Perjuangan Imam Abul Hasan al-Asy’ari Meluruskan Akidah Aswaja

Allah, Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatul lil Hawaditsi……dst. Rangkaian kata-kata  tersebut sangat akrab di telinga kita. Tak hanya di Nusantara, Umat muslim di seluruh penjuru dunia menghafalnya. Salah satu orang yang sangat berjasa menyebarkannya adalah Sultan Salahuddin al-Ayyubi, sedangkan perumusnya adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ary.

Sifat-sifat Allah yang disebut di atas adalah salah satu dari inti akidah Islam ahlussunnah yang disepakati mayoritas ulama sedunia dari dulu hingga kini. Akidah tersebut kini lebih dikenal sebagai akidah Asy’ariyah. Dinisbatkan kepada perumusnya, yaitu Abul Hasan Ali al-Asy’ari

Rumusan teologi al-Asy’ari bukanlah aqidah baru. Akan tetapi meluruskan kembali aqidah ahlussunnah yang sekian lama dibelokkan terutama oleh dua kelompok besar, Mu’tazilah dan Qadariyah. Oleh karena itu pemikiran-pemikiran al-Asy’ari tersebut dapat diterima oleh mayoritas umat Islam. Hingga saat itu, al-Mutawakkil, khalifah pengganti al-Wasiq menghapuskan pemakaian aliran Mu’tazilah sebagai akidah resmi negara dan menggantikannya dengan akidah al-Asy’ariyah.

Akidah Asy’ariyah menyebar dengan pesat dan pada akhirnya mampu mendominasi alam pikiran dunia Islam. Penyebaran ajaran ini ke berbagai pelosok dunia Islam dilakukan oleh madrasah Nizamiyah yang didirikan Nizam al-Mulk. Madrasah ini mempunyai cabang hampir di setiap kota penting dalam wilayah Dinasti Abbasiyah.

Di Mesir dan Suriah, teologi Asy’ariyah juga berkembang dengan subur karena mendapat dukungan kuat dari Dinasti Ayyubiyah. Salahuddin al-Ayyubi, pendiri Dinasti ini, menghapuskan sistem pengajaran bercorak Syiah peninggalan Dinasti Fatimiah dan menggantikannya dengan corak sunni Asy’ariyah.

Di Andalusia dan Afrika, akidah ini disebarluaskan oleh Ibnu Tumart pendiri Dinasti Muwahhidun.

Akidah Asy’ariyah berkembang di dunia timur, India, Afghanistan, dan Pakistan berkat dukungan Mahmud Gaznawi, pendiri Dinasti Gaznawi yang berpusat di India.

Di Indonesia sendiri, akidah Asy’ariyah menjadi akidah mayoritas umat Islamnya. Maklum saja, pembawa Islam ke Nusantara ini adalah wali songo yang masih keturunan Bani Alawi dari Hadramaut, Yaman. Bani Alawi adalah pendukung utama akidah Asy’ariyah yang dimotori oleh Imam al-Faqih al-Muqaddam.

 

 

LATAR BELAKANG

Abul Hasan al-Asy’ari dilahirkan dari keluarga ulama di Basrah pada 873 M dengan nama Ali. Datuknya adalah Abu Musa al-Asy’ari yang termasyhur, seorang sahabat yang terkenal cerdas dan ahli strategi. Ia mendapatkan pendidikan dasar dari ayahnya sendiri, Syeikh Ismail. Mula-mula Ia mempelajari Al-Qur’an, hadits, fiqh dan ushuluddin hingga menguasai semuanya. Lalu setelah melihat kecerdasan dan ketekunan Abu al- Hasan, ayahnya yang merupakan ulama rasih (kompeten) mengajarinya filsafat, logika dan sastra.

Namun, ketika usianya belum beranjak remaja, ayahnya meninggal dunia. Kemudian ibunya menikah dengan seorang ulama terkemuka dari golongan Mu’tazilah, Abu Ali al-Jubba’i. Abul Hasan lalu menggali ilmu pengetahuan darinya. Karena ketekunan dan kemampuan intelektualnya yang tinggi, ia menjadi murid kesayangan al-Jubba’i. Gurunya tersebut sering mengutusnya mengikuti berbagai forum diskusi dan perdebatan, Kegiatan yang semakin mematangkan pengetahuannya. Karena ia dapat bertemu dan berdiskusi dengan ilmuwan-ilmuwan besar kala itu.

Ia juga acapkali melakukan diskusi dengan al-Jubba’i tentang berbagai masalah keagamaan, terutama bidang tauhid. Namun ia sering merasa tak puas terhadap jawaban dan penjelasan yang diberikan gurunya itu. Dalam kitab Thabaqat as-Syafi’iyah Kubro, imam as-Subuky meriwayatkan bahwa imam al-Asy’ary menganut faham Mu’tazilah selama empat puluh tahun sampai ia menjadi imam mereka.

 

TITIK BALIK

Suatu ketika Abul Hasan berdiskusi bersama al-Jubbai, guru dan ayah tirinya. “Ada tiga orang muslim meninggal dunia. Yang pertama orang dewasa yang taat beribadah, yang kedua orang dewasa yang suka bermaksiat, dan yang ketiga seorang anak kecil, bagaimana pendapat anda?” tanya Abul Hasan. “Yang pertama mendapat pahala dan masuk surga, yang kedua disiksa di dalam neraka, sedangkan yang ketiga tidak mendapat pahala tidak pula mendapatkan siksa.” jelas al-Jubba’i.

“Jika yang masih kecil bertanya, “Ya Allah, mengapa tidak Kau jadikan aku dewasa lalu melakukan ketaatan sehingga masuk surga.” Bagaimana jawaban Allah?. Tanya Abul Hasan. “Aku (Allah) mengetahui bahwa jika kamu jadi dewasa, kamu akan jadi orang yang ahli maksiat. Maka yang baik bagimu adalah meninggal sebelum dewasa.” Jawab al-Jubba’i.

“Namun, apabila orang yang suka bermaksiat balik bertanya. ‘ya Allah, mengapa Engkau tidak mematikan aku saat masih kecil, sehingga tidak masuk neraka..?” Tanya Abul Hasan kembali. Al-Jubba’i jadi kebingungan dan tak kuasa menjawab.

Diskusi kecil inilah yang menjadi titik balik keimanan Abul Hasan. Ia menyadari bahwa pandangan-pandangan Mu’tazilah penuh kelemahan. Ia lalu meneliti kembali pendapat-pendapat para sahabat, tabi’in dan para imam tentang ushuluddin (kaidah dasar Islam) untuk kemudian merumuskan kembali sesuai akidah ahlussunnah. Jawaban yang ditemukan oleh Abul Hasan adalah bahwa Allah tidak wajib untuk menakdirkan yang terbaik bagi makhluknya dan bahwa anak kecil yang belum baligh dimasukkan surga.

Allah SWT menghendaki Abul Hasan menjadi penyelamat agama-Nya. Ketika berusia 40 tahun, al-Asy’ari menyatakan diri keluar dari kelompok Mu’tazilah. Diantara alasan yang ia kemukakan ialah: pertama, ia bermimpi bertemu Rasulullah  yang memerintahkannya keluar dari Mu’tazilah dan menyelamatkan akidah. Kedua, ia tidak puas dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan gurunya. Ketiga, ia melihat bahwa aliran Mu’tazilah tak dapat diterima secara syar’i

Setelah keluar dari Mu’tazilah ia mulai mengemukakan pandangan teologinya dalam kitab al-Luma fi ar-Radd ala ahli zaigh wal bi’da’ Dan kitab al-Ibanah ‘an ushul ad-Diniyah. Ajaran-ajaran pokok al-Asy’ari ada tujuh, diantaranya adalah,

Pertama, tentang sifat Allah. Menurutnya Allah mempunyai sifat dua puluh yang diantaranya adalah al-Ilm (mengetahui), as-sama’ (mendengar), al-basar (melihat). Dan sesungguhnya Allah  mengetahui bukan dengan zat-Nya seperti pendapat Mu’tazilah, melainkan mengetahui dengan pengetahua-Nya. Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya.

Kedua, tentang kedudukan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk dalam arti diciptakan. Ketiga, tentang melihat Allah di akhirat. Allah akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud.

Abul Hasan al-Asy’ari dikarunia kepribadian yang mulia. Ia adalah sosok pemikir besar yang terkenal wara’ dan ahli ibadah. Diriwayatkan bahwa ia melaksanakan sholat shubuh dengan wudhu isyak. Syaikh Abu Imran Musa bin Ahmad berkata, “Aku mendengar dengan telingaku sendiri ayahku berkata, “Aku berkhidmat kepada al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari selama bertahun-tahun sampai beliau meninggal. Dan selama itu pula, aku tak pernah melihat orang yang lebih wara’ darinya. Beliau sangat menjaga penglihatannya dari maksiat. Beliau juga sangat semangat dalam urusan akhirat dan enggan mengenai urusan dunia.

baca juga: Ketika Kiai Abdul Hamid Membuka Kewalian Kiai Syarwani Abdan

baca juga: Kisah Santri Yang Kecipratan Karomah Kiai Hamid

baca juga: Dua Ujian Yang Memotivasi Kiai Jazuli Untuk Sukses Menjadi Ulama

Syaikh Abdul Karim al-Qusyairy berkata, “Ia (Abul Hasan) adalah pemimpin para imam ahli hadits. Ia berbicara tentang dasar-dasar agama dengan mazhab ahlussunnah. Ia adalah pedang yang tajam bagi kaum Rawafid dan ahli bid’ah.

Al-Allamah Abu Ishaq al-Isfirayiniy berkata, “Diriku jika berada di samping syaikh Abul Hasan al-Bahily ibarat setetes air di samping lautan luas. Sedangkan aku mendengar syaikh al-Bahily berkata, “Diriku jika berada di samping al-Imam Abul Hasan al-Asy’ary ibarat setetes air di samping lautan yang luas.”

Karya-karya imam Abu al- Hasan tak kurang dari 200 buku. Diantaranya adalah al-Fushul fi al-rad ‘ala al-mulhdin wal kharijin ‘alal millah, ‘al-Amad, al-mujaz, iydhahul burhan, al-lam’ul kabir, al-lam’us shagir, al-idrak, al-mukhtashar fit tauhid wal qadar, dan karyanya yang terbesar mengenai ilmu kalam adalah Maqalat al-Islamiyah. Dalam buku ini ia membandingkan filsafat yunani dengan filsafat Islam serta menjadikan ilmu kalam sebagai dasar filsafat Islam

Kebesaran Abul Hasan al-Asy’ary diakui seluruh pengikut ahlussunnah. Pemikiran-pemikirannya diterima oleh ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar dari dulu hingga kini. Berikut adalah sedikit dari ulama-ulama besar yang menahbiskan dirinya sebagai penganut akidah Asy’ariyah; Abul Hasan al-Bahili, Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini, al-Ustadz Abul Qosim al-Qusyairy, Syaikh Abu Ishaq as-Syairazi, sayid Ahmad ar-Rifa’i, al-Qadhli ‘Iyadh, Imam an-Nawawi, Imam Fachruddin ar-Razy, al-Iz bin Abdussalam, Taqiyuddin as-Subuky, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Syaikh Zakariya al-Anshari, Syaikh Abdullah as-Syarqawi, Syaikh Abubakar al-Baqilani, al-Hafidh Ibnu Faurak, Imam al-Ghazali, Imam Abubakar as-Syasi al-Qoffal, Abu Ali ad-Daqaq an-Naisaburi, Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, al-Faqih Husein bin Abdullah Bilfaqih, bahkan seluruh pemimpin Sayid Bani Alawi yang berpusat di Hadramaut menganut akidah Asy’ariyah.

Selain para ulama diatas. Akidah Asy’ariyah juga dianut oleh tokoh-tokoh yang mengibarkan agama Allah. Diantaranya adalah; al-Wazir Nidham al-Mulk, Sultan Shalahuddin al-Ayubi, pengusir tentara salib Eropa dari Baitul Maqdis, Sultan Kholil bin Manshur, pengusir tentara salib dari Syam, sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Kostantinopel. Syamsul

dapatkan buku: Khulasoh Madad+Maulid Dhiyaullami, Maulid Diba’, Qosidah Burdah dan Hadrah Basaudan

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *