Rasulullah Sebagai Inspirasi Sukses Dunia Akhirat

Habib Zain bin Ibrâhim bin Smeth dalam bukunya yang berjudul Al Ajwibah Al Ghâliyah fi A`qidatil Firqah An-Najiyah, menukil sebuah hadits dari Al-Hakim, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dengan riwayat Sayidina Umar bin Khaththab ra secara marfû`, yang menjelaskan kronologi tawassul. Dalam redaksi hadits tersebut berbunyi bahwa ketika Nabi Adam as berbuat kesalahan, beliau berdoa: “Ya Allah dengan kebenaran Muhammad, berilah ampunan kepadaku.”

Allah bertanya, “Bagaimana kau bisa mengetahui Muhammad padahal Aku belum Menciptakannya?.”

“Ya Rabbi, aku telah mengetahuinya, sebab ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu kepadaku, aku mengangkat kepalaku dan melihat tulisan di atas tiang-tiang `Arsy: “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.” Dari situlah aku tahu bahwa tidaklah Engkau menyandarkan sesuatu setelah nama-Mu kecuali ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai.”

Allah berkata, “Kau benar, wahai Adam. Sesungguhnya ia adalah mahkluk yang paling Aku Cintai. Bila kau meminta-Ku dengan kebenarannya, maka Aku telah mengampunimu dan sekiranya bukan karena Muhammad, tidaklah Aku menciptakanmu.”

Maka dari itu, Nabi Adam menjadi orang pertama yang bertawassul kepada Nabi SAW. Dari kisah tawasullnya Nabi Adam kepada Nabi SAW. inilah, Imam Mâlik yang saat itu sedang berada di masjid Al Nabawiy, memberi keterangan kepada Khalifah Al Manshûr  yang bertanya kepada beliau demikian, “Bagaimana sebaiknya sikapku dalam berdoa di Masjid Nabawiy, menghadap kiblat ataukah menghadap Rasulullah SAW?

Imam Mâlik menjawab: “Kenapa kaumemalingkan wajahmu dari beliau padahal beliau adalah perantaraanmu dan perantara ayahmu Adam as kepada Allah? Menghadaplah kepada Nabi dan mintalah syafâ`át dengan perantaraannya, niscaya Allah akan memberi syafa`at lewat perantaraan beliau, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah An-Nisa` ayat 64:

“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.”

Berpijak dari Hadits dan kisah di atas tersebut, kita memperoleh keterangan yang gamblang tentang pentingnya mencintai Rasul dalam suka maupun duka; dalam keadaan lapang ataupun sempit. Pendek kata, setiap langkah, perbuatan dan persetujuan kita haruslah mencocoki Rasul sebab beliaulah jembatan kita untuk sampai ke ridha Allah.

Habib Umar bin Hafidz bertutur hikmah,

كُلُّ سَعَادَتِناَ عَلَى وَجْهِ الحَقِيْقَةِ فِى صِدْقِ الِاتِّباَعِ وَالإِيْماَنِ بِخَيْرِ الخَلِيْقَةِ

“Pada hakikatnya, semua kebahagiaan kita itu ada di dalam kesetiaan mengikuti dan beriman kepada makhluk terbaik (Rasul SAW).”

Sayangnya, masih ada di antara kita yang memperingati kelahiran Rasul hanya sebatas acara seremonial yang berlalu begitu saja seiring selesainya acara. Padahal, diadakannya upacara maulid Nabi itu dimaksudkan untuk memompa kembali semangat meneladani dan menjalankan tradisi Nabi.

Setidaknya ada enam keuntungan yang akan kita peroleh dari meneladani baginda Rasul SAW, seperti tulis KH. Abdullah Gymnistiar (Aa` Gym).

Pertama, hidup akan terasa indah dan mudah. Meniru lebih mudah dari pada menciptakan. Mencontoh kebaikan bukan hal yang tak terpuji, bahkan bernilai ibadah, apalagi meniru Nabi SAW. Dengan meniru beliau, hidup menjadi lebih mudah karena segalanya telah beliau contohkan.

Sebagai tamsil, kita akan lebih menikmati berjalan menyusuri museum sejarah jika disertai pemandu yang berpengalaman dan menguasai seluk-beluk peristiwa sejarah yang terpapar dalam museum. Begitu pula, orang yang selalu mencontoh Rasul, ia akan menikmati beragam episode hidup, sebab telah ada contoh dan bimbingan terbaik dari sosok yang sangat menguasai medan kehidupan. “Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullâh SAW,” kata Imâm Al Junaid.

Kedua, hidup menjadi lebih mulia dan terhormat. Dengan meneladani Rasulullah SAW, orang akan merasakan dampak ketabahan, rendah hati, ikhlas, kedermawanan dan kemuliaan akhlaq. Sebab, nilai standar perilaku beliau sangat tinggi dan mulia. Siapa pun yang meneladaninya, maka martabat, kehormatan, serta kemuliaan dirinya akan naik. Berkata Habib Muhammad bin Abdurrahmân As Seggâf : “Setiap ilmu tanpa amal tidaklah sah, setiap ilmu dan amal tanpa niat adalah kesia-siaan, dan setiap ilmu, amal, serta niat tanpa mengikuti sunnah Rasulullah pastilah tertolak…”

Ketiga, akan menarik simpati dan dihormati oleh orang lain. Rasul adalah pribadi yang sangat menyenangkan dan paling bermanfaat. Karenanya, pribadi seperti ini akan melahirkan simpati, rasa hormat, dan kasih sayang dari orang lain.

Keempat, hidup akan penuh prestasi. Rasul adalah tipe orang yang selalu menjaga mutu dari setiap tindakannya. Beliau selalu melakukan yang terbaik, dengan konsep yang jelas, perencanaan yang terukur, sikap profesional yang dipandu dengan etos kerja yang prima. Hingga kini, kualitasnya telah teruji dan terbukti. Bayangkanlah, jika kita hidup dengan meniru cara beliau hidup, kemampuan berkarya dan berprestasi akan makin melejit, potensi berkembang maksimal, aneka masalah akan terkemas menjadi sesuatu yang bernilai tambah.

Kelima, cinta Allah akan berlabuh kepada kita. Allah SWT telah berjanji untuk mencintai siapapun yang mencintai kekasih-Nya. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dicintai Allah. Bila kita mencintai beliau, maka cinta Allah pun akan mengaliri kehidupan kita. Mengutip Al Qur`an kembali, perlulah kita merenungkan firman Allah:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran [03]: 31).

baca juga: Kunci Sukses Habib Abubakar bin Muhammad as-Segaf Gresik

baca juga: Ingin Jadi Orang Sukses? Camkan Nasehat Habib Abdulqadir Bin Ahmad Berikut Ini!

baca juga: Keberanian Rasulullah SAW Di Medan Perang

 

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat di atas merupakan vonis bahwa siapa pun yang mengklaim mencintai Allah, sementara ia tidak mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad, adalah pendusta; sampai ia betul-betul mengikuti seluruh syariat Nabi Muhammad serta agama yang dibawanya dalam seluruh ucapan dan perilakunya.

Sementara itu, Sahal ibn Abdillâh menyatakan, “Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai al-Quran; tanda cinta kepada al-Quran adalah mencintai Nabi-Nya; dan tanda cinta kepada Nabi SAW. adalah mencintai sunnahnya.

Keenam, meneladani Rasulullah SAW menjadi pintu menuju surga. Seseorang akan mengikuti perilaku orang yang dicintai dan dielu-elukannya. Seorang sahabat pernah bertanya, “Seseorang mencintai kaumnya, apakah kelak ia akan bersama-sama mereka?” Rasulullah menjawab, “Ia akan bersama orang yang dicintainya.” Ali

sumber: cahaya nabawiy

donasi: Dompet Dakwah

Jangan lupa subscribe channel kami: islam aktual

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *