Pesantren Roudotul Ulum Besuk, Taman Ilmu Di Pasuruan

besuk

Pondok Roudlotul Ulum atau yang lebih dikenal dengan nama Pondok Besuk,  didirikan oleh seorang Ulama yang bersahaja bernama Kyai Ali Murtadlo bin Abdul Wahab. Beliau adalah salah seorang murid Al habib Alwi  bin Segaf Assegaf, bahkan setelah istrinya meninggal, beliau dicarikan istri (Nyai Khoirotun) Oleh Habib Alwi dan dibangunkan kamar mandi (hingga sekarang masih ada). Cintanya KH Ali Murtadlo dengan gurunya ini sangat luar biasa, hingga ia berwasiat bila meninggal agar dimakamkan di pemakaman Kebon-Agung Turbah Habib Alwi Assegaf.

Sebelum mendirikan pondok tersebut, beliau mengajar di pondok keluarga, yang letaknya di Desa Sladi Kejayan Kab. Pasuruan, yang merupakan daerah asal Kyai Ali murtadlo. Pada tahun sekitar 1881 Masehi, beliau mendapatkan hadiah sebidang tanah yang letaknya di Desa Besuk, Kejayan Kab. Pasuruan. Selanjutnya, Kyai Ali Murtadlo memutuskan pindah dan mendirikan sebuah rumah dari bambu yang sederhana yang didepannya didirikan sebuah Musholla kecil di tanah tersebut  Disamping dipakai sebagai tempat ibadah, Mushola ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan  mengaji bagi murid-murid sekitar desa Besuk.  Dari sinilah cikal bakal pendirian Pondok Pesantren Besuk Kejayan yang merupakan pondok tertua ketiga setelah pondok Sidogiri dan pondok Podokaton, seperti yang disampaikan oleh Mudir Ponpes Roudlotul Ulum, KH. Abdullah Zaini.

Pada awalnya jumlah santri yang belajar  tidak begitu banyak, dan tempat belajarnya pun hanya beberapa ruang saja. Namun, berkat kegigihan perjuangan disertai keikhlasan beliau dan diringi do’a memohon ridlo Allah SWT semata, maka jumlah muridnya pun mengalami kemajuan, yang harus diimbangi dengan bertambahnya sarana tempat belajar.

Niat dan tekad KH Ali Murtadlo  mendirikan pondok dengan diawali hanya sebidang tanah dan seterusnya beliau membeli sebidang demi sebidang tanah untuk perluasan pondok, maka kemajuan pesat pondok ini baik murid maupun bangunannya  tak terbendung. Hal ini menunjukkan bahwa pondok ini sudah mulai dikenal masyarakat umum.

Beliau memangku pondok ini selama sejak berdirinya hingga wafatnya yaitu selama 40 tahun. Dan dalam perkembangannya pondok ini sempat  mengalami (Fatrah) kefakuman beberapa waktu semenjak Kyai Ali Murtadho meninggal dunia. Namun, masalah ini tidak berlangsung lama karena Kyai Subadar menantu beliau menggantikan posisinya sebagai pemangku pondok.

Menantu beliau ini berasal dari Desa Kajen Kab. Pati Jawa Tengah, yang setelah tamat belajarnya di Pondok Sidogiri, beliau menikah dengan salah satu putri Kyai Ali Murtadho. Untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan pondok Besuk ini, KH Subadar memperbantukan beberapa kerabatnya, seperti adik ipar dan keponakan.

Dengan semangat yang tinggi sedikit demi sedikit, selama beliau memangku pondok ini hingga wafatnya, yaitu selama 23 tahun pondok Besuk tambah menunjukkan perkembangan dan kemajuannya. Pemangku pondok seterusnya digantikan oleh adik iparnya, Kyai Ahmad Jufri, yang namanya tidak asing lagi bagi masyarakat Pasuruan dan sekitarnya selama 32 tahun.

Selanjutnya setelah Kyai Ahmad Jufri wafat, tongkat estafet diserahkan kepada Kyai Masyhadi, menantu Kyai Subadar selama 5 tahun.  Guna membantu beliau dalam menjalankan pondok, Kyai Masyhadi dibantu oleh beberapa adiknya seperti :Kyai Ahmad Zahid, Kyai Ali Baqir dan Kyai Ahmad Mutamakkin.

Hingga saat ini,  Ponpes Roudlotul Ulum dipimpin oleh Generasi Ketiga keturunan Kyai ali Murtadho yaitu : KH. Muhammad Subadar. Beliau adalah sosok ulama yang sangat terkenal di kota Pasuruan. Beliau merupakan Kyai sepuh yang karismatik.

Dalam membina Pondok Pesantren Roudlotul Ulum, beliau  dibantu oleh keponakan-keponakan beliau antara lain : KH. Hamzah dan KH. Suhaimi. Adapun struktur organisasi pondok adalah KH. Abdullah Zaini sebagai Mudir Madrasah, KH. Abdul Halim sebagai Kepala Pondok, Kepala Mufattisy Mu’alimin dipegang oleh Ustadz Imron Mutamakkin dan Kepala Mufattisy Ibtidaiyah adalah Ustadz Abd. Karim.

Visi Ponpes Roudlotul Ulum adalah mengembangkan ajaran Salaf. Visi ini sesuai dengan tujuan utama dari pendiri pondok (Muassis). Maka, tidak heran jika sistem yang dipakai pondok ini adalah Salafiyah, yaitu  mempertahankan Tariqah Ahli Sunnah Wal Jama’ah di kota Pasuruan khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Hingga sekarang jumlah santri yang belajar di Pondok Roudlotul Ulum tergolong cukup besar. Jumlah santri putri sebanyak 2.000 orang dan jumlah santri putra sebanyak 1.000 orang. Adapun para santri tersebut ada yang tinggal di pondok (Muqimiin) dan yang tidak (Khorijiin). Disamping dari kota Pasuruan dan sekitarnya, para santri juga berasal dari luar kota Pasuruan seperti, Madura, kota-kota lain di Jawa timur, Jawa tengah bahkan ada yang dari luar pulau seperti Sumatera dan Kalimantan.

Adapun fasilitas bangunan yang dimiliki pondok kini cukup memadai yaitu untuk pondok terdiri dari 25 kelas dalam 2 selasar, yang terdiri dari 16 kelas untuk Ibtidaiyah dan 9 kelas untuk Muallimin. Pondok ini juga memiliki tempat tinggal bagi yang muqim yaitu 2 selasar ruang untuk 50 orang, yang dibagi menjadi 6 daerah.

masing-masing daerah terdiri sekitar 8 kamar yang masing-masing diketuai oleh kepala daerah dan masing-masing kamar diketuai kepala kamar. Untuk menunjang seluruh kegiatan pondok ini juga memiliki beberapa fasilitas lain yang tidak kalah pentingnya yaitu sebuah Aula, Perpustakaan dan Kantor Administrasi.

Melihat umur pondok yang cukup tua dan juga kharisma pemangkunya sebagai  seorang Ulama yang cukup terkenal. Maka, tidak heran jika pondok ini cukup dikenal oleh masyarakat umum baik dari dalam maupun luar daerah. Mengingat jumlah santri yang cukup besar, dalam kegiatan belajarnya mereka dibina oleh 100 pengajar untuk pondok putri dan 50 pengajar untuk pondok putra.

Kurikulum yang diterapkan menggunakan Sistem Klasikal. Dimana jenjang Ibtidaiyah ditempuh 6 tahun, setelah lulus dilanjutkan ke jenjang Mu’allimin selama 6 tahun. Materi pelajaran yang diutamakan adalah Dinniyah sedangkan pelajaran umum yang diberikan hanya Bahasa Indonesia dan Matematika.

Untuk memperoleh hasil yang maksimal, Para santri diwajibkan untuk menempuh jenjang Mu’allimin selama 5 tahun, kemudian sisa 1 tahun para santri mendapat tugas wajib yaitu mengajar didaerah yang membutuhkannya, yang mana ini juga merupakan kewajiban dalam memperoleh ijazah Pondok Roudlotul Ulum. Tugas ini diberlakukan kepada semua santri baik santri putri atau santri putra. Hal ini bertujuan agar lulusan pondok Roudlotul Ulum menjadi santri yang siap ditempatkan didaerah-daerah yang membutuhkan ilmu mereka.

Selain itu, Roudlotul Ulum juga berencana akan mengadakan kerja sama dengan Negara Sudan. Hal ini dilakukan untuk menfasilitasi lulusan pondok yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Program ini telah dirintis oleh ponpes Sidogiri.

Pondok ini juga mempunyai program pengiriman tenaga pengajar ke pondok-pondok  lain. Program ini sudah berjalan cukup lama, mereka banyak dikirim ke daerah Madura seperti, Kamal, Pamekasan, Bangkalan sampai ke Sumenep, sedangkan daerah timur mulai Probolinggo, Lumajang, Jember sampai ke Banyuwangi.

Sistem penerimaan santri, sama dengan pondok-pondok salafiyah lainnya. Namun, ada tes khusus yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kemampuan santri. Sehingga dalam penempatannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Adapun pendaftarannya tidak dikenakan  biaya pendaftaran, hanya para murid dikenakan biaya bulanan : untuk pondok sebesar Rp. 3.500,- dan untuk madrasah Ibtidaiyah mulai kelas I s/d Mu’allimin kelas V sebesar Rp. 2.500 s/d Rp. 5.000,-. Tentunya  biaya operasional pondok ini tidak akan mencukupi jika tidak ditunjang dengan memanfaatkan tanah ladang dan sawah yang dimiliki pondok.

Perkembangan jaman yang begitu pesat ini, menuntut Pondok Roudlotul Ulum untuk siap menghadapi tantangan. Dimana pondok dituntut untuk mengambil langkah-langkah baru menuju perkembangan pondok ke depan. Seperti pengembangan pelajaran dan pengetahuan yang berhubungan dengan kemajuan teknologi bagi santri. Namun, harus tetap mempertahankan ciri khususnya yaitu : Salafiyah, dengan pedoman   “ Almuhafadzoh ala- alqodimis- sholeh wal akhdzu biljadidil- aslah “ (Mempertahankan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat).

baca juga: Madrasah Tua Ini Dulu Merupakan Tempat Ngaji Para Habib Dan Kiai

baca juga: Profil Universitas al-Ahgaff Hadhramaut Yaman

baca juga: Darul Musthafa Tarim, Citranya Seharum Namanya

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

dapatkan buku: Khulasoh Madad+Maulid Dhiyaullami, Maulid Diba’, Qosidah Burdah dan Hadrah Basaudan

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *