Kisah Habib Ali Mengambil Ilmu Dari “Orang Gila”

ali

Syahdan, suatu ketika Habib Ali bin Idrus bin Syekh Abubakar bin Salim sedang berjalan bersama anaknya yang masih kecil bernama Husein di lorong kota Tuban. Kala itu mereka baru saja ziarah ke makam Sunan Bonan yang masyhur. Tiba-tiba ada orang yang dikenal gila menghadang mereka di tengah jalan. “Coba tebak, apa yang lebih manis dari madu?” tanya orang gila itu kepada Habib Ali.

“Aku tidak tahu,” jawab Habib Ali bin Idrus BSA sembari menggelengkan kepala. Dengan sikap bercanda orang gila itu kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, “Menyenangkan hati orang lain itu rasanya lebih manis daripada madu.” Mendengar ucapan itu, Habib Ali bin Idrus tersenyum lalu menepuk pundak anaknya dan berkata, “Wahai anakku, ambillah ilmu ini meskipun tidak datang dari orang yang alim.”

Habib Ali bin Idrus bin Syekh Abubakar bin Salim adalah seorang ulama yang sangat alim namun memilih hidup khumul (tidak dikenal orang). Beliau sangat menguasai fikih empat mazhab sehingga menjadikan rujukan para alim ulama di masanya. Saking khumulnya konon setiap orang yang memotret beliau dengan kamera tidak pernah jadi lantaran rusak dengan sendirinya.

Di akhir hidupnya beliau berdakwah dan mengajar di kawasan Bangil dan sekitarnya, banyak muridnya yang menjadi ulama berkat tangan dinginnya. Selain mengajar dan berdakwah, beliau juga aktif menulis. Salah satu karya tulisnya tentang manakib Syekh Abubakar bin Salim sangat masyhur dan sempat dicetak salah satu penerbit Mesir. Beliau wafat di kota Pasuruan dan dimakamkan di belakang masjid jamik Pasuruan.

Ada banyak hikmah yang bisa kita resapi dari kisah nyata di atas, di antaranya: pertama, kita jangan pernah meremehkan orang lain meski kelihatannya seperti gila. Siapa tahu kalau dia adalah seorang wali yang menutup diri. Kedua, ilmu dan hikmah bisa kita petik dari mana saja, mulai dari membaca buku, wejangan orang bijak, mengamati peristiwa dan lain sebagainya. Meski demikian, pencari ilmu musti didampingi seorang guru. Ketiga, seorang alim tidak boleh malu untuk mengaku tidak tahu manakala tidak memahami suatu persoalan. Mengaku tidak tahu adalah bagian dari ilmu, sementara memberi jawaban tanpa dasar adalah penistaan terhadap ilmu.

Yang terakhir, menyenangkan hati orang lain adalah perbuatan yang mengasyikkan dan mengundang pahala yang tidak sedikit.

oleh: Syamsul Hari

baca juga: Inilah Karomah Syekh Abubakar bin Salim Yang Paling Masyhur

baca juga: Shalawat Syekh Abubakar bin Salim Untuk Menolak Balak dan Penyakit

baca juga: Resep Mendapat Rejeki Melimpah Tanpa Disangka dari Habib Alwi Shihab

donasi: Dompet Dakwah

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *