Keberanian Rasulullah SAW Di Medan Perang

Malam masih sangat buta. Tiba-tiba terdengar suara-suara gaduh di kejauhan. Warga Madinah tegang, tercekam. Jangan-jangan ada musuh yang hendak menyerang. Mereka segera berhamburan keluar dan berbondong-bondong mendatangi asal suara. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan baginda Nabi Muhammad SAW yang datang dari arah asal suara tadi sambil mengendarai kuda milik AbuThalhah. Kuda itu tampak telanjang tanpa pelana. “Sudah, jangan takut, tak ada apa-apa. Yang ada hanya laut,” kata beliau. Yang beliau maksud dengan “laut” tak lain adalah kuda yang beliau tumpangi. Dinamakan “laut” karena kuda itu larinya kencang, ibarat laut yang ombaknya tak pernah berhenti, susul menyusul. Padahal semua orang tahu bahwa kuda Abu Thalhah itu kuda yang lemot alias pelan larinya. Berkat mukjizat Nabi SAW, kuda tersebut berubah menjadi kuda kilat yang kencang.

Rupanya Nabi SAW mendahului orang-orang ini. Tadi, sebelum mereka keluar rumah, beliau lebih dulu keluar dan langsung mendatangi rumah Abu Thalhah RA untuk meminjam kudanya. Karena harus segera mendatangi asal suara gaduh, beliau tak sempat memakaikan pelana pada kuda tersebut.

Coba lihat kesigapan Nabi SAW ini. Pemimpin lain mungkin akan membangunkan orang lain lebih dulu sebelum berangkat ke tempat bahaya, atau mungkin malah menyuruh orang lain untuk mendatanginya guna melihat apa yang terjadi. Beliau justru datang sendiri. Sungguh luar biasa!

Bukan sekali ini beliau mendahului orang lain dalam bertindak. Dalam setiap peperangan, beliau selalu maju lebih dulu. Seperti dalam perang Badar ketika sempat terjadi kegamangan di kalangan tentara muslim. Maklumlah, jumlah pasukan kafir berlipat-lipat dibanding jumlah mereka. Ketika orang-orang diliputi keraguan itulah, beliau maju dengan mantap tanpa rasa takut. Serta merta kegamangan mereka pupus dan mereka serentak maju.

baca juga: Dialog Rasulullah Dengan Malaikat Maut

baca juga: Balada Pemuda Yang Ingin Mimpi Berjumpa Nabi

baca juga: Tanda Kewalian Syekh Abu Yazid al-Busthami di Masa Kecil

 

Itulah pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang berani berada di garis terdepan ketika menghadapi bahaya. Sebaliknya, pemimpin palsu adalah pemimpin yang bersembunyi di kala bahaya mengancam dan mendorong anak buah untuk maju lebih dulu. Lain lagi bila urusannya adalah bagi-bagi uang, barang berharga atau kenikmatan lainnya, maka si pemimpin palsu maju paling dulu, sedang anak buah diberi sisa-sisa atau malah tidak diberi sisa sama sekali. Na’udzu billah min dzalik.

Nabi SAW sama sekali tidak demikian. Justru jika sedang mendapat nikmat, beliau mendahulukan orang lain. Sebagai contoh, Nabi SAW pernah diundang makan oleh Ummu Sulaim RA. Ketika beliau tahu ada undangan yang disampaikan melalui Anas bin Malik RA ini, beliau tidak berangkat sendiri tapi mengajak semua sahabat yang sedang bersama beliau. Dengan mukjizat beliau dan dengan izin Allah, makanan yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang itu cukup untuk semua orang. Beliau memegangi tempat makanan, kemudian menyuruh para sahabat maju satu per satu mengambil makanan. Setelah mereka semua makan dan kenyang, barulah beliau mengambil makanan dan menyantapnya.

sumber: cahaya nabawiy

donasi: Dompet Dakwah

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *