Resep Kiai Abdul Hamid Supaya Menjadi Pemimpin Yang Disegani

“Jadilah seperti dhamir ‘na’.” Begitu kata kiai sekaligus guru kami, KH. Abdul Hamid Pasuruan.  Kata-kata itu beliau ucapkan dalam pengajian khusus untuk para santri senior. Kala itu beliau sedang membaca Alfiyyah, sebuah kitab tingkat lanjutan (advanced) di bidang ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab), atau lebih tepatnya menjelaskan maksud dari bait syair berikut:

 

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرٍّنَا صَلَحْ

 

Artinya: Na itu pantas untuk rafa’, nashab dan jarr.

 

Rafa’, nashab dan jarr  adalah tiga istilah teknis dalam ilmu Nahwu yang menggambarkan perubahan posisi kata di dalam kalimat. Perubahan posisi itu biasanya membawa perubahan bentuk kata juga, khususnya di bagian akhir dari kata tersebut. Misalnya kata Muhammad (محمد) dibaca Muhammadun (dhammah) ketika berada dalam posisi rafa’, Muhammadan (fathah) dalam posisi nashab dan Muhammadin dalam posisi jarr alias khafadh .

Na adalah dhamir (kata ganti atau personal pronoun) untuk orang ketiga jamak yang berarti “kita” atau “kami.” Na ini unik karena dia menjadi satu-satunya dhamir yang layak untuk ketiga posisi di atas: rafa’, nashab dan jarr. Ada pun dhamir-dhamir lainnya ada yang hanya layak untuk rafa’ seperti ana (saya) dan anta (kamu), ada pula yang hanya layak untuk posisi nashab dan jarr seperti hu (dia) dan ka (kamu).

baca juga: 3 Tanda Orang Tawakkal Menurut Habib Alwi bin Ali al-Habsyi

baca juga: 5 Macam Orang Yang Tidak Layak Dijadikan Teman Menurut Imam Jakfar Shadiq

baca juga: Tips Jadi Orang Sukses Dari Sayidina Ali bin Abi Thalib

Lantas apa hubungan dhamir na ini dengan para santri senior itu sehingga Kiai Hamid menganjurkan mereka supaya menjadi seperti na? Ternyata Kiai Hamid sedang “mem-pleset-kan” bait syair itu ke dalam arti positif. Dengan kata lain, beliau sedang berbicara filosifi dhamir ‘na ‘untuk kehidupan manusia. Na itu beliau ibaratkan seperti orang bijak dan berjiwa besar yang bisa menjadi pemimpin tertinggi, pemimpin tengah atau bahkan menjadi bawahan. Penjelasannya begini: rafa’  (yang secara harfiyah berarti “mengangkat”) posisi atas (pemimpin tertinggi), nashab posisi tengah dan jarr (harfiyah: kaki bukit) atau khafadh (harfiyah: rendah) adalah posisi bawahan.

Maksud beliau, kita hendaknya bisa membawa diri. Ketika menjadi pemimpin tertinggi, kita harus bersikap sebagaimana layaknya pemimpin tertinggi yang baik. Ketika berada pada posisi tengah harus bisa bersikap sebagaimana layaknya orang dalam posisi tengah, dan ketika menjadi bawahan juga harus bisa bersikap menjadi orang bawahan. “Misalnya, di pondok aku adalah pemimpin tertinggi, tapi di kelurahan aku adalah bawahan yang harus tunduk pada Lurah,” jelas beliau.

Jangan bersikap sebaliknya, yakni ketika menjadi pemimpin tetap bersikap seperti bawahan yang minta dilayani dan tidak berani mengambil keputusan, atau ketika menjadi bawahan masih bersikap seperti pemimpin yang maunya mengatur dan minta dituruti segala omongan dan keputusannya.

Dengan kata lain, ketika menjadi pemimpin hendaknya menerapkan adab pemimpin dan ketika menjadi bawahan hendaknya mengamalkan adab-adab sebagai bawahan..

oleh: Ust. Hamid Ahmad

sumber: cahaya nabawiy

donasi: Dompet Dakwah

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *