Kisah Hidup Habib Ahmad bin Smith, Pembaharu Islam Abad Kedua Belas

foto

Al-Quthub Al-Kabir Al-Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith adalah salah satu ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi penyebaran dakwah Rasulullah s.a.w. Ajaran-ajarannya sangat mempengaruhi pemikiran ulama-ulama di masa akhir, hingga dalam kitab “Ghoyatu Talkhishil Murad” Al Allamah Syeikh Ibnu Ziyad menasbihkannya sebagai pembaru Islam abad kedua belas hijriyah.

Identitasnya secara lengkap adalah: Al Imam Al Mursyid Al-Quthb Al-Kabir Al-Allamah Habib Ahmad bin Umar bin Zein bin Alwi bin Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad Sumaith. Beliau dilahirkan di kota Tarim, Provinsi Hadramaut. Sejak kecil beliau mendapatkan perhatian dan pendidikan yang intens dari ayahandanya, Habib Umar bin Zein.

Bahkan sang ayah tiada kenal lelah dan bosan mengajarkan berbagai disiplin ilmu kepada Habib Ahmad, siang dan malam. Di antara kitab-kitab yang beliau pelajari dari ayahandanya adalah Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali, Syarh Ba’iyah atas syair-syair Imam Abdullah Al-Haddad karya Habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, Diwan Assudy.

Setelah beranjak besar beliau bersama saudaranya Al-Arif Billah Habib Muhammad bin Umar bin Sumaith diajak sang ayah berpindah ke kota Syibam. Kemudian beliau belajar kepada Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Haddad dan mendapatkan ilbas serta talqin dzikir darinya. Beliau juga mendapatkan ilbas dari Habib Alwi bin Ahmad Al-Haddad serta Al-Imam Habib Umar bin Abdurrahman Albar.

Setelah itu beliau belajar kepada Habib Umar bin Segaf Assegaf dan salah satu kitab yang dipelajarinya adalah Risalah Al-Qusyairiyah. Habib Umar bin Segaf inilah pelabuhan terakhir dalam perjalanannya menyelami samudra ilmu pengetahuan. Beliau berhasil melengkapi dan menyempurnakan semua yang beliau dapatkan dari para guru sebelumnya.

Beliau sempat mempelajari kitab fiqh Fathul Mu’in kepada sepupunya sendiri, Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Sumaith. Masih banyak lagi guru-gurunya yang tak dapat disebutkan satu per satu. Adapun sebagai “Syeikh Futh”-nya setelah ayahandanya adalah Al-Habib Hamid bin Umar bin Hamid.

baca juga: Pengakuan Habib Sholeh Tanggul Soal Perjumpaannya Dengan Nabi

Berkat semangat dan kegigihannya dalam menuntut ilmu inilah, beliau memperoleh hasil yang maksimal. Di saat usianya yang masih terhitung muda beliau telah diakui sebagai ulama yang menguasai ilmu syariat dengan sempurna. beliau pun, oleh para gurunya, dipercaya untuk mengajar dan berdakwah ke khalayak umum. Kepercayaan tersebut membuatnya bersemangat untuk berdakwah memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan Allah SWT. Dakwahnya pun dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok Yaman bahkan seluruh dunia.

Pemikiran-pemikirannya dapat diterima dan diakui oleh ulama-ulama semasanya. Seolah-olah beliau telah meluruskan kembali manhaj Ahlus Sunnah yang sedikit demi sedikit hendak dibelokkan oleh para ulama kontemporer yang banyak menyebar di luar Hadramaut. Murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar dan berpengaruh. Mereka menjadi ulama-ulama yang sangat unggul dalam bidang ilmu dan dakwah di masanya.

Al-Quthb Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi melihat bahwa Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith adalah salah satu “Kholifah” yang diangkat oleh Allah SWT setelah para nabi dan rasul. Sedang Habib Ali menggambarkan bahwa majelis Habib Umar beserta murid-muridnya mengingatkan orang akan majelis Rasulullah s.a.w. Di majelis Nabi s.a.w. para sahabat diliputi suasana khusyuk dan wibawa sehingga seolah kepala-kepala mereka dapat dihinggapi burung karena terlalu tenangnya. Begitulah kurang lebih yang terjadi pada majelis Habib Ahmad.

 

GIGIH

Salah satu murid terkemuka Habib Ahmad, yakni Al-Quthb Al-Habib Sholeh bin Abdullah Alatas menggambarkan bahwa Habib Ahmad adalah sosok yang gigih dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Seluruh waktunya digunakan untuk menyebarkan ilmu dan dakwah kepada Allah SWT. beliau dikenal sering menyatakan rasa ingkarnya kepada orang–orang yang bersikap radikal, yang lebih mengutamakan kekerasan atas nama jihad namun pada kenyataannya perilaku mereka tidak sesuai dengan syariat Nabi s.a.w.

Beliau juga sangat membenci pola hidup mewah yang pada saat itu mulai merasuki gaya hidup orang-orang di Hadramaut. Menurutnya, pola hidup seperti itu dapat menjerumuskan mereka pada perbuatan haram. Itulah sebabnya, beliau selalu menganjurkan orang–orang di dekatnya untuk senantiasa menjalankan pola hidup sederhana dan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar.

Pada suatu hari, ketika orang-orang berkumpul di rumahnya, Habib Ahmad memerintahkan salah seorang pembantunya mengambil satu wadah berisikan biji kopi dan memerintahkan Habib Sholeh untuk membuang sebagian biji kopi dan memasak sebagiannya tanpa campuran gula. Tujuan Habib Ahmad adalah untuk mengajarkan pola hidup sederhana kepada mereka dan menganggap membuat kopi dengan campuran gula termasuk berlebihan.

baca juga: Biografi Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad

 

SATU HATI 

Habib Sholeh bin Abdullah Alatas bercerita, “Suatu hari aku berada di kota Huraidah di kediaman guruku Habib Hadun bin Hud Alatas. Tiba-tiba Habib Hadun menyuruhku pergi ke kota Syibam untuk menziarahi Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith. Sambil memohon udzur, aku berkata kepada Habib Hadun, ‘Ya Habib, aku belum minta izin dan berpamitan kepada ayahku.’ Habib Hadun spontan berkata, ‘ Aku adalah ayahmu. Pergilah kamu bersama Ahmad bin sa’id Ba’asyin ke kota Syibam sekarang!”

Aku pun berangkat melaksanakan perintahnya bersama Syech Ahmad. Sesampainya di kota Syibam aku mendapatkan Habib Ahmad berada di kolam sedang bewudhu. Aku pun menyalaminya dengan perasaan tidak enak karena belum minta izin dan berpamitan kepada ayahku. Habib Ahmad lalu berkata seolah mengkasyaf isi hatiku, “Wahai Sholeh! kamu datang kepadaku tanpa izin ayahmu. Tapi ayahmu nantinya bakal sangat senang dengan ziarahmu ini.’

Ketika aku pulang ke daerah asalku Wadi Amd, aku menceritakan hal kepergianku ke kota Syibam kepada ayahku yang saat itu masih mengira aku di Huraidah. Ternyata ayahku sangat senang seraya mendoakan aku agar beroleh berkah dari ziarah itu.

dapatkan buku: Biografi Syeikh Abubakar bin Salim

MURID-MURIDNYA

Di antara murid-murid Habib Umar adalah Habib Thahir bin Husein bin Thahir dan saudaranya Habib Abdullah bin Husein bin Thahir, Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf, Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Habib Sholeh bin Abdullah Alatas, Habib Abubakar bin Abdullah Alatas, Habib Ali bin Salim bin Syeh Abubakar, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya dan Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Al-Quthb Habib Ali Al-Habsyi bercerita, “Pada suatu malam aku bemimpi bertemu Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith. Beliau kemudian memakaikan kepadaku ilbas dan memberiku ijazah, lalu berkata, ‘Katakanlah, aku ridho dengan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Nabi Muhammad SAW sebagai nabiku, dan Habib Ahmad sebagai syeikhku.’ Aku pun mengucapkan kalimat tersebut.”

Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith meninggal pada tahun 1258 Hijriyah di kota Syibam dan dimakamkan di sana. Habib Sholeh bin Abdullah Alatas berkata, “Aku perhatikan, orang-orang yang dulu patuh kepada Habib Ahmad, mereka mendapatkan keberuntungan dan menjadi orang yang mulia. Sedangkan yang tidak patuh, mereka menjadi hina dan dilupakan orang bahkan oleh keluarganya sendiri.” Syamsul

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *