Mengapa Dunia Barat Alergi Dengan Kata “Jihad”?

 

Sebagai suatu agama universal (kaaffatan linnas), Islam harus senantiasa didakwahkan dan diperjuangkan agar diterima oleh seluruh umat manusia. Islam bukan milik golongan, bangsa atau ras tertentu. Islam adalah agama yang sangat terbuka dan inklusif. Nilai-nilainya sangat fitri (sesuai nalar budi) dan manusiawi. Islam harus dipahami secara komprehensif agar setiap orang tidak terjebak dalam kesalahan perspektif yang bisa berdampak munculnya apriori dan Islamphobia seperti yang terjadi di beberapa negara Barat. Sikap ini tidak mewakili nilai-nilai hak asasi manusia seperti yang mereka koar-koarkan selama ini.

Salah satu aspek yang kerap menjadi sorotan beberapa negara yang memandang sinis terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah menyangkut jihad (perang suci). Aspek inilah yang bahkan memunculkan istilah terorisme yang diidentikkan dengan Islam. Benarkah Islam memiliki doktrin jihad yang harus dipandang miring? Benarkah konflik-konflik berdarah yang muncul di dunia saat ini karena termotivasi oleh pemaknaan jihad yang muncul dari konsep Islam? Benarkah pertumpahan darah adalah ajaran Islam? Adakah alasan atas asumsi-asumsi sinis seperti itu?

Kita perlu membaca semua ini dari akar masalah. Peperangan dan konflik berdarah bukanlah fenomena yang muncul sejak kemunculan Islam. Peperangan dan clash antar bangsa atau golongan merupakan hal amat lumrah dan klasik dalam kehidupan umat manusia. Perang muncul sejak manusia ada di muka bumi. Pembunuhan pertama di dunia ini bukan oleh orang yang taat pada ajaran agama, melainkan oleh orang yang terpengaruh godaan setan. Peristiwa itu tak lain adalah kisah pembunuhan Qabil terhadap Habil yang keduanya bersaudara. Keduanya adalah anak kandung Adam a.s. dan Hawa.

Itulah awal terjadinya pembunuhan di muka bumi ini, dan itu pula yang mula-mula menginspirasi konflik dan perang antar umat manusia dari zaman ke zaman. Dari dulu hingga kini, dari generasi ke generasi, konflik dan peperangan senantiasa muncul di berbagai belahan bumi. Hampir tak ada bangsa dari berbagai agama yang terhindar dari fenomena berdarah itu. Jika sekarang muncul anggapan bahwa peperangan itu identik dengan Islam, maka itu merupakan pandangan yang tidak relevan dan bersifat menyudutkan.

Islam sesuai dengan namanya yang diambil dari kata salam atau silm yang berarti damai pada dasarnya tidak menganjurkan peperangan. Perdamaian dan cara-cara damai merupakan opsi awal yang justru diajarkan oleh Islam. Tetapi yang perlu diingat dalam hukum-hukum duniawi ini selalu ada yang namanya timbal-balik atau aksi dan reaksi. Jika umat Islam harus memilih opsi perang, maka itu karena mereka dihadapkan pada realitas pilihan yang tak bisa dielakkan, bukan karena Islam identik dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Merusak dan menghilangkan nyawa orang lain bukanlah hal yang diinginkan oleh akal sehat.

Arogansi orang-orang kafir Quraisy, kedengkian kaum Yahudi dan kelicikan kaum munafik menjadikan Islam tak punya pilihan selain harus memanggul senjata menghadapi mereka. Jadi yang namanya perang dalam Islam adalah sekedar sebuah metode penyeimbang terhadap perlakuan musuh yang suka merugikan umat Islam. Agama Tuhan yang memiliki nilai-nilai kebenaran universal itu harus lebih dipelihara jauh melebihi darah manusia. Umat Islam berperang karena memang dihadapkan pada pilihan harus berperang. Tetapi sesungguhnya, Islam lebih mencintai perdamaian sebab perang sama sekali bukanlah tujuan atau inti syariat. Inti syariat Islam adalah menjalin hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama makhluk.

Memang dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat menyangkut jihad. Jika dipahami secara dangkal, seolah-olah Al-Qur’an merupakan kitab agama yang berisikan banyak perintah berperang. Seolah-olah perjuangan penyebaran Islam itu tak bisa lepas dari peperangan. Padahal, memahami Al-Qur’an harus secara komprehensif dan tidak cukup hanya dengan sekedar membaca terjemahannya, lantas seseorang bisa seenaknya saja menyimpulkan maksudnya. Untuk memahami Al-Qur’an dengan benar dibutuhkan banyak pengetahuan pelengkap semisal UlumulQur’an dan ilmu Asbabun-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an). Tanpa bekal ini, maka seseorang bisa salah memahami maksud ayat demi ayat, atau bahkan akan terjebak melakukan distorsi makna yang berdampak kesalahan fatal terhadap maksudnya. Al-Qur’an juga tidak bisa ditafsiri dengan gaya hermenetika atau pemaksaan arti sesuai selera dan kepentingan penafsir atau kelompoknya. Hal itu bisa mendangkalkan pemahaman ajaran Islam yang sebenarnya.

 

OPINI BARAT

Jihad dalam Islam dilakukan karena faktor-faktor kondisional, yaitu  mempertahankan diri dan melawan musuh yang suka merugikan Islam dan kaum Muslimin. Umat Islam tidak mencari-cari musuh, tetapi juga tidak boleh lari atau menghindar dari musuh. Ingatlah bahwa kaum muslimin bisa berdampingan damai dengan pemeluk agama lain di Madinah sebelum mereka membikin ulah terhadap umat Islam. Jika Islam dimusuhi, maka musuh harus dilawan. Sekali pun demikian, Islam melarang perbuatan yang melampaui batas termasuk dalam berperang. Allah SWT berfirman :

 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah [2]: 190)

Contoh yang lain adalah perihal perbudakan yang merupakan konsekuensi hukum-hukum peperangan di seluruh dunia pada masa dahulu. Meski Islam menyinggung perihal budak, ini tidak berarti bahwa Islam mendukung adanya perbudakan. Pada dasarnya Islam justru menghendaki penghapusan perbudakan. Islam hanya merespon persoalan-persoalan yang terjadi di dunia dengan bijak, tidak terkecuali masalah peperangan dan perbudakan. Keduanya sama sekali bukan aspek yang dimunculkan oleh Islam.

Saat ini telah beredar opini yang dihembuskan oleh dunia Barat melalui kekuatan media mereka bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan, terorisme dan peperangan. Demikian kuatnya pengaruh media itu hingga hal ini berpengaruh kepada umat Islam sendiri (kelompok Liberal). Bahkan di beberapa negara Barat muncul Islamphobia (kekhawatiran terhadap Islam) yang amat merugikan Islam dan kaum Muslimin, terutama umat Islam yang ada di negara-negara tersebut. Mereka sering jadi obyek kecurigaan umat lain. Belanda, Swedia dan Denmark adalah contoh dari sekian negara yang belakangan memandang Islam dengan sinis.

Sejarah membuktikan bahwa kekerasan dan peperangan juga merupakan bagian tak terelakkan dari perjalanan panjang bangsa Viking, Spartan, Persia, Mongol, Byzantium, Barbar dan Roma. Bahkan kaum Kristen Barat (abad pertengahan) juga memiliki sejarah Perang Salib yang relatif panjang (1095-1270). Mereka terang-terangan memerangi umat Islam atas nama gereja dan katedral. Jadi amatlah tidak adil jika kemudian Islam yang dinilai sebagai agama yang identik dengan perang. Adalah tudingan tendensius dan miring jika lantas Islam dinilai sebagai ajaran yang identik dengan terorisme.

yamamah

Sementara di satu sisi, munculnya kekerasan dan konflik antar etnis di berbagai tempat di dunia ketiga seperti di beberapa negara di Afrika, Timur Tengah, Asia selatan dan Amerika Latin juga tidak lepas dari peranan negara-negara maju khususnya Amerika Serikat. Negara-negara produsen senjata seperti AS dan Rusia juga punya kepentingan ekonomi dengan mengambil peranan signifikan dengan menyuplai senjata kepada negara-negara konflik. Ketika di permukaan yang berperang adalah Irak dan Iran (1980-1988), di balik itu yang memperparah permusuhan kedua negara Teluk tersebut adalah AS dan Uni Soviet di masa perang dingin dulu.  Mengapa masih Islam yang  selalu dikambinghitamkan?

Letak persoalan sebenarnya bukan pada apa yang terjadi di permukaan, melainkan bagaimana media Barat meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan karena dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat jihad. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu. Ada banyak kepentingan non Muslim di balik konflik yang melibatkan kaum Muslimin. Misalnya saja konflik Arab-Israel, Afghanistan, Sunni-Syiah di Irak, dan sebagainya. Semua itu tak lebih dari mega proyek Barat untuk mencengkramkan pengaruh mereka dalam rangka, antara lain, mempermalukan Islam di hadapan penduduk dunia. Konflik-konflik demikian tak bisa disimpulkan dan diartikan begitu saja bahwa Islam identik dengan kekerasan.

baca juga: Maulid Nabi Sebagai Tonggak Kebangkitan Islam

baca juga: Ilmu Makrifat Dalam Pandangan Ulama Aswaja

baca juga: 11 Pokok Akidah Aswaja

 

DI BALIK LAYAR

Dunia tahu siapa sebenarnya yang punya peranan di balik konflik-konflik berdarah di aneka penjuru dunia. Inilah gaya kolonisasi modern ala negara maju yang sering merugikan umat Islam khususnya. Belum lagi jika kita bicara soal agresi budaya Barat terhadap dunia Islam. Sekali pun demikian, tetap saja gaung yang muncul adalah identiknya Islam dengan kekerasan dan terorisme. Padahal, kelompok seperti Al-Qaedah bukanlah representasi umat Islam pada umumnya. Tak ada metode jihad dengan cara bunuh diri dalam ajaran Islam. Dalam hal ini, peranan media Barat amat besar dalam merusak citra Islam di mata Internasional.

Jika kebetulan pelaku teror di berbagai tempat adalah orang Islam, maka itu sama sekali tidak mewakili Islam dan umat Islam. Jihad dalam Islam mempunyai aturan tertentu. Jihad yang dimaknai perang suci tidak bisa dilakukan oleh orang-per orang dengan melakukan bom bunuh diri di tengah komunitas non Muslim misalnya. Jihad tidak bisa dengan cara acak menembaki suatu kerumunan yang malah mungkin di sana terdapat muslim. Anak-anak dan kaum wanita tidak termasuk musuh yang boleh diperangi menurut ajaran Islam. Jihad adalah opsi akhir jika memang terpaksa harus dilakukan.

Suara miring yang ditujukan kepada Islam saat ini tidaklah mewakili fakta yang sebenarnya terjadi. Ini lebih karena faktor kekalahan umat Islam dalam membangun opini publik dunia melalui media. Jika Islam diidentikkan dengan perang, maka bangsa-bangsa non Muslim sebenarnya juga mengobarkan peperangan. Jika kebetulan orang Islam ada yang melakukan teror, maka banyak juga teror yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi. Sementara itu, pengertian teror itu sendiri belum baku dan amat tendensius. Mengapa pengusiran oleh Pasukan Zionis Israel terhadap warga Palestina dari tanah mereka tak pernah memunculkan istilah teror? Agresi Amerika dan sekutunya terhadap Irak dan Afganistan, juga tak pernah memunculkan istilah aksi teror terhadap mereka.

Apa yang dilakukan oleh pasukan Islam pada periode awal khilafah Islam adalah membebaskan negara-negara tetangga Arabia dari pasukan Byzantium dan Persia yang menduduki negara-negara itu saat itu. Jadi perang itu bukanlah ajaran yang dimunculkan oleh Islam melainkan bagian tak terelakkan dari hukum-hukum dunia dan ciri pergesekan antar umat manusia. Allah SWT berfirman :

 

Lalu setan memperdayakan keduanya (Adam dan Hawa) dari surga, sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) yang ada di sana. Dan Kami berfirman, ” Turunlah kamu! Sebagian kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi hingga waktu yang ditentukan.” (QS Al-Baqarah [2]: 36)

Sebenarnya, ada musuh yang jauh lebih besar dari semua musuh kita di dunia ini. Seperti yang pernah disabdakan Rasul sepulang dari perang Badr, “kita kembali dari perang kecil menuju perang yang amat besar.” Ternyata, itu adalah perang terhadap hawa nafsu…(*) Anshory Huzaimi

 

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *