Kisah Tragis Ulama Yang Menjual Agama

Pada zaman dahulu kala, kala Nabi Musa a.s. masih hidup, hiduplah seorang ulama besar bernama Bal’am bin Ba’uro’. Ini seorang ulama yang luas ilmunya. Di majelis pengajiannya terdapat 12.000 tempat tinta untuk para santri.

Bal’am tidak hanya ‘alim tapi juga dekat dengan Allah. Dia ahli ibadah. Begitu tinggi derajatnya, kalau dia mendongak ke atas, pandangannya menembus batas hingga ‘arasy. Dia dapat melihat ‘arasy. Doanya juga ampuh, selalu dikabulkan oleh Allah.

Namun sayang, di masa tuanya dia terkecoh oleh dunia. Dia terseret godaan syetan lalu menuruti hawa-nafsu. Dia menjual agamanya. Dia tergoda oleh bujuk-rayu kelompok penindas musuh-musuh Nabi Musa a.s., musuh-musuh kebenaran. Dengan imbalan harta benda dia menuruti permintaan mereka untuk berdoa bagi kecelakaan Nabi Musa a.s. Maka, sebagai hukuman, lidahnya memanjang sampai ke dada.

Disebutkan, dalam riwayat lain, dia mengutus seseorang untuk berdakwah kepada Raja Madyan, mengajaknya masuk Islam. Raja Madyan membalas ajakan itu dengan mengirimi dia sejumlah uang yang banyak. Bal’am tergiur. Harta benda itu membelokkan hatinya. Hatinya ibarat jarum jam yang tiba-tiba berputar ke arah berlawanan. Semakin lama dia terjauh dari Allah, dan semakin dekat dengan syetan — terseret oleh arus nafsu yang deras. Harta benda telah membungkam mulutnya untuk menyuarakan kebenaran. Bahkan, akhirnya dia ikut larut dalam kekufuran, mengikuti agama Raja Madyan. Ditinggalkannya agama Nabi Musa a.s.

Berkenaan dengan Bal’am inilah, menurut ahli tafsir, Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah pada mereka (orang-orang Yahudi) kisah tentang orang yang Kami anugerahi (pengetahuan) perihal ayat-ayat Kami (Al-Kitab), lalu dia melepaskan diri darinya. Maka dia diikuti oleh syetan (sehingga dia tergoda), jadilah dia berada di antara orang-orang yang sesat. Kalau Kami menghendaki, sungguh dia Kami tinggikan (derajatnya) berkat ayat-ayat tersebut, tetapi dia cenderung pada dunia dan menurutkan hawa-nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalau, dijulurkan lidahnya. Jika kamu membiarkan, dia juga menjulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir”. (Al-A’raf: 175-176)

baca juga: Detik-Detik Turunnya Azab Untuk Kaum Nabi Luth

baca juga:  Misteri Ratapan Jenazah Dari Dalam Kubur

baca juga:  Karomah Sayidina Husain bin Ali, Cucu Nabi Yang Kepalanya Dipenggal

 

Waspadalah

Cerita di atas menunjukkan pada kita, setinggi apapun capaian seseorang di bidang ilmu dan amal tidak menjamin dia aman dari kesesatan. Selagi hayat masih di kandung badan, kita hendaknya senantiasa menjaga rasa takut pada Allah. Rasa takut pada azab-Nya. Para ahli ilmu dan amal hendaknya waspada terhadap segala tipu daya syetan melalui tentara-tentaranya. Seperti kewaspadaan yang telah dicontohkan, misalnya, oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Ketika syetan datang dan mengaku-ngaku dirinya sebagai Tuhan lalu membebaskan beliau untuk berbuat maksiat, beliau tersadar, ini dia syetan, yang langsung beliau usir.

Ibarat berperang, perang melawan syetan sangatlah sulit. Sebab, musuh tidak kelihatan. Kita waspadai serangan dari samping, eh ternyata dia menyerang dari depan. Kita tangkis serangan dari depan, eh dia menyerbu dari belakang. Begitu seterusnya. Terkadang kita terkecoh. Kita menyangka berbuat kebajikan, untuk kemaslahatan umat, tak tahunya itu bujuk rayu syetan. Ternyata syetan dan hawa-nafsu telah memerangkap kita dalam perbuatan yang menampak bagus di mata kita, lalu kita terjerat di dalamnya, tak berkutik, tak bisa lepas, lalu pelan tapi pasti kita dibuatnya terjerumus ke dalam jurang kesesatan yang dalam.

Harta benda adalah salah satu senjata syetan yang paling ampuh. Seperti disabdakan Nabi SAW:

 

إِنَّ هَذَا اْلمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ (رواه البخاري)

 

Sungguh harta ini menghijau, manis.”

Uang dan harta ibarat tetumbuhan yang menghijau dan manis. Elok dipandang mata, lezat dirasakan lidah. Karena itu, orang-orang akan tertarik untuk menikmati keelokannya dan merasakan manisnya. Seperti kata pepatah, “Ada gula ada semut.” Laksana magnit, bila ada barang manis, semut-semut akan berdatangan mengerubunginya. Baik yang berilmu maupun yang tidak berilmu akan tersedot untuk menghisap madu dunia. Kalau perlu, mereka saling berebut.

Magnit harta juga memabukkan. Betapa agama kita sekarang digerogoti dari dalam dan luar, betapa hebat serangan melanda agama kita akhir-akhir ini, toh kita seperti tak peduli karena kita dinina-bobokkan oleh uang dan harta.

Para ahli ilmu dan amal hendaknya mewaspadai senjata syetan yang sangat tajam ini. Sebab, tak jarang orang berilmu dibuat sesat melalui bujuk rayunya. Mula-mula, mungkin, mereka menyimpan motivasi ibadah atau amal kebajikan. Bahwa harta dapat melancarkan dakwah. Harta dapat meningkatkan mutu lembaga pendidikan mereka. Tetapi lama-kelamaan, mereka larut dalam permainan dunia. Mereka lupa dengan batas-batas syariah. Mereka pun terlibat dalam cara-cara meraih dunia yang tidak dibenarkan oleh syariat. Bahkan, wal ‘iyadzu billah, mereka mulai menjual agama mereka. Sehingga bergeserlah mereka: dari ulama akhirat menjadi ulama dunia atau ulama su’, seperti Bal’am. Masih beruntung kalau mereka tidak menjual iman mereka, seperti Bal’am. Bagaimana kalau sudah terlanjur ke sana? Na’udzu billah min dzalik. Hamid Ahmad

sumber: cahayanabawiy.com

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *