Makna Ikhlas Dan Tiga Tingkatannya

Jika kita mengaku sebagai pengikut Al-Qur’an dan sunnah Rasul, tentu kita wajib berusaha menjadi umat yang senantiasa melestarikan nilai-nilai keimanan dan meningkatkan amal saleh baik secara kuantitatif dan kualitatif. Meningkatkan amal secara kualitatif adalah dengan ikhlas dan tulus dalam beramal. Ikhlas di sini menyangkut amal ibadah mahdhah  atau vertikal mau pun ibadah yang terkait dengan sesama  manusia atau muamalat. Ikhlas merupakan sikap para hamba Allah yang sejati, orang-orang yang istiqamah dengan amal salehnya dalam segala situasi dan kondisi.

Dari sisi bahasa, kata ikhlas berarti “tulus” atau “memurnikan.” Menurut terminologi Syara’, kata ikhlas berarti memurnikan amal semata-mata hanya karena Allah SWT. Ikhlas merupakan perbuatan hati dan bukan merupakan sesuatu yang kasat mata seperti amal-amal lahiriah. Sekali pun demikian, ikhlas bisa saja menjadi “tampak” karena beberapa indikator amal yang muncul dan identik dengan sikap ikhlas itu sendiri. Yang pasti bahwa sikap ikhlas yang ada pada seseorang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Ikhlas bukan suatu sikap yang bisa diwakili oleh sebuah pengakuan.

Ikhlas adalah jiwa bagi amal. Tanpa keikhlasan, sebuah amal menjadi minim nilai, sering tak bertahan lama atau boleh jadi tidak berpahala. Lawan dari ikhlas adalah riya’ atau sum’at (suka pamer). Riya’ terjadi karena motivasi amal seseorang bukan semata-mata karena Allah SWT. Bisa saja karena ingin dipuji, mendapatkan nama baik, ketenaran atau bahkan untuk menutupi cela diri. Riya’ dan sum’at bisa terkait dengan melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Jadi seseorang yang meninggalkan suatu amal karena orang lain juga termasuk tindakan riya’ yang juga dicela oleh agama.

Jika ikhlas merupakan faktor penting diterimanya amal di sisi Allah, maka riya’ dan sum’at merupakan penghalang pahala bagi amal. Sikap ikhlas sangat terpuji dalam pandangan Allah dan juga di mata manusia. Seseorang yang ikhlas tidak akan membedakan amal di hadapan orang lain atau ketika sedang sendiri. Orang yang ikhlas tidak memerlukan saksi atas amalnya selain Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka yang ikhlas akan sangat identik dengan sikap istiqamah. Tak ada kekeramatan yang lebih besar dari pada sikap istiqamah. Orang Sufi bilang, “Al-istiqamah ‘ainul-karamah” (Kekeramatan itu pada dasarnya adalah sikap istiqamah).

Ikhlas juga merupakan wujud dari sikap ihsan. Ihsan adalah sikap merasa berada di hadapan atau dalam pengawasan Allah ketika sedang beribadah. Ihsan merupakan kelengkapan iman dan Islam. Ia juga merupakan perbuatan hati sebagaimana iman. Ikhlas merupakan penyebab amal menjadi terasa tidak berat dan membuahkan istiqamah. Ikhlas merupakan karunia Allah yang luar biasa bagi orang-orang mukmin yang dipilihNya. Tidak semua orang mampu selalu bersikap ikhlas.

Dalam kehidupan beragama menyangkut keimanan secara umum, lawan dari kata ikhlas adalah nifaq. Orang-orang munafik adalah mereka yang tidak tulus dalam kehidupan beragama. Mereka hanya menghindarkan diri dari sanksi-sanksi hukum duniawi atau melakukan sesuatu hanya untuk meraup keuntungan duniawi semata. Mereka adalah orang-orang yang penuh kepura-puraan dalam amal, yang pada dasarnya bukanlah orang-orang yang beriman dengan benar. Orang-orang seperti mereka laksana duri dalam daging atau bara dalam sekam bagi umat Islam. Agama sering dirugikan oleh orang-orang semacam itu.

Semua manusia di muka bumi menjadi sasaran godaan Iblis dan anak- cucunya sesuai dengan sumpah Iblis di hadapan Allah SWT. Iblis tidak hanya menggoda manusia dengan perbuatan maksiat, tetapi akan memasuki segala ranah kehidupan manusia termasuk sisi amal baik mereka. Cara paling halus yang dilakukan oleh setan dalam menggoda manusia adalah melalui amal baik. Jika amal sudah termotivasi oleh selain keinginan menggapai keridhoan Allah SWT, maka ia sudah terkontaminasi oleh godaan setan. Karenanya, kita harus waspada dalam segala hal termasuk amal baik sekali pun. Sebab, jika setan gagal menggoda manusia melalui pintu maksiat, maka ia akan berusaha memasuki pintu amal saleh. Ini bisa lebih rawan karena merupakan godaan yang lebih halus.

Karena itulah maka tak ada orang yang beruntung di dunia ini melebihi orang-orang yang ikhlas. Hanya merekalah orang-orang yang terhindar dari godaan setan sebagaimana firman Allah menyangkut sumpah setan atas umat manusia:

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, sungguh aku pasti akan jadikan (maksiat) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang terpilih (dijadikan orang yang ikhlas) di antara mereka.” (QS Al-Hijr [15]: 39-40)

Dari ayat di atas maka jelaslah bahwa ikhlas merupakan jurus ampuh untuk menangkal godaan setan. Tentu saja ikhlas merupakan sikap yang tidak mudah untuk dipraktekkan. Ikhlas membutuhkan pelatihan yang terus-menerus dan sungguh-sungguh. Kita harus bisa melatih diri agar motivasi amal kita semata hanya karena Allah SWT. Kondisi atau situasi apa pun selain Allah tidak boleh menjadi motivasi yang melatar-belakangi suatu amal atau meninggalkannya. Di hadapan orang atau ketika sedang sendiri, ia tidak boleh  menjadi pembeda amal kita.

Ketika menjadi imam shalat , kita tidak seharusnya memanjangkan surat yang kita baca agar terkesan lebih khusyu’ sementara tidak demikian ketika shalat sendiri. Atau sengaja melakukan sedekah ketika berada di antara orang banyak. Dua hal di atas barangkali bisa menjadi sedikit contoh amal yang tidak ikhlas.

Tetapi tentu saja kita dilarang berprasangka buruk kepada orang lain bahwa mereka melakukan amalnya dengan tidak ikhlas. Sikap su’udzon atau berprasangka buruk juga merupakan perilaku yang jauh dari ikhlas. Kita tidak berhak menilai amal seseorang ikhlas atau tidak. Itu cuma wilayah Allah semata dan bukan wilayah kita. Kita wajib melatih dan menanamkan sikap ikhlas pada diri sendiri sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Jadi kewajiban kita adalah mengajarkan sikap ikhlas ini kepada orang lain, bukan menilai amal mereka ikhlas atau tidak ikhlas.

Jika pada mulanya ikhlas sulit dilakukan oleh seseorang, maka bukan berarti orang lantas meninggalkan amal. Bagaimana pun juga kewajiban tetaplah kewajiban yang harus ditunaikan, dengan ikhlas atau tidak. Selagi kewajiban tidak dilaksanakan, maka seseorang tetap memiliki hutang dan kewajibannya belum gugur baginya dan harus dipertanggung-jawabkan kelak. Orang yang sudah mengerjakan kewajibannya meski pun tidak ikhlas, minimal sudah menggugurkan kewajiban. Begitu pula halnya dengan menjauhi larangan atau maksiat. Ikhlas atau tidak, kita wajib menjauhi segala perbuatan maksiat itu.

Orang yang menunggu ikhlas untuk melakukan suatu amal sama saja dengan tidak ikhlas. Keikhlasan memang amat penting, tapi bukan berarti amal, terutama yang wajib, harus menunggu. Untuk mewujudkan keikhlasan maka seseorang harus banyak berlatih dan lebih “mengenal” Allah SWT. Orang yang ma’rifat (mengenal) Allah melalui sifat-sifatNya akan lebih bisa bersikap ikhlas dalam amal-amalnya. Sebab orang yang ma’rifat kepada Allah menyadari bahwa yang memberi manfaat atau bahaya hanyalah Allah. Maka tak ada perlunya memiliki tujuan selain Allah. Jika dia mengerti bahwa Allah-lah yang memerintahkannya untuk beramal saleh, maka apa untungnya memandang selain Allah?

baca juga: Hadirnya Nabi Dalam Majelis Maulid, Ulasan Ilmiah Para Habaib

baca juga: Mengendalikan Hawa Nafsu, Mengedepankan Akal

baca juga: Nasehat Habib Abdullah al-Haddad Tentang Dunia Sebagai Ladang Akhirat

 

Jika yang memberi pahala adalah Allah, maka apa artinya motivasi selain karena Allah? Jika segala puji hanya milik-Nya, maka untuk apa mengharap pujian makhluk? Jika selain Allah adalah makhluk yang sama dengan kita, maka apa alasan bergantung kepada mereka? Jika demikian halnya, maka tak ada yang patut menjadi motivasi suatu amal selain Tuhan. Orang yang demikian hanya melihat Tuhannya yang Maha Berhak atas amal-amalnya, sebab dia juga sadar bahwa dirinya bisa melakukan amal itu tak lain karena pertolongan Tuhannya.

Ikhlas itu terdiri dari tiga tahap: Pertama, seseorang mungkin saja termotivasi dalam amalnya oleh janji Allah SWT berupa surga dan segala kenikmatannya atau ingin mendapatkan ridho-Nya. Atau rasa takut masuk ke dalam neraka sebagaimana ancamanNya. Ini merupakan sikap ikhlas paling rendah. Orang yang seperti ini bisa saja enggan beribadah sekiranya Allah tidak menjanjikan surga atau mengancamnya dengan neraka. Tetapi hal ini masih disebut ikhas, sebab surga dan neraka masih merupakan hal asbtrak dan belum nyata dalam kehidupan dunia ini. Jika amal seseorang tidak karena motivasi demikian itu, maka ia termasuk kategori riya’ atau sum’at yang tercela itu.

Kedua adalah bahwa seseorang menjalankan ibadah atau amal saleh lainnya karena ia merasa diperintah oleh Allah SWT sebagai Tuhannya yang telah memberinya nikmat yang tiada terhitung. Ia sadar bahwa ia harus mengimbangi nikmat Allah itu dengan ibadahnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Orang dengan ikhlas tingkat ini tidak lagi sekedar ingin masuk surga atau takut masuk neraka, tetapi lebih merasa bahwa perintah Tuhan harus dijalaninya untuk bisa menjadi seorang hamba yang baik. Ia senantiasa ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur dengan hati, lisan dan segenap organ tubuhnya.

Ketiga adalah sikap ikhas paling tinggi, yakni di mana seseorang sudah merasa “menyaksikan” Tuhannya. Dia menyaksikan segala keindahan, kesempurnaan dan keagungan Tuhannya, sehingga Tuhannya pantas dan sudah semestinya disembah, disucikan dan diagungkan. Orang semacam ini akan cenderung menganggap ibadah sebagai sebuah kebutuhan baginya, dan bukan lagi sekedar sebuah kewajiban. Tak ada apa pun yang wujud dalam hakikatnya selain Allah, dan bahwa dirinya sama sekali bukanlah apa-apa. Orang yang berada pada tingkat ikhlas inilah yang disebut dengan istilah al-‘arif billah atau al-wasil ilallah.

Dalam istilah tasawuf, orang seperti ini juga disebut telah memasuki “area” Tuhan, dimana dia tidak lagi menyaksikan apa pun selain eksistensi Tuhannya. Hanya Tuhannya Yang Maha Ada. Jika demikian halnya, maka tak ada kondisi atau situasi apa pun yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas ibadahnya. Hidupnya akan ditotalkan untuk kegiatan ibadah kepada Allah SWT. Tak ada apa pun yang penting dalam pandangannya selain kegiatan beribadah kepada Tuhannya. Ikhlas juga merupakan kunci seorang hamba untuk bisa bertemu dengan Tuhannya kelak. Allah SWT berfirman :

 

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110) Anshory Huzaimi***

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *