkan bangsa Arab dari segala bentuk praktik paganism, dan menjaga agar tidak terkontaminasi oleh prilaku kaum musyrikin.

Strategi selanjutnya, menyelamatkan para sahabat dari kekangan dan rongrongan musuh. Untuk selanjutnya membangun kekuatan. Yaitu dengan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Kala itu Rasulullah SAW beserta sahabat rela mengorbankan jiwa, harta benda, dan berpisah dari sanak keluarga. Mereka melakukannya dengan ikhlas demi meraih ridho dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firmannya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberi rahmad daripada-Nya, keridhoan dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. At-Taubah: 20-22).

 

Hijrah ke Madinah merupakan tonggak awal pembangunan masyarakat madani. Pilar-pilar syari’at Islam ditegakkan dalam masyarakat Madinah. Peradaban baru dibangun oleh beliau yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Peradaban Islam, yang berhasil dibangun oleh Rasulullah SAW merupakan peradaban yang luar biasa hebat. Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW telah membawa bangsa Arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal dan diabaikan oleh bangsa lain, menjadi bangsa yang maju. Ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina suatu kebudayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga saat ini.

Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber dari peradapan Islam yang masuk ke Eropa melalu Spanyol. H.A.R Gibb dalam bukunya Whitter Islam menyatakan, “Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah sebuah peradapan yang sempurna”(Badri Yatim: 2000).

Dari peradapan ini lahir ilmuan-ilmuan sains. Para ilmuan tersebut merupakan pioner ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam peradaban Islam ada dua dimensi penting. Yaitu dimensi sosial dan dimensi ilmu pengetahuan. Dua dimensi inilah yang menjdadi rujukan Barat dalam melakukan revolusi sains. Jadi Islam sangat berjasa terhadap Barat dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi waktu itu berpusat di kota Baghdad Irak dan Andalus (Spanyol). Dari dua negar ini lahir Ulama’-Ulama’ yang ahli sains yang sangat besar jasanya bagi umat manusia.

Ilmu-ilmu kedokteran, matematika, kimia, astronomi dan sastra berkembang pesat. Dalam dunia sains dikenal nama-nama Ibu Sina (bapak ilmu kedokteran), Abban ibn Farna dan Jabir (ahli ilmu kimia), Abdul Jabbar (ahli matematika) Ibnu Khaldun (ahli ilmu sejarah )Al – Battani (ahli ilmu falak dan astronomi).

Saat itu, Islam telah berada  dalam puncak kejayaannya. Wilayah Islam tidak hanya sampai di jazirah Arab. Tetapi, saat kekhalifahan Abbasiyah dan Ustmaniyah berkuasa, wilayah Islam meluas sampai ke negara Spanyol, Eropa Timur, Afrika, dan Asia Tengah. Dua negara adidaya (Romawi dan Persia) berhasil ditaklukkan pasukan Islam.

 

Sebab Runtuhnya Peradaban Islam

 

Setelah mengalami masa keemasan beberapa abad lamanya, Islam akhirnya mengalami kemunduran. Tanda-tanda keruntuhan sebenarnya telah dimulai pada abad ke-11 M. Kala itu, umat Kristen di Andalus (Spanyol) memperoleh kemajuan pesat.

Kemajuan Kristen ini tidak lain berkat jasa umat Islam di Andalusia. Pemuda Kristen banyak yang belajar di Universitas-Universitas Islam kemudian mengembangkan Ilmunya di Eropa. Sementara pada saat yang sama, umat Islam terbius oleh masa kejayaan, tergelimang dalam kehidupan yang mewah. Ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kejumudan.

Doktor ‘Ali Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya  Al-Taroju’ Al-Hadhory, menyebutkan sebab-sebab kemunduran peradaban Islam. Diantaranya adalah, Pertama terjadi penyimpangan terhadap pemahaman Aqidah Islamiyah. Aqidah Islamiyah yang beridiri di atas fundamen konsep rukun Iman, diserang oleh keyakinan-keyakinan sesat yang menggoncangkan keimanan kaum Muslimin. Kedua, lemahnya kapabilitas para Khalifah. Khalifatul Islam haruslah orang yang paling tafaqquh (mengertii) baik dalam bidang ilmu agama maupun ilmu dunia. Akibat dari lemahnya pemahaman para Khalifah, akhirnya ide-ide dan paham Barat dengan mudah menyusup masuk dalam negara Islam. Seperti paham sekulerisme, komunisme, demokratisme dan lain sebagainya. Ketiga, sebagian besar umat Islam menginggalkan Manhaj Islam sebagai peraturan hidup (way of life). Ini adalah akibat dari propaganda Barat yang mendiskreditkan Syari’at Islam sebagai  way of life. Keempat, terpecah belahnya ummat Islam menjadi beberapa negara dan golongan. Kelima, hilangnya ruh Jihad dalam tubuh umat Islam. Akibatnya, banyak negara-negara Islam yang menjadi tanah jajahan negara Barat. Keenam, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan aliran sesat yang lebih banyak diciptakan oleh orang Yahudi. Ketujuh, hilangnya semangat untuk maju dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab-sebab inilah yang ikut meruntuhkan dan memperlemah peradaban Islam.

baca juga: Manfaat Tidur Siang Menurut Para Ulama dan Auliya

baca juga: Singkirkan Hoax, Budayakan Tabayun Ala Nabi Seperti Ini!

baca juga: Luqman Al-Hakim Dan Nasehat-Nasehatnya Yang Abadi

 

Mengembalikan Kejayaan Islam

 

Maka, hal yang urgen untuk diperhatikan umat Islam saat ini adalah, mereka harus menengok ke belakang sebelum maju ke depan. Artinya, sebelum melakukan langkah progresif, umat Islam harus bermuhasabah dan menganalisis segala persoalan yang telah menimpa umat.

Benar, Islam memang pernah mengalami kejayaan. Akan tetapi, sejarah kejayaan Islam sebaiknya tidak sekedar dibaca, ditulis, dan diinformasikan. Ada banyak persoalan yang menjadi titik lemah umat yang harus dijadikan fokus perhatian.

Satu hal yang barangkali membuat umat Islam mengalami kejumudan adalah, mereka hanya bisa mengenang dan “terburu bangga” akan kejayaan masa silam. Tanpa melakukan introspeksi dan langkah progresif.

Padahal, musuh-musuh Islam bekerja hampir 24 jam untuk merancang strategi dan menghimpun kekuatan. Sedangkan umat Islam hanya “tertidur pulas”, terbuai dengan “mimpi-mimpi indah”.

Satu lagi yang menjadi titik lemah umat Islam adalah, begitu sulitnya mensinergikan kekuatan umat  yang yang sudah terpecah belah. Sebagian kaum muslimin bahkan sibuk “berjuang” mencari kelemahan saudaranya yang muslim. Hanya karena perbedaan masalah furu’, organisasi, ataupun partai, umat Islam saling gontok-gontokan, dan mengklaim bahwa dirinya yang paling benar. Solidaritas Islam sudah hampir lenyap dalam diri umat Islam.

Mengembalikan kejayaan Islam, memang tidaklah mudah. Kaum muslimin harus melakukan langkah maju. Berusaha dengan sekuat tenaga untuk keluar dari kubangan krisis. Untuk itu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan kaum muslimin saat ini.

Pertama, bekerja sama membangunkan sebagian saudaranya yang sedang “tertidur pulas”. Secara implisit Allah SWT telah memberi isyarat dalam firmannya: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersikanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah (QS. Al-Muddatstsir: 1-5). Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar melakukan penyadaran kepada saudaranya. Bahwa spirit Islam harus ditanamkan dalam hati kaum muslimin. Spirit untuk berjuang dan membangun peradaban.

Dalam hal ini Allah SWT memberi pelajaran kepada kita, menjadi seorang Muslim janganlah malas, takut, dan putus asa. Islam mendidik umatnya menjadi muslim yang militan dan berwawasan luas.

Kedua, merajut kembali tali Ukhuwah Islamiyah. Allah SWT berfirman: “Berpganglah teguhlah kalian pada tali agama Allah, janganlah kalian bercerai berai”(QS.Ali-Imran: 103). Apapun organisasi, golongan, partai, ataupun suku, asalkan akidah tetap satu, akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, kita adalah sudara. Konflik internal yang tidak perlu terjadi harus segera dihilangkan. Solidaritas sesama muslim harus ditumbuhkan. Muslim dengan Muslim lainnya adalah bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu merasa sakit maka yang lain harus menunjukkan pembelaan, sebagai konskuensi dari tubuh yang satu.

Ketiga, Kembali kepada Manhaj Islam. Dr. Ali.Abdul Halim menyebut bahwa faktor penting yang menyebabkan runtuhnya peradapan Islam adalah, umat Islam banyak yang meninggalkan manhaj Islam, dan tersebarnya bid’ah-bid’ah dan aliran sesat. Allah SWT dalam ayat tersebut menyebut kata habl (tali) dalam bentuk mufrod. Ini berarti bahwa hanya ada satu tali yang benar, yaitu Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat, yang berlandaskan Al-Quran dan Hadits. Maka barang siapa yang berpegang pada tali-tali yang lain maka ia telah keluar dari bangunan Ukhuwah Islamiyah. Dan dengan sendirinya menciptakan ajaran dan agama baru yang bisa memperlemah kekuatan Islam.

Inilah poin penting yang harus diperhatikan umat Islam saat ini. Untuk membangun kembali peradaban dan meraih kejayaan Islam. Sehingga kemuliaan ada pada agama Allah dan kaum muslimin.

 

Kholili Hasib

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *