Kalam Imam Al-Haddad Tentang Cara Mencapai “Ihsan”

 

“Seorang hamba tidak akan mencapai keimanan hakiki sampai ia memperoleh kemanisan dan kelezatan dalam berhubungan dengan Allah seperti yang diperoleh oleh para ahli syahwat dalam ‘menikmati’ kelalaian dan kemaksiatannya.”

(Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad)

 

Dalam kehidupan tidak bisa dihindari dan dipungkiri bahwa kita memperoleh kenikmatan berupa anugerah Allah yang diberikan pada tiap hamba-hamba-Nya, dari umur, nafas, rezeki, dan lain-lain. Menjadi berbeda, bila kenikmatan itu digerakkan oleh nafsu dan syahwat dan bukannya iman. Syahwat dalam makna negatif menyediakan kenikmatan-kenikmatan sesaat dengan kelezatannya yang singkat.

Seorang pekerja, ia merasakan kenikmatan dari kepayahannya hingga tak sempat makan, kurang tidur, saking begitu nikmatnya. Urusan iman mestinya demikian, kenapa kita tidak bisa menikmati salat sebagaimana pekerja tadi dalam berjibaku mencari rezeki, atau kala kita menikmati pakaian, makanan, perhiasan, kenapa kita tidak bisa menikmati dzikir dan bacaan Al-Quran. Ini karena rapuhnya iman.

Mungkin, kita salat sejak baligh tapi pernakah kita merasakan barang sesaat dari nikmatnya salat, atau ia hanya bak olah raga rutin lima kali sehari-semalam. Padahal, hal berbeda terjadi saat diceritakan makanan-makanan yang lezat, perempuan yang cantik, namun dikabarkan ibadah kadang tidak selera, diceritakan pahalanya begitu besar tak selera untuk mengamalkannya.

Apa yang membuat demikian? Kerapuhan iman. Karena itu, dalam ibadah butuh satu persiapan. Ibadah bukan suatu kebiasaan. Bayangkan, kita bekerja dengan proses persiapan yang baik, pegawai negeri dengan seragamnya, para siswa/mahasiswa berangkat ke tempat menuntut ilmu juga begitu. Sayangnya untuk beribadah kepada Allah tidak ada persiapannya. Giliran mau berangkat ke masjid atau ke majlis ta`lim, apa yang kita persiapkan.

Bagaimana juga dengan orang yang pergi ke pasar dengan serius mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi kenapa ketika beribadah mencari ilmu warisan Rasulullah tidak ada persiapan sama sekali. Inilah, menurut hemat kami, yang membuat kita terbelakang dalam masalah ibadah hingga sulit menikmati ibadah.

baca juga: Hadirnya Nabi Dalam Majelis Maulid, Ulasan Ilmiah Para Habaib

baca juga: Nasehat Habib Abdullah al-Haddad Soal Larangan Saling Menghina

baca juga: Nasehat Habib Abdullah al-Haddad Tentang Dunia Sebagai Ladang Akhirat

 

IHSAN

Rasul mengajarkan kesempurnaan dalam segala hal. Dalam bahasa agamanya disebut AlIhsan. Banyak orang salat tapi salat dengan baik –secara lahir dan batin- langkah; banyak orang yang membaca Al-Quran namun memperbaiki bacaannya atau membaca Al-Quran dengan baik, sedikit.

Termasuk kesempurnaan salat, puasa, membaca Quran dan dzikir dalam tataran lahir, bila kita mempersiapkan batin pula. Tanpa itu ibadah kita kurang bermutu. Rasul bersabda:

“Berapa banyak orang yang beribadah di waktu malam tidak mendapatkan apapun selain begadang dan rasa payah dan berapa banyak orang yang berpuasa tak memperoleh apapun selain rasa lapar dan dahaga.”

Hal di atas riskan terjadi pada siapa pun manakala kita tak membarengi ihsan dalam amaliah. Salat, tapi hati tidak ikut ruku` dan sujud, dan pikiran pergi entah ke mana. Secara lahir kepala kita bersujud namun hati lupa daratan alias sombong. Bacaan kita Iyaakana`budu wa Iyyaka Nasta`in, tapi tidak ikhlas dan riya`. “Hanya kepada-Mu aku beribadah,” tapi yang diharapkan bukan ridha-Nya justru pujian manusia.

Begitu juga, mengkhatamkan Al-Quran dengan makhorijul huruf-nya namun tidak menetes air mata kita diceritakan api neraka dan tidak termotivasi beribadah kala diceritakan kenikmatan surga. Yang menjadi perhatian hanya aksara Al-Quran dan lagunya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran tanpa disertai perenungan di dalamnya.”

Rasul SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.”

Hadits terakhir ini menerangkan, termasuk ihsan berbuat baik terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya. Tidak boleh membebaninya di luar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.

Kita disuruh berbuat baik (ihsan) dengan binatang lantas bagaimana mu`amalah kita dengan Allah, apa seadanya? Amal saleh tentulah harus dibarengi keseriusan dalam pelaksanaannya. Allah-lah yang memberi nikmat umur, rezeki, nafas, dan fasilitas lainnya kok malah digunakan untuk lupa kepada-Nya. Masihkah tersisah rasa malu dalam hati? Inilah Ihsan dalam rangka memperbaiki ibadah kepada Allah.

Berikutnya, ihsan dalam meninggalkan maksiat. Artinya, jangan terpaksa menanggalkan segala pakaian dan ikon maksiat. Laksanakan dengan dasar rasa takut kepada Allah dengan hati gembira. Sehingga muncul ungkapan dalam hati, “Al-Hamdulilah saya g berzina, alhamdulillah saya g minum minuman keras, tidak ikut judi.”

Termasuk ihsan dalam meninggalkan maksiat, menjauhi teman-teman yang mengajak maksiat. Cari kawan yang mendorong berbuat taat kepada Allah. Ibarat orang yang punya ikan tongkol tapi tidak dijauhkan dari kucing, maka menjadi santapan kucing atau punya kambing namun tidak dijauhkan dari serigala.

Kita punya anak dibiarkan berteman dengan mereka yang maksiat, hilang masa depannya: sang ayah mengenakan surban, anaknya memakai topi koboi; sang ayah membawa tasbih, anaknya membawa botol Miras; sang ayah sibuk berdzikir, anaknya teler.

Memperbaiki diri dari meninggalkan maksiat adalah menjauhkan anak dari pergaulan negatif, melindungi keluarga dari pengaruh yang tidak baik. Insya Allah, bila kita serius, persiapannya dan pelaksanaanya bagus, kita bisa menikmati ibadah. Bayangkan, orang merokok begitu nikmat sampai tidak cukup satu dua batang, merem-melek saat menikmatinya; main catur yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Tinggal, pertanyannya, kenapa ketika membaca Quran, tidak meresapi, hadir majlis kebaikan, pantatnya seperti ada pakunya. Padahal ketika ditayangkan sepak bola  jam satu malam, matanya betah berjam-jam menontonnya. Kapan kita berubah?

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *