Pidato-Pidato Terdahsyat Dalam Sejarah

Ada banyak kata-kata diucapkan orang yang ternyata demikian berpengaruhnya sehingga dapat merubah sejarah. Di Badar, ketika pengikut Rasul menghadapi jumlah musuh yang jauh lebih besar, dan ketika rasa takut menghantui setiap orang, Rasulullah menyampaikan sebuah pidato yang membuat surga terasa di depan mata kaum muslimin, dan gempita peperangan seolah berputar mengelilingi telaga Kautsar.

Thariq bin Ziyaad berhasil membawa pasukannya mengharungi lautan. Kepada pasukan ini ia meyakinkan bahwa satu-satunya pilihan cuma bertempur menghadapi musuh, karena di belakang yang ada cuma lautan yang dalam sedangkan kapal-kapal sudah habis dibakar. Pidato ini sanggup menggetarkan tombak pasukannya. Meski ajal dan maut menunggu di depan, pasukan Thariq maju menerjang cuaca dingin, menghempaskan musuh dan meraih kemenangan.

Saat ibnu Jauzi dengan kata-katanya menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada kaum muslimin, suasana jadi seperti tidak biasanya. Jiwa berdebar-debar, air mata mengucur deras, suasana hening menyelimuti mereka yang memadati majelisnya. Dengan pidatonya, rasa takut pun menyeruak di antara para hadirin, ada yang berteriak seraya menyatakan kata tobat, ada yang menangis tersedu-sedu mengungkapkan penyesalan, ada orang yang jatuh pingsan, dan banyak hadirin yang terkulai lemas.

Ketika Rasulullah wafat dalam pangkuan Aisyah, kaum muslimin terguncang dan bersedih luar biasa. Banyak orang yang tak percaya bahwa Rasul benar-benar pergi menghadap Sang Kuasa. Di antara mereka yang tidak dapat menerima kenyataan ini adalah Khalifah umar. Dituduhnya Mughira yang menyampaikan berita wafatnya Rasul sebagai pendusta. Umar pun bahkan mengancam memotong tangan dan kaki siapa saja yang menganggap Rasul telah tiada. Baginya, Rasul sekedar pergi sesaat memenuhi panggilan Allah, seperti yang dilakukan Musa bin Imran ketika menghadap Tuhan selama empat puluh hari.

Kepulangan Abu Bakar dari menjenguk istrinya di Sunh setelah mendengar berita sedih kematian Rasulullah, dan pidato-pidato yang kemudian disampaikannya kepada kaum muslimin, menjadi catatan sejarah yang indah dan sangat mengharukan bagi kehidupan umat muslim di dunia. Di rumah Aisyah putrinya, Abu Bakar melihat tubuh Rasul yang mulia itu terbujur diselubungi burd hibara, sejenis kain bersulam buatan Yaman.

Abu bakar menyingkapkan selubung dari wajah Nabi dan setelah menciumnya, ia berkata, ” Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati.” Kemudian kepala Nabi diangkatnya dan diperhatikannya paras muka yang ternyata memang menampakkan tanda-tanda kematian. ”Demi ibu-bapakku,” ucapnya, ”Maut yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu, sekarang sudah sampai kau rasakan. Sesudah itu takkan ada lagi maut menimpamu!” Alangkah indahnya kata-kata sahabat Abu Bakar ini.

Di luar rumah Aisyah, Umar tiada henti-hentinya meyakinkan umat bahwa Rasul tidak wafat. Orang-orang yang mendengarkan pidatonya yang berapi-api hampir meyakini ucapan-ucapannya. Abu bakar pun keluar dari rumah Aisyah dan meminta agar Umar bersabar dan mau mendengarkan sambutan yang akan disampaikannya kepada orang-orang yang sedang resah itu. Tapi, Umar seolah tak dapat dihentikan lagi! Baru setelah Abu Bakar memberi isyarat, barulah semua orang berpaling untuk mendengarkan sambutan Abu Bakar yang mereka yakini sebagai Ash-Siddig, yang selalu dapat dipercaya. Abu Bakar pun membuka pidatonya dengan memanjatkan syukur ke hadirat Allah, ucapan syukur dari salah seorang sahabat kesayangan Rasul, yang kelak akan dimakamkan bersanding dengan Rasul di Kubah Hijau di atas bilik Rasulullah!

baca juga: Kisah Penjahit Miskin Yang Membangun Masjid Megah Di Hadramaut

baca juga: Keajaiban Air Zam Zam

baca juga: Rasulullah Sebagai Inspirasi Sukses Dunia Akhirat

 

Pidato Abu Bakar yang menjadi salah satu pidato paling indah itu berbunyi begini: ”Saudara-saudara! Barangsiapa ingin menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi, barangsiapa ingin menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah selalu hidup dan tidak akan pernah mati.”

Setelah mengawali sambutannya seperti ini, ia pun kemudian membacakan firman Allah dalam surat Ali ’Imran ayat 144,” Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang telah lampau. Apabila ia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berpaling? Barangsiapa yang berpaling, ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Mendengar ayat ini, kedua kaki Umar bergetar sehingga tubuhnya jatuh tersungkur ke bumi. Ia dan semua orang kini percaya bahwa Nabi benar-benar telah wafat meninggalkan mereka. Tak ada duka nistapa yang menimpa kaum muslimin lebih hebat dan lebih pedih dari peristiwa di hari itu. Namun, pidato yang diucapkan Abu Bakar akan dikenang orang sepanjang zaman sebagai salah satu ucapan terindah dalam sejarah fenomena umat manusia, seperti syair yang berbunyi:

”Wainnamal mar’u hadiitsun ba’dahu

 Fakun hadiitsan hasanan liman wa’aa.”

”Seseorang itu akan dikenang dari ucapan-ucapannya setelah dia tiada

Maka berbicaralah yang baik-baik saja kepada orang-orang yang masih hidup.”  Drs. Husein Shahab                                                 

sumber: cahaya nabawiy            

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *