Mewaspadai Pemahaman Sekuler

Dalam kehidupan beragama, akidah bagaikan asas dan pondasi dari suatu bangunan. Sebelum membangun sebuah gedung dan segala aksesorisnya maka pondasi harus lebih dulu ditanamkan dengan kuat agar mampu menopang segala yang ada di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan beragama dan bermoral. Tanpa akidah yang benar maka sia-sia amal yang dikerjakan oleh seseorang. Akan mudah rapuh bangunan religinya.

Yang perlu dicermati, bahwa tidak semua nilai-nilai filosofi dan moral yang digagas, diyakini dan di-implementasikan bahkan dibudayakan oleh manusia merupakan kebenaran mutlak. Tidak semua gagasan rasio dan logika manusia menjawab misteri kebenaran sejati dalam kehidupan umat manusia itu sendiri. Itu karena tidak semua nilai yang dipahami manusia bersifat empiris dan indrawi. Ada hal-hal yang lebih membutuhkan kepekaan rasa (keimanan) daripada sekedar ketajaman nalar.

Kecenderungan nalar manusia adalah menangkap realitas yang ada dalam kehidupan dunia ini sesuai informasi melalui indranya. Sesuai perspektif nalarnya. Itulah yang menjadikan kebanyakan manusia kerap mengedepankan kemampuan logika semata dalam mengamati, menilai dan meyakini sesuatu. Yang sangat disayangkan, tak jarang pada akhirnya akal manusia terjebak dalam sikap sekuler dan meteralistik. Sikap sekuler itu selalu muncul dan bahkan marak di setiap masa, dan dari generasi ke generasi umat manusia. Padahal sekularisme sama sekali tidak sejalan dengan fitrah dan nurani manusiawi.

Akal manusia merupakan makhluk dengan tingkat misteri yang sangat tinggi. Pepatah mengatakan bahwa akal manusia ibarat raksasa tidur. Tapi akal manusia juga memiliki keunikan dalam merespon informasi dari luar. Kadang akal mampu membaca sebuah fenomena sebagai suatu indikator akan adanya makna penting di baliknya. Kadang pula ia berhenti hanya sampai pada fenomena itu sendiri, tak mampu menangkap pesan penting di balik sebuah fenomena. Hal itu sebagaimana sikap orang-orang sekuler (baca: kafir) yang disinggung oleh Allah SWT :

 

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang (yang mereka ucapkan) itu, mereka hanyalah menduga-duga saja” (QS Al-Jasiyah [45]: 24).

Pemikiran semacam itu bukan hanya dihembuskan oleh semacam kelompok evolusionis modern saja. Di zaman nabi-nabi dahulu, penawaran konsep Tuhan Maha Esa dan keberadaan akhirat senantiasa mendapatkan pertentangan yang tak kunjung berkesudahan. Pengikut para nabi selalu lebih kecil jumlahnya dibanding dengan para penentangnya, meskipun berbagai argumen rasional dan logis telah ditawarkan oleh para pengkibar ajaran tauhid tersebut. Bahkan upaya makar musuh kerap mengancam keselamatan orang-orang santun yang telah dipilih oleh Tuhan alam semesta untuk menyampaikan risalah samawi itu.

 

SIKAP PRIMITIF AKAL MANUSIA

Pada sisi lain, kadang betapa primitifnya respon akal manusia terhadap fenomena yang dia tangkap dari indranya, sehingga manusia benar-benar berada pada suatu kegelapan pemikiran yang amat kelam yang juga dikenal dengan istilah jahiliyah itu. Dan keyakinan tanpa argumen logispun menjadi hal yang tak terelakkan lagi pada kehidupan “komunitas” ini. Hal itu bisa kita pahami dari jawaban mereka ketika ditanya mengenai budaya ritual irasional seperti halnya penyembahan berhala-berhala atau dewa-dewa rekaan manusia dan paham amenisme. Allah SWT berfirman :

 

 “(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?”. Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya” (QS Al-Anbiya’ [21]: 52-53).

Dari ayat-ayat di atas bisa dipahami bahwa kadang seseorang atau suatu komunitas melakukan sebuah rutinitas ritual tanpa argumen yang rasional sama sekali. Hanya karena hal itu sudah membudaya dan mentradisi. Mereka tidak pernah melakukan pemikiran ulang atau mengkritisi apakah yang mereka lakukan itu rasional atau tidak. Apakah obyek yang disembahnya itu layak jadi sesembahan atau tidak, pemikiran mereka bahkan tak mampu merespon secara logis sedikitpun. Itulah tindakan kelam dan primitif yang benar-benar irasional.

Manusia dengan keterbatasannya secara naluriah pasti akan mengakui kekuatan di luar dirinya. Tetapi sikap demikian itu tidak menjamin manusia lantas menemukan obyek (Tuhan) yang sebenarnya. Dan tidak pula lantas akan menimbulkan perilaku kehambaan yang rasional sebagaimana mestinya. Akal saja tidak pernah cukup untuk mengungkap misteri kebenaran sejati. Dan dalam sejarah perjalanan agama (samawi), para pembawanya kerap dibekali kekuatan nalar dan kekuatan lahir yang tidak lumrah (mukjizat) yang tak lain untuk tujuan menggugah kesadaran umat manusia. Dan kekuatan itu tentu saja bisa berbeda-beda bentuknya sesuai kondisi dan perkembangan pemikiran dan peradaban umat manusia.

Meski demikian, ternyata keberadaan mukjizat maupun argumen logis para utusan Allah tidak serta-merta dapat menggugah kesadaran umat yang dihadapinya. Meskipun ada sebagian yang lantas tunduk, merespon positif dan beriman kepada ajaran sang nabi, tetapi tidak sedikit pula yang antipati dan resisten. Inilah fakta unik bahwa manusia memiliki kecenderungan tidak suka pada kebenaran yang sesungguhnya (truth).

Bagi kebanyakan manusia kebenaran merupakan musuh utama kepentingan hawa nafsu. Allah menegaskan bahwa kebenaran merupakan musuh hawa nafsu manusia sebagaimana firman-Nya:

 

Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepada kamu, tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu” (QS Az-Zukhruf [43]: 78).

baca juga: Mengenal Rasulullah SAW Sebagai Pebisnis Handal

baca juga: Sejuta Khasiat Maulid Nabi Menurut Para Ulama Salaf

baca juga: Pitutur Abuya Sayid Muhammad al-Maliki Ini Membungkam Kelompok Anti Maulid

 

AKIDAH SEBAGAI SPIRIT AMAL

Kekuatan akidah akan memberikan motivasi dan pengaruh kuat bagi pemeluknya. Bahkan tak jarang berujung pada sikap fanatik yang luar biasa. Bahkan pengaruh ajaran agama jauh melampaui kekuatan senjata dan fisik manusia di manapun, kapanpun. Orang bisa mengesampingkan kepentingannya ketika mulai memasuki kehidupan spiritual yang lebih tinggi. Semangat spritualitas itu juga terwujud dalam bentuk front fisik yang amat dahsyat sebagaimana semangat jihad para pejuang agama Allah SWT (mujahidin).

Jika kita cermati kitab suci al-Qur’an, ayat-ayat yang turun ketika nabi masih di Mekah memulai dakwahnya, maka kebanyakan atau hampir seluruh ayat yang turun saat itu berisi muatan akidah (membangun ideologi). Yakni penawaran konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dan pembatalan segala bentuk kesyirikan. Artinya, bahwa akidah (idelogi) adalah hal pertama yang harus ditanamkan dalam hati manusia. Akidah harus benar-benar menyatu dengan jiwa dan raga manusia.

Al-Qur’an mengajak manusia berdialog dan mendiskusikan secara logis hal-hal yang harus diimani dan diikuti dalam hidup ini. Sehingga hal itu akan menjadi power spiritual yang akan merubah pola pikir dan tindakan manusia ke arah yang fitrah, jauh dari nilai-nilai irasional yang dipahami dan dipraktikkan selama ini. Islam menegaskan bahwa sikap dan tindakan syirik merupakan perilaku kotor (najis) yang meracuni akal dan kehidupan umat manusia. Dan dari kesyirikan itulah muncul budaya-budaya irasional yang sangat primitif.

Jika akidah sudah tertanam dengan baik dan mantap, maka aktifitas spiritual menjadi bermakna, santun dan logis. Dan pada akhirnya akan membuahkan interaksi vertikal antara manusia dengan Penciptanya. Dan tentu saja tak ada konsep ketuhanan, kehambaan dan kehidupan yang lebih baik dan layak dipercayai dan dijadikan jalan hidup daripada konsep yang datang dengan dialog logis, rasional dan fitrah. Yakni Islam yang diberlakukan secara universal bagi penduduk semesta sampai kapanpun.

Kekuatan dialogis yang ditawarkan oleh Islam telah memberikan pengaruh positif luar biasa dalam kehidupan umat manusia. Yakni nilai-nilai universal manusiawi yang memberikan kedamaian jiwa, ketenteraman hidup, jalinan sosial yang harmonis hingga pelestarian ekosistem yang penuh tanggung jawab. Nilai-nilai interaksi antara manusia dengan Tuhan-nya maupun di antara sesama merupakan suatu kekuatan dahsyat untuk memahami makna kehidupan ini dengan benar dan baik.

Kesantunan, kedamaian, ketenteraman, kerukunan, kesetaraan hak, kemakmuran, kenyamanan dan keindahan merupakan nilai-nilai yang didamba oleh jiwa manusia. Atau dengan kata lain bahwa yang harus dicari dan menjadi tujuan umat manusia dalam hidup ini adalah kebahagiaan sejati dengan diridhai oleh Tuhan-nya dan meridhai (anugerah) Tuhan-nya sebagaimana firman Allah SWT :

 

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-(Nya). Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]: 27-30). Anshory Huzaimi

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *