Kisah Ajaib Cucu Syekh Abubakar bin Salim Yang Berpenampilan Urakan

Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi pernah bercerita, “Husein bin Dar’an adalah keturunan Syeikh Abu Bakar bin Salim. Ia sering kali menemuiku dan berkata, ‘ Habib Ali saat ini aku telah berada dalam nafs ini jumlah hizb yang kubaca sekian, wiridku sekian . . .’

Dahulu, ia pernah menemui Sultan Ghalib. Kebetulan saat itu Abduh Bazheir juga sedang berkunjung ke istana. Keduanya bertemu disana.

“Husein bin Dar’an ini adalah seorang sayid keturunan Syeikh Abu Bakar bin Salim,” kata Sultan kepada Abduh Bazheir.

“Dia bukan seorang sayid, juga tidak menempuh jalan para Sayid. Kamilah yang pantas disebut sayid,” kata ‘Abduh Bazheir menyindir Husein bin Dar’an yang saat itu berambut gondrong dan berpakaian badui urakan.

Rupanya ucapan ‘Abduh Bazheir ini menyentuh perasaan Husein bin Dar’an. Ia kemudian bertanya kepada Abduh Bazheir, ‘Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi sayid?’

“Bangkitlah! ikutlah aku!” kata Abduh Bazheir.

Kemudian Abduh Bazheir membawa Husein bin Dar’an untuk menemuiku (Habib Ali al-Habsyi). Setelah sampai di depan rumahku Abduh Bazheir berteriak, “YA HABIB ‘ALI…, AKU DATANG MEMBAWA KAMBING YANG SANGAT BESAR. Dia adalah seorang sayid dari keluarga Al-Muhdhar bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.’

Ia lalu membawa Sayid Husein bin Dar’an menemuiku ditingkat atas.

“Potonglah rambutnya,” ucapku kepada orang-orang yang ada di  situ.

Setelah dicukur, aku memberinya pakaian putih. Ia kemudian menetap di Ribath (pesantren), guna mempelajari Al-Quran. Husein bin Dar’an yang sebelumnya tidak tahu apa-apa dalam waktu kurang lebih 6 bulan telah memperoleh rahasia Al-Quran. Syeikh Abu Bakar bin Salim pernah menemuinya yaqdhatan (dalam keadan jaga ). Jika memperoleh sebuah wirid, ia segera menceritakannya kepadaku, ia mendektekannya kepada Umar bin Hamid.

baca juga: Kisah Habib Ali Mengambil Ilmu Dari “Orang Gila”

baca juga: Kisah Dakwah Habib Ahmad Alatas Maula Pekalongan Yang Penuh Inspirasi

baca juga: Menjadi Wali Berkat Memuliakan Lafaz Allah: Kisah Habib Salim as-Syathiri

 

Suatu hari beliau berziarah ke kubur Habib Ahmad bin Muhammad al habsyi. Sesampainya disana beliau berkata, “Aku tidak datang untuk menziarahi batu dan kapur. Jabatlah tanganku dengan tangan yang pernah kau gunakan untuk menjabat tangan syeikh Abu Bakar bin Salim. Tak lama kemudian muncul tangan dari makam habib Ahmad bin Muhammad al habsyi, mereka lalu berjabat tangan.

Suatu malam ia menemuiku dan berkata, aku rindu pada Madinah. Aku ingin berziarah ke Madinah malam ini juga, maukah anda ikut bersamaku ?

“Aku tak bisa”, jawabku.

Ia lalu pergi ke Madinah Al-Munawwaroh untuk menjiarahi Nabi SAW. Dan di waktu subuh ia telah kembali (ke kota Seiwun) dan shalat subuh berjama’ah bersama dengan kami.

sumber Majmu Kalamil Habib Ali Al -Habsyi  karya Habib Husein bin Abdullah bin Alwi bin Zein Al-Habsyi 358 H.

donasi: Dompet Dakwah

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *