Madrasah Tua Ini Dulu Merupakan Tempat Ngaji Para Habib Dan Kiai

khairiyah

Selamat datang di Madrasah Sang Pejuang. Sekilas madrasah Al-Khairiyah tidak berbeda dengan madrasah lainnya. Sebenarnya Al-Khairiyah menyimpan sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Bani Alawiyah terlibat langsung dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia.

Madrasah Al-Khairiyah didirikan pada tahun 1919 diatas sebuah tanah wakaf dengan luas sekitar 3000 meter persegi. Terletak di Jalan Raya KH. Asy’ari desa Kademangan, Kota Bondowoso Jawa Timur. Saat itu Indonesia masih dalam penjajahan Belanda.

Tanah wakaf ini adalah pemberian dari salah seorang kelompok tarekat yang enggan namanya disebut dalam catatan pengurus. Oleh karena itu kemudian disebut tanah wakaf dari “Ahlil Khair” saja, sebuah sebutan yang lazim bagi donatur tanpa nama.

 

Gerbong Maut

Sebenarnya banyak tantangan ketika mula-mula para Kiai tarekat ini mendirikan madrasah. terutama dari kolonial Belanda yang saat itu sangat memusuhi kelompok-kelompok keagamaan yang tidak kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Namun dengan tekad kuat dan keikhlasan tinggi, akhirnya sebuah Madrasah Al-Khairiyah berdiri dibangun dengan dana swadaya masyarakat.

Berdirinya Madrasah Al-Khairiyah juga merupakan benteng pejuang melawan kaum penjajah. Ingat peristiwa Gerbong Maut tahun 1947, sejumlah pejuang yang akhirnya ditangkap Belanda adalah murid-murid simpatisan Al-Khairiyah Bondowoso.

Menurut data sejarah Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bondowoso, sesudah meletusnya peperangan di kota Surabaya, di Bondowoso beberapa pejuang yang dengan gigih melawan pihak pemerintah kolonial ditangkap. Mereka akhirnya dibawa dengan Gerbong barang terbuat dari baja menuju Surabaya. Direncanakan sejumlah tawanan itu akan dimasukkan penjara Bubutan Surabaya.

Selama perjalanan kereta api itu, sejumlah pejuang mengalami penyiksaan yang amat luar biasa, sebab pada setiap gerbong (konon ada 4 gerbong yang dibawa menuju Surabaya) seluruhnya tanpa ventilasi. Tentu saja mereka mengalami sesak nafas lagipula mereka tidak diberi makan dan minum, sehingga beberapa orang ada yang minum air kencingnya sendiri karena mereka tidak tahan haus yang menjadi-jadi.

Setibanya di stasiun Wonokromo Surabaya gerbongpun dibuka, dari kira-kira 100 orang pejuang terdapat sekitar 30 pejuang tewas seketika. Diantara yang tewas itu terdapat seorang Ustadz Al-Khairiyah yaitu Habib Akhmad Assegaf yang juga pernah belajar di Madrasah tersebut.

Nama Ustadz tersebut kini diagungkan sebagai pahlawan kota Bondowoso dan peristiwa Gerbong Maut yang mengerikan itu diperingati di Bondowoso setiap tanggal 21 Nopember. Adapum gerbong yang membawa maut itu kini disimpan di Musium Brawijaya, Jalan Raya Ijen Kota Malang.

 

Pendidikan Al-Khairiyah

Secara historis pendiri  madrasah Al-Khairiyah Bondowoso ini adalah ulama yang menganut tarekat Alawiyah. Hal ini tidak berarti seluruh pengasuh madrasah ini menjadi pengikut Tarekat. Tetapi pendalaman ilmu-ilmu agama sangat diutamakan sampai kini.

Madrasah Al-Khairiyah berdiri dibawah sebuah yayasan pendidikan yang bernama yayasan Jumiyyatull Khair Al-Falah Al-Khairiyah. Merupakan yayasan pendidikan tertua di Kabupaten Bondowoso.

Madrasah Al-Khairiyah berdiri sejak tahun 1919 ditas sebuah tanah wakaf dengan luas sekitar 3000 meter persegi. Terletak di Jalan Raya KH. Asy’ari desa Kademangan, Kecamatan Kota Bondowoso (Jawa Timur).

Mula-mula yayasan ini hanya bergerak di bidang pendidikan dan da’wah. Namun belakangan ini juga berkiprah dalam urusan sosial dan budaya.

Pendidikan di Al-Khairiyah awalnya menerapkan model pendidikan sorogan, lambat laun kemudian berubah dalam bentuk kelas-kelas. Melalui suatu proses panjang, akhirnya saat ini madrasah al-Khairiyah menyesuaiakan diri dengan kurikulum pendidikan yang telah ditentukan  oleh Departemen Agama.

Madrasah Al-Khairiyah Bondowoso cukup dikenal terutama di kalangan keturunan Arab Pulau Jawa, apalagi yang pertama menjadi kepala sekolah perguruan tersebut adalah Ustadz Ali Bin Yahya seorang pendidik yang kesohor, maka nama Al-Khairiyah akhirnya dijadikan sebutan untuk sekolah-sekolah yang mereka dirikan.

Sejak tahun 1950-an madrasah ini meninggalkan sistem sorongan ke sistem kelas. Kurikulum disusun dengan perbandingan 40 % pelajaran Umum dan 60 % pelajaran agama. Demikian pula jumlah guru yang pada awal berdiri hanya tiga orang, maka  bertambah menjadi delapan orang.

Pada tahun itu pula disiapkan asrama bagi mereka yang berasal dari luar daerah. Ketika itu sudah terdapat siswa dari Surabaya, Denpasar, Mataram dan Jakarta. Diantara para guru dan siswa madrasah ini dalam perang kemerdekaan tahun 1945 juga telah ambil bagian dalam perlawanan fisik terhadap kaum penjajah.

Madrasah Al-Khairiyah berkembang cukup pesat. Hingga kini terdapat Raudhatul Atfal (Taman Kanak-Kanak), Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Kepandaian Putri (SKP) setingkat Tsanawiyah dan tingkat Aliyah.

Suksesnya pendidikan di Madrasah Al-Khairiyah ini ternyata dapat meluaskan kegiatan sosial dan dakwah yang dilakukan oleh alumni-alumni Al-Khairiyah.

Simpati masyarakatpun kian besar terhadap Madrasah Al-Khairiyah ini, apalagi setelah tahun 1980 Univesrsitas Al-Madinatul Munawaroh memberikan Mu’adalah (semacam persamaan) bagi siswa-siswa Madrasah Al-Khairiyah. Beberapa orang dengan beasiswa dari para donatur maupun biaya sendiri telah dapat menyelesaikan studinya di Madinah (Saudi Arabia)

Demikian juga setelah tahu bahwa sekolah ini berkembang dengan pesat, bantuan dari berbagai pihak seperti Instansi Pemerintah baik Pemerintah Daerah setempat maupun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tingat I dan Tingkat II, Departemen Agama Tingkat I dan Tingkat II telah mengulurkan  bantuan guru.

Keadaan gedung Madrasah Al-Khairiyah ini dapat dikatakan cukup memadai. Mula-mula yayasan ini menempati gedung tua dengan gaya arsitektur Belanda. Sekitar tahun 1960-an gedung lama tersebut dibongkar dan diatas tanah wakaf itu dibangun sebuah gedung baru.

Gedung baru tersebut terdiri dari 6 lokal kelas dan sebuah aula pertemuan. Juga terdapat sebuah ruang perpustakaan dan ruang guru. Adapun gedung sebelah barat Madrasah Al-Khairiyah sekarang ini adalah sebuah pesantren yang kini ditempati sebagai Taman Kanak-Kanak. Perluasan kebarat ini dilaksanakan sekitar tahun 1969. Yayasan ini sempat membuka sebuah pondok pesantren sampai tahun 1979 kemudian sampai saat ini di tanah itu dibangun pula Tsanawiyah putri.

Di areal bekas pesantren ini kini terdapat bangunan bertingkat dua yang merupakan bantuan Presiden. Gedung baru itulah yang dijadikan kelas Tsanawiyah putri, sedang bangunan lama dijadikan kelas Taman Kanak-Kanak. Juga disediakan rumah dinas Kepala Sekolah dan Guru

Jumlah siswa Al-Khairat saat ini berjumlah 680 orang dari berbagai latar belakang kehidupan. Mayoritas berasal dari kaum pedagang kecil, petani dan buruh. Pihak madrasah membebaskan segala pembayaran uang sekolah dan pungutan-pungutan lain. Bahkan siswa diberikan bantuan oleh badan sosial berupa pakaian seragam dan peralatan sekolah seperti buku-buku dan alat-alat tulis lainya.

Kesejahteraan guru sangat diperhatikan. Baik gaji, fasilitas rumah dinas, tunjangan hari raya bahkan pensiun guru menjadi perhatian khusus. Disamping disiplin tetap dilaksanakan

Hanya saja ada modifikasi pada beberapa mata pelajaraan tertentu, seperti dijelaskan oleh guru yayasan, untuk menyesuaikan kondisi sekolah. Di madrasah ini sejak berdiri dikenal sebagai penghasil alumni yang mampu bercakap bahasa Arab, karenanya sampai kini penekanan pada mata pelajaran bahasa Arab terasa menonjol, terutama dalam praktek.

Disamping itu pemahaman terhadap kitab-kitab kuning juga diutamakan, hal ini dapat dipahami karena mayoritas siswa datang dari keluarga yang berlatar belakang santri. Umumnya orang tua menyekolahkan anaknya disini karena mengetahui mata pelajaran agama dan bahasa arabnya yang menonjol.

baca juga: Darul Musthafa Tarim, Citranya Seharum Namanya

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

baca juga: Manhaj Thariqah Bani Alawiy

Untuk kelas  I sampai kelas III Ibtidaiyyah, bidang studinya sebagai berikut : Al-Quran, Tahsinul Khot, Insya’, Akhlaq, Tarikh, Bahasa Arab dan Muthala’ah. Semua itu ditambah lagi dengan bidang studi pelajaran umum sebagaimana yang diatur oleh Depag. Sedang untuk kelas III ibtidaiyah sampai kelas VI Ibtidaiyah pelajaran agama yang diajarkan adalah Nahwu, sorof, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Akhlaq, Tauhid, Fiqh, Insya’, Maffudnat, Tarikh dan Bahasa Arab.

System yang digunakan adalah Ta’limi artinya para siswa mendengarkan keterangan Ustadz yang memberikan materi pelajaran berupa ceramah dan praktek. Setelah guru menjelaskan, berikutnya dibuka diskusi. Pada kesempatan lain guru juga memberikan tugas kepada para siswa untuk mengetahui sudah seberapa jauh materi yang diberikan dapat diserap oleh para siswa. Metode lain yang digunakan adalah hafalan.

Sistem manajemen modern juga mulai  diterapkan di bidang administrasi sekolah. Disamping juga dilakukan analisa terhadap Kekuatan, Kelemahan. Peluang dan Ancaman yang dihadapi sehingga dapat mengetahui mana yang sudah dicapai dan mana yang belum dicapai.

Adapun pola manajemen yang diterapkan  saat ini lebih berkembang lagi karena  dulunya Madrasah Al-Khairiyah hanya tergantung kepada para donatur , tapi kini kekayaan yang dimiliki yayasan mulai diolah secara bisnis hingga menjadi sumber pokok keuangan. Sehingga yayasan ini dapat berjalan dengan baik dengan sumber dana operasional yang memadai

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *