Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari

Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami bisa dikatakan sebagai pesantren termuda yang ada di Singosari. Didirikan oleh KH. Luthfi Bashori (Alumni Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki) yang sekaligus menjadi pengasuhnya pada tanggal 05 Juli 2001. Meski Ustadz Lutfi menjadi Ketua Umum Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) beliau tetap berkomitmen mengembangkan pesantren Ribath dengan segenap kemampuan yang ada.

Di sini, metode yang dikembangkan adalah pendidikan non-formal. Dengan kata lain, peraturan di Ribath adalah bahwa santri tidak diperkenankan sekolah. Mereka hanya konsentrasi dalam pelajaran agama. Hal itu dikatakan sendiri oleh Ustadz Luthfi yang akrab dipanggil oleh santri-santrinya dengan `Ammi (paman). “Pesantren Ribath ini metodenya berkiblat ke Makkah. Di Makkah, Abuya (Sayyid Muhammad Al Maliki) menerapakan sistem Dakhili (interen) tanpa sekolah di luar.”

Ustadz Luhfi menampik pendapat yang mengatakan tentang adanya perbedaan kondisi Makkah dan Indonesia dalam hal pendidikan. Menurutnya, kehidupan tidak harus diarungi dengan pendidikan formal. Toh pengalaman membuktikan bahwa tanpa titel formal sekalipun seseorang tetap bisa eksis di masyarakat lewat kecakapan dakwah dan ilmu yang digelutinya di pesantren.

Nyatanya adalah pengasuh sendiri yang selama ini aktif di berbagai kegiatan masyarakat hingga kalangan akademisi di berbagai universitas. Tentu, semua itu didapatkan dengan cara peningkatan mutu dan kualitas sehingga para santri setelah melewati serangakain fase belajar di Ribath mereka memiliki “nilai jual” yang bisa “ditawarkan” kepada umat.

Seperti halnya seorang santri bernama Hilmi, 17 tahun. Ia hanya lulusan SD tapi jangan ditanya soal kemampuannya di bidang ilmu moderen seperti penguasaan komputer. Hilmi sadar dengan ijazah SD-nya ia harus bersaing kuat dengan teman-teman sejawatnya di era globalisasi. Untuk itu, Hilmi dan santri-santri lainnya dengan difasilitasi oleh Pesantren ternyata mampu berbicara banyak dalam topik yang dipelajari di sekolah formal.

Memang, di Ribath yang kecil-mungil ini disediakan empat buah komputer dan internet dan tv kabel, dengan jumlah santri yang sekarang mencapai 20-an. Di Ribath sendiri, juga diadakan lomba karya tulis ilmiah antar santri. Mereka sebelumnya telah banyak ditempa dengan materi-materi jurnalistik yang disampaikan oleh sosok-sosok yang berkompeten di bidang ini. Taruh saja seperti Ustadz Muhammad Baharun, mantan wartawan Tempo, dan kini diasuh oleh Hilmi Al Hasni, penulis buku Motivasi Tiada Henti.

 

Sanggar Ilmu

Pada mulanya, pesantren ini tidak ditujukan sebagai satu pesantren namun melihat lingkungan yang cukup asri ditambah dengan area persawahan yang menghampar luas, rasa-rasanya cukup layak dibangun pesantren dengan nama Ribath. Nama Ribath dikenal di kota Makkah sebagai sanggar. Bedannya dengan istilah Ma`had bahwa Ma`had adalah pesantren formal sedang Ribath sebaliknya. Ribath yang dimaksud di sini adalah sebuah sanggar belajar yang jauh dari nuansa formal, lebih familier, tidak ada sekat/penghalang antara pengasuh dan para santri. Para santri bisa 24 jam bersama dengan pengasuhnya. Inilah mungkin salah satu keistimewaan di Ribath. Karenanya, satu-satunya pengasuh, Ustadz Luthfi Bashori, benar-benar paham satu per satu karakter tiap santri sebab beliau membaur dengan para santri non-stop.

Untuk kelas, dibagi menjadi dua yaitu, Kelas Bisa dan Kelas Menginjak Bisa. Pelajaran yang dipasarkan tergantung dengan masing-masing kelas. Untuk Tasawuf, Akhlaq, Tauhid, Sirah, dan Akidah, mereka digabung dalam satu khalaqah. Selain pelajaran-pelajaran yang disebut tadi, pelajaran lainnya disesuaikan dengan kelasnya seperti pelajaran ilmu Nahwu, Faradih, Ushul Fiqh.

Dalam kaitan belajar bersama untuk semua santri, pihak pesantren menyertakan guru-guru luar yang membimbing para santri dalam memenuhi kebutuhannya di beberapa disiplin ilmu. Mereka antara lain, Ustadz Hadi bin Alwi Al Kaaf (Alumni Darul Hadits), Ustadz Abbas Arafan Baraja` (Alumni PIQ/Al Azhar), Ustadz Hasan bin Qashir (LIPIA Jakarta), Ustadz Haidar bin Saleh Mauladawilah (Alumni Habib Zain bin Smeth), Ustadz Shalihin Jaiz (Alumni Abuya Maliki), Ustadz Nashihun (Alumni PIQ), Ustadz Abdulkadir (Alumni PIQ) dan Ustadz Ali bin Husain Al Hamid (Alumni Darul Lughah wad Da`wah).

 

Diskusi dengan Para Tokoh

Sejalan dengan semangat menghidupkan dakwah Islam dengan profesionalitas dan skill individu, maka pihak pengasuh mengadakan dialog terbuka dengan para santri, membahas tema atau topik yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan masyarakat. Temanya pun tidak hanya berkaitan dengan agama tapi merembet ke persoalan bangsa seperti penebangan liar, masalah lingkungan, kepemimpinan. Dialog tersebut tidak hanya antara santri dengan santri plus pengasuh. Tidak sedikit, dialog dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional maupun lokal yang kebetulan bersilaturrahmi seperti kedatangan salah satu tokoh dari Perhutani. Kedatangan tokoh ini dimanfaatkan untuk bertatap muka dengan santri sekaligus berdialog tentang dunia hutan.

Pernah pula Ribath disambangi oleh seorang diplomat Australia yang kemudian masuk Islam lewat tangan pengasuh yang kemudian diberi nama Islam, Muhammad. Ia berdialog dengan santri tentang dunia pesantren dan terorisme. Ia bertanya santri menjawab atau santri bertanya ia menjawab. Dari diskusi tersebut, ia akhirnya menjadi semakin mengerti bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara pesantren dengan terorisme.

Selain dari Australia, ada pula tokoh HAMAS Palestina yang menyambangi Ribath. Ini semuanya kembali kepada pentingnya pembekalan informasi, pemikiran yang luas dan luwes.

Tentunya, selain tokoh di atas masih ada Ustadz Abu Bakar Ba`syir, Habib Muhammad Rizieq bin Shihab, KH. Sholahuddin Wahid. Ustadz Abu Bakar Ba`ayir datang atas kemauannya sendiri sehingga Ustadz Luthfi sebagai sesama aktivis muslim dan pejuang syariat memberinya kesempatan untuk berdialog dengan para santri tentang peluang-peluang penerapan syariat Islam di Indonesia.

Sedang Habib Muhammad Rizieq berbicara tentang Gerakan Islam di Indonesia. Adapun KH. Sholahuddin Wahid berbicara tentang ke-NU-an. Semuanya datang tidak dalam waktu yang bersamaan. Dan tema yang dipilih diselaraskan dengan karakter masing-masing tokoh. Itulah pesantren Ribath yang terbuka bagi semua komponen asal tetap dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

baca juga: Sejarah Rabithah Alawiyah dan Darul Aitam

baca juga: Madrasah Tua Ini Dulu Merupakan Tempat Ngaji Para Habib Dan Kiai

baca juga: Profil Universitas al-Ahgaff Hadhramaut Yaman

baca juga: Darul Musthafa Tarim, Citranya Seharum Namanya

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

Tarbiyah Ijtima`iyyah

Lain dialog lain pula halnya dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) ala Ribath, dimana dalam satu tahun ada tiga jadwal turun berdakwah ke masyarakat di daerah-daerah terpencil seperti Sendang Biru, Nongkojajar, Klaten (saat gempa bumi), atau di Singosari sendiri. Kegiatan ini diistilahkan dengan TAR`IJ kepanjangan Tarbiyah Ijtima`iyyah (Pendidikan Kemasyarakatan).

Selain tentunya santri membina keilmuan masyarakat dengan nilai-nilai Islam berupa mengajar Al Quran di TPQ, membagi-bagikan buku Fiqih Praktis karya Ribath sendiri, mereka juga belajar berkarya mandiri dengan cara ikut membaur di sela-sela aktivitas warga semacam membuat sandal, perbengkelan, memerah susu, atau bertanam apel. Kegiatan ini menuai hasil positif. Terbukti, dalam beberapa buah karya yang sudah dilahirkan oleh santri kini bisa dimanfaatkan seperti membuat souvenir dari bahan-bahan bekas di pasar untuk dikemas menjadi akuarium.

Upaya mengasah kewirausahaan santri ini diimbangi pula dengan pembentukan karakter mereka yaitu mencetak Dai akidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah dan pejuang penegakan syariat. Dua hal inilah yang menjadi lambang utama penggodokan santri agar kelak mereka setelah kelar menyantri di Ribath diharapkan mampu menjadi penyeru akidah sekaligus menerapkan syariat Islam dalam sendi-sendi kehidupan. Ali

dapatkan buku: Khulasoh Madad+Maulid Dhiyaullami, Maulid Diba’, Qosidah Burdah dan Hadrah Basaudan

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *