Pesantren Ibnu Amin Pamangkih, Khazanah Salaf Di Bumi Kalimantan

ibnul-amin

Dalam perjalanan rubrik jalan-jalan kali ini kami sengaja mengajak anda untuk menengok sekilas tentang sejarah salah satu Pondok Pesantren di Kalimantan Selatan, yang diasuh dan didirikan oleh K.H. Mahfuz Amin atau biasanya di panggil Abah Pengasuh yaitu Ponpes Ibnul Amin.

Berdirinya ponpes ini didasari oleh niat dan keinginan yang sangat kuat, sehingga walaupun beliau hampir selama dua puluh tahun berkecimpung di masyarakat, mengajar dan belajar agama, berbagai macam pengetahuan dan pengalaman beliau lalui dan  beragam pahit manis kehidupan  beliau jalani, namun cita-cita ingin menyebarkan dan meninggikan agama Allah tidak pernah padam.

Tepatnya  pada tahun 1958, fajar cita-cita yang diidam-idamkan Abah Pengasuh mulai terbit bersinar dari desa Pamangkih, Banjarmasin. Lembaran kitab kuning yang mulai sirna kembali cerah, dengan berdirinya sebuah Pondok Pesantren yang bernama Ibnul Amin.

Pesantren ini lahir hingga menjadi pesantren besar berkat jasa dan perjuangan Abah pengasuh sendiri dengan dibantu sebagian murid, masyarakat dan pemerintahan. Dalam satu tulisan Abah Pengasuh yang berbunyi,”Cara keuangan asalnya gotong royong sama pelajar yang berjumlah 17 orang yang akhirnya dibantu oleh sebagian masyarakat sedikit-dikit dan pemerintah, masyarakat terhadap Pesantren sebagian menyukai dan mendukung ala kadarnya, sumber keuangan tertentu belum ada.”

Dari pengalaman mengajar  di Langgarlah  yang menumbuhkan benih cita-cita beliau untuk merubah dan merombak sistem dan struktur pendidikan agama, agar sesuai dengan perkembangan ilmu dan jaman dalam alam kemerdekaan.

Memang  ada beberapa faktor dari pengalaman Abah Pengasuh selama hidup di Langgar  yang mendorong lahirnya satu angan-angan besar dan mulia ini. Faktor Utama, yaitu terlalu lambannya  waktu, untuk menghabiskan masa pendidikan yang ditempuh di Langgar, dimana seorang murid untuk bisa menamatkan Ibnu Agil dalam Nahwu atau Sharaf atau menyelesaikan Fathul Mu’in dalam bidang Fiqih, ia harus belajar puluhan tahun atau lebih.

Faktor Kedua, santri atau pelajar yang tinggal di Langgar  kadang-kadang melebihi kapasitas tampung, sehingga tidak teratur mana tempat tidur, makan, atau memasak.

Faktor Ketiga, seorang Tuan Guru atau  Kyai (bhs jawa) kurang memberi kesempatan kepada muridnya untuk  tampil, trampil dan mahir  dalam bidang-bidang ilmu. Hampir tidak ada seorang muridpun yang telah menguasai sebuah ilmu untuk diberi kesempatan mengajar kepada murid di tingkatan bawahnya. Hal ini berakibat payahnya seorang Tuan Guru , karena dari kitab yang paling kecil hingga yang paling besar terpaksa beliau sendirian yang mengajarnya.

Dari ketiga faktor inilah tumbuh sebuah cita-cita untuk merubah sistem lama itu ke sistem yang lebih maju. Abah pengasuh selalu memikirkan bagaimana cara atau metode mengajar yang lebih efesien agar dalam waktu relatif singkat setiap murid dapat menyelesaikan dan menguasai ilmu yang diajarkan.. Waktu belajar  yang biasa  ditempuh selama sepuluh tahun dapat diperpendek hingga masa enam tahun dengan hasil yang sama.

Namun satu cita-cita yang lahir  dalam masa  usia yang muda dengan pengalaman yang sangat terbatas dan ilmu pengetahuan yang tidak begitu dalam, belumlah mampu dilahirkan dalam wujud yang nyata, harus ada satu dorongan moral yang sangat menentukan dalam mewujudkan angan-angan tersebut.

Perpaduan antara keinginan dan cita-cita ditambah dengan dorongan  nasehat moral yang penting tentang tercapainya pembangunan Pesantren Ibnul Amin diantaranya, wasiat dari orang tua pengasuh sendiri (Tuan Guru Ramli) dan Wasiat dari Kyai H. Abu Bakar, Tambun Jakarta, sewaktu beliau berkunjung ke Pamangkih pada tahun 1957.

Dalam wasiatnya Tuan Guru Ramli berpesan supaya  mengadakan kegiatan pelajaran-pelajaran agama lebih ditingkatkan dari pada beliau, dan wasiat dari K.H. Abu Bakar,berpesan supaya membangun Pesantren untuk  kemajuan pelajaran agama, karena hasilnya sangat diharapkan.

Sistem Pendidikan dan pengajaran yang ditempuh di Ibnul Amin tidak berbeda dengan pondok-pondok Pesantren Salafiyah di Jawa, hanya Abah Pengasuh mempunyai cara tersendiri yang beliau terapkan. Beliau membagi menjadi tiga kelompok “Pan” dan kitabnya dengan beberapa sistem diantaranya.

Pertama, santri baru yang hanya bisa membaca Al-Qur’an, diberikan pelajaran dua kali, pagi  dan sore dengan wajib mengahafal kitab Tasrifan yang disusun oleh Abah Pengasuh sendiri, ditambah dengan pelajaran ibadah dengan kitab Tangga Ibadah susunan H.M. Zuhdi (adik pengasuh). Kalau santri yang masuk belum bisa membaca Al-Qur’an, maka diberikan pengajaran dengan sistem Iqra’ secara khusus.

Cara belajar dengan memakai lokal dan duduk di kursi, menghadap meja serta dipimpin seorang santri senior yang menuliskan materi pelajaran di papan tulis untuk disalin santri lainnya.kemudian si pemimpin menjelaskan materi pelajaran tersebut. Setelah selesai tasrifan, santri diuji dan apabila telah benar-benar menguasainya serta hafal diluar kepala, maka dinyatakan lulus serta berhak mengikuti pelajaran selanjutnya. Jadi lokal hanya dipakai untuk pengelompokkan bukan untuk naik kelas.

Bagi santri yang baru cara ini dijalani kurang lebih satu tahun, dengan beberapa kitab yang harus dia selesaikan mulai tasrifan, Jurumiah, Mutammimah dan Kailani, semuanya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf, kesemuanya dihafal kecuali Kailani.

Kedua, penyempurnaan dari yang pertama, cara yang digunakan adalah seorang santri yang senior memimpin santri yunior dengan membacakan kitab-kitab pelajaran, menterjemahkan serta menerangkan maksudnya tanpa santri menghafalnya, hanya apabila selesai kitab yang dibaca diadakan ujian, sehingga santri tersebut mampu untuk mempelajari kitab-kitab selanjutnya.

Ketiga, pendalaman atau dengan istilah muwasalah sampai menamatkan kitab-kitab yang besar-besar seperti Tahrir, Qalyubi, Mahalli dalam ilmu Fiqih, Shawi sampai selesai dalam ilmu tafsir, Bukhari  dalam Hadits, dan lain-lain, dalam tahapan ini waktunya  tidak tertentu sampai beberapa tahun baru selesai. Biasanya dalam waktu enam tahun  santri sudah dianggap cukup  dalam pengetahuan agama sebagai seorang pribadi Muslim.

Sistem pelajaran untuk tahap ketiga ini ditempuh dengan sistem bebas test dan hanya memakai sistem halaqah di Mushalla atau dirumah-rumah para Guru yang berada disekitar komplek Pesantren.

Model sistem diatas  ternyata terbukti berhasil baik dengan kurun waktu enam tahun kalau seorang santri benar-benar tekun dan rajin mengikutinya, Insya Allah akan pandai membaca kitab-kitab kuning(kitab gundul), bahkan kalau seorang santri didukung dengan kecerdasannya tidak mustahil dengan masa yang kurang dari enam tahun sudah berhasil menguasainya dengan baik.

Memang begitulah model pendidikan di Ibnul Amin , walaupun sering orang bertanya, mengapa seorang santri baru, hanya diberikan satu mata pelajaran dengan dua waktu, bukankah waktu yang kosong  banyak terbuang, kenapa tidak langsung diberikan sebanyak mungkin tujuh sampai sepuluh mata pelajaran, bukankah dia berada di Pondok selama duapuluh empat jam.

 

Abah pengasuh punya metode dan falsafah tersendiri dalam mendidik anak muridnya, seperti yang sering beliau katakan, “Otak kebanyakkan manusia dalam daya tangkap sangat terbatas namun daya simpan sangat besar, laksana sebuah botol mulutnya kecil perutnya besar, kalau ingin mengisi botol tersebut dengan air yang berada di gayung (timbah) tentunya kalau ingin botol itu benar-benar penuh haruslah menumpahkan air dengan sedikit demi sedikit, kalau kita tumpahkan air sebanyak dalam timba habis, botol tidak penuh.”

 

Tentunya setiap aktifitas belajar mengajar di ponpes akan dapat berjalan dengan baik apabila ditunjang dengan sarana prasana,guru dan sumber dana yang memadai. Begitupun Ponpes Ibnul Amin telah menerapkan konsep itu, sejak  berdirinya, Abah Pengasuh sudah mulai merintis ke arah itu seperti yang pernah beliau lakukan bersama santrinya dengan dibantu masyarakat menanam pisang yang hasilnya 100% untuk Pondok. Beliau juga mengadakan pertanian kolektif untuk pesantren, membuka tempat penjualan bahan bakar. Ditambah dengan  mendirikan penggilingan padi yang bersifat kerjasama 25% untuk Pesantren sisanya untuk H. Murad Amuntai yang membantu pengadaan mesin-mesinnya.

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

baca juga: Profil Universitas al-Ahgaff Hadhramaut Yaman

baca juga: Darul Musthafa Tarim, Citranya Seharum Namanya

Walaupun dari usaha-usaha diatas ada hasil yang dirasakan namun masih jauh dari cukup untuk keperluan bangunan dan aktivitas Pesantren. Kadang-kadang demi untuk lancarnya pembangunan Pondok, tidak jarang Abah Pengasuh mengorbankan harta benda anak istrinya hingga padi untuk kepentingan makan sehari-haripun dijual kalau keadaan memaksa..

Meskipun usaha-usaha untuk pembiayaan pembangunan Pondok begitu sulit, Pesantren Ibnul Amin sejak berdirinya sampai sekarang belum pernah mempunyai suatu yayasan yang bertanggung jawab dalam penyediaan  semua keperluan material. Hal ini disebabkan adanya pendirian K.H. Mahfuz Amin selama beliau masih hidup dan mampu berusaha maka yayasan untuk Pesantren tidak akan didirikan. Dalam sebuah surat wasiat  beliau yang tertulis diatas segel pada tanggal 21 september 1991 yang berbunyi, “Pengelolahan Pondok pesantren Ibnul Amin Pamangkih jangan dipindahkan kepada yayasan.”

Sejak berdirinya Pesantren Ibnul Amin secara resmi pada tanggal 11 Mei 1958/ 22 Syawal 1378.H, K.H. Mahfuz Amin sebagai pencetus dan pendiri sekaligus Pengasuh dan pengajar selalu berusaha untuk mengembangkan dan membesarkan, baik fisik maupun penyampaian ilmiah apalagi pendidikan dan pelajaran yang ada di dalamnya.

Dari tahun ke tahun dengan segala kesederhanaan Pondok Pesantren Ibnul Amin membangun diri, baik fisik maupun penyampaian ilmiah selalu maju dengan pesatnya sehingga menurut data terakhir sewaktu masih ada Abah Pengasuh tahun 1994/ 1415.H  jumlah santri sebanyak 1415 orang dengan luas komplek 5 hektar.

Inilah perkembangan Ibnul Amin,  Alhamdulillah sangat mengembirakan, tidak sedikit dari alumni yang pulang  membawa ilmu  yang diperoleh, dapat turut berpartisipasi terhadap perkembangan penyebaran agama di  masyarakat.

Begitulah perjuangan K.H. Mahfuz Amin hingga di hari tua  dengan usia 80 tahun serta  dibantu oleh kerabat-kerabat yang setia, mampu menghidupkan ajaran-ajaran salafi dan menghidupkan perjuangan Rasulullah SAW. Mudah-mudahan Ibnul Amin tetap menjadi nara sumber ilmu-ilmu agama sampai hari Akhirat Amin Ya rabbal Alamin. (disadur dari sejarah ponpes Ibnul Amin, H Muhamad Abrar D)…

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *