Melakukan Maksiat Dengan Niat Akan Taubat; Nasehat Imam al-Haddad

 

مَثَلُ الَّذِيْ يُذْنِبُ لِيَتُوْبَ، مَثَلُ الَّذِي يُدَنِّسُ بَدَنَهُ وَثِياَبَهُ لِيَغْتَسِلَ ! وَماَ هَكَذَا يَنْبَغِي. إِنَّمَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَرِزَ مِنَ الدَّنَسِ ماَ اسْتَطاَعَ، ثُمَّ إِنْ وَقَعَ بِحُكْمِ الغَفْلَةِ وَالسَّهْوِ، كاَنَ الوَاجِبُ عَلَيْهِ التَّنَظُّفَ فِى الحاَلِ

“Perumpamaan orang yang berbuat dosa dengan tujuan untuk bertaubat, bagaikan orang yang mengotori badan dan pakaiannya untuk bisa mandi dan mencuci. Tidak sepatutnya orang yang berakal berbuat demikian. Seyogyanya ia menghindari kotoran semampunya, kemudian jika terkena kotoran karena lalai dan alpa, maka wajib baginya segera membersihkannya.”

(Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad)

 

Rencana adalah suatu proses keinginan manusia untuk membuat hidupnya lebih baik. Tiap rencana yang dibuat mempunyai konsekuensinya sendiri. Begitu pula rencana berbuat dosa yang timbul dari nafsu yang tidak terkendali.

Kebrutalan nafsu bisa membuat siapa pun terjerembab kedalam kubangan air kotoran yang penuh dengan kesengsaraan. Kita adalah pengendali diri sendiri. Baik buruknya tergantung kemana kita hendak membawa diri ini. Oleh karena itu, tidaklah layak apabila jiwa raga yang merupakan titipan Ilahi ini, kita biarkan tenggelam dalam rencana berbuat dosa meski dengan tujuan bertaubat.

baca juga: Wanita Yang Nikah Berkali-Kali Kelak Ikut Suami Yang Mana Di Akhirat?

baca juga: Bolehkah Tidur Setelah Masuk Waktu Shalat?

baca juga: Membunuh Deretan Hewan Ini Mendatangkan Pahala

 

Justru, sikap seperti itu menunjukkan kedangkalan cara berpikir, terlepas kondisinya sebagai orang yang berakal. Jika kotoran yang melekat di jasmani membuat kita tersiksa, bagaimana ketika kotoran yang berbentuk dosa ini bersemayam dalam rohani kita?

Mungkin kita merasa tersiksa di dunia akibat kotoran yang melekat dalam tubuh. Namun, sadarkah kita bahwa dosa-dosa yang kita lakukan dapat mengantarkan kita pada siksa neraka? Mungkin kita akan terbakar dengan bermain-main api, atau terluka karena bermain pisau. Namun, sanggupkah kita menahan siksa yang sebenarnya yaitu neraka akibat dosa yang menumpuk?.

Rasul SAW pernah membuat perbandingan antara orang beriman dan orang kafir dalam memandang dosa. Sabdanya:

ياَ أَباَ ذّرٍّ إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ تَحْتَ صَخْرَةٍ يَخَافُ أَنْ تَقَعَ عَلَيْهِ وَالكَافِرَ يَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ ذُباَبٌ يَمُرُّ عَلَى أَنْفِهِ

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya seorang mukmin akan melihat dosanya seolah-olah ia berada di bawah batu besar yang ia takut akan menimpanya. Sedangkan orang kafir melihat dosa bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya…” (Hr. Ad-Dailamiy)

Karena dosa, seorang mukmin akan merasa gelisah. Karena dosa, ia akan merasa cemas. Karena dosa pula seharusnya ia merasa bimbang. Demikianlah keadaan seorang mukmin melihat dosa-dosanya. Hanya dengan taubat yang sesungguhnya ia akan terhindar dari semua yang serba meresahkan ini.

Kelak, ada empat golongan orang di akhirat. Pertama, haalikiin (orang-orang yang binasa). Kelompok yang pertama ini adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah. Mereka menempati posisi yang mengerikan. Bukan pertolongan yang akan mereka peroleh melainkan laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia.

 

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu. Tidak akan diringankan siksa mereka, dan tidak (pula) mereka diberi penagguhan.” (Qs. Al-Baqarah: 161-162)

Iman kepada Allah membawa kita kepada kebahagiaan. Jaga dan bentengi ia dari setiap keadaan yang bisa membuat iman ini melayang. Bersyukurlah kita karena dilahirkan sebagai orang beriman. Jagalah iman seperti menjaga mutu-manikam yang sangat berharga. Bahkan, iman jauh lebih mulia dan berharga dari apa pun juga di dunia.

مَا أَمِنَ أَحَدٌ عَلَى إِيْماَنِهِ إِلاَّ سَلَبَهُ

“Tidaklah seseorang merasa aman dari hilangnya iman kecuali imannya akan benar-benar hilang.”

Kedua, muaddzabiin (golongan yang terkena siksa). Ini adalah kelompok orang-orang mukmin yang mendapat deraan siksa meski hanya untuk sementara waktu dikarenakan kesalahan yang belum termaafkan oleh Allah. Golongan kedua ini telah bersinggungan dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan tanpa sempat bertaubat. Meski pun begitu, golongan kedua ini pada akhirnya akan dimasukkan ke surga karena iman dalam dadanya.

أَسْعَدُ الناَّسِ بِشَفَاعَتِىْ يَوْمَ القِياَمَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مُخْلِصاً مِنْ قَلْبِهِ

“Manusia yang paling bahagia mendapat syafaatku di hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dengan murni dan ikhlas dari dalam hatinya.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasa`i).

Ketiga, An-Naajuun, yaitu orang-orang yang selamat dari siksa namun tidak memperoleh derajat mulia di sisi Allah. Mereka terdiri dari anak-anak kecil dan orang-orang yang kehilangan akal (gila), atau orang-orang yang belum sampai dakwah kepadanya.

Keempat, Al-Faaizuun (Orang-orang yang beruntung). Kelompok yang satu ini terdiri dari orang-orang beriman yang meningkatkan ibadah, berusaha meraih pundi-pundi pahala, serta mengisi waktunya padat dengan aktivitas kebajikan.

Keempat golongan ini dapat digambarkan seperti seorang raja yang berkuasa. Dengan kekuasaannya ia mengumpulkan rakyatnya untuk diajukan ke meja pengadilan. Di antara rakyat yang disidang, ada orang-orang yang divonis mati (haalikiin), dimasukkan penjara (mu`addzabiin) dalam jangka sekian tahun, juga ada yang dibebaskan dari segala tuduhan namun tidak memperoleh kedudukan (annaajuun), dan ada pula mereka yang dibebaskan dari semua tuduhan seraya menikmati hadiah dari sang raja (alfaaizuun). Yang terakhir inilah mereka yang beribadah, berakhlaq mulia, dan berilmu.

Untuk menjadi golongan beruntung dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan. Semua anggota tubuh kita akan dimintai pertanggung-jawaban: mata, telinga, mulut, tangan, kaki, walhasil semuanya! Hasilnya akan menentukan sejauh mana kelayakan kita menjadi orang yang berhak memperoleh keberuntungan di sisi-Nya. Ali Akbar bin Agil.

sumber: cahaya nabawiy

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *