Inilah Arti “Kun Fayakun” Yang Sebenarnya

Memahami Arti “Kun Fayakun”Nya Allah

 

Kita tidak tahu sejak kapan alam semesta ini ada. Tak seorangpun cendikiawan yang mampu mengungkap misteri penciptaan semesta raya. Tak satupun teori bisa dijadikan pedoman yang menjamin kebenaran hakiki terkait dengan misteri tak terpecahkan jagad raya ini. Mungkin hanya satu jawaban yang akan memberikan “kesembuhan” rasio manusia yang selalu digoda rasa ingin tahu. Yakni kembali kepada informasi samawi dengan mengedepankan hati (rasa) dan keimanan.

Hanya hati yang beriman yang mampu menangkap semesta raya sebagai tanda kebesaran Yang Maha Ada. Dan kecenderungan pemikiran manusia pada hal-hal kongkret kerap membutakan mata hati yang terjebak dalam sekularisme. Allah SWT berfirman :

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

 

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi”. Tidaklah bermanfaat tanda-tadna (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS Yunus [10]: 101).

 

KEBATILAN TEORI EVOLUSI

Teori evolusi yang dikibarkan oleh Darwin maupun para evolusionis lain tak pernah memberikan jawaban apapun mengenai asal-muasal kehidupan di dunia ini. Bahkan seorang tokoh evolusionis asal Italia sekelas Pierre Paul Gresso malah menentang ide-ide Darwin yang menurutnya tak memiliki dasar-dasar ilmiah yang kuat dan perlu dikritisi. Gresso bahkan lebih mendukung terhadap teori penciptaan (creationism) yang menjadi ciri khas dari ajaran kitab-kitab suci (agama samawi) itu. Menurut Harun Yahya, teori evolusi hanya melahirkan kegalapan saintis tanpa jawaban yang “menyembuhkan” rasa keingintahuan nalar manusia.

Bagaimana, tata dan hukum kehidupan yang begitu teratur dengan desain yang amat rumit dan canggih itu bisa dikatakan sebuah kebetulan? Bagaimana hukum edar tata-surya yang cermat itu adalah sebuah fenomena ketidaksengajaan? Bagaimana bentuk dan desain sel makhluk hidup yang amat rumit itu dikatakan menjadi ada begitu saja? Statement dan klaim semacam itu hanyalah salah satu bentuk kesombongan dalam berpikir sekaligus cermin keputus-asaan orang-orang yang berusaha mengingkari realitas penciptaan yang ada.

Apakah tanpa proses reproduksi yang ditetapkan oleh hukum-hukum (sunnah) ilahiyah kehidupan bisa kita ciptakan dan kita siasati dengan cara-cara yang tidak lazim? Jika keberadaan sel makhluk hidup secara garis besar merupakan kombinasi karbon dan protein, maka lalu apakah kita bisa meniru membuatnya dengan cara-cara sesuai pilihan kita? Mampukah kita menjadikan sejumlah karbon dan protein sebagai cikal-bakal makhluk hidup hanya dengan meraciknya di luar hukum reproduksi yang sudah ditetapkan oleh Allah? Tak satupun ahli biologi dan kimia punya kemampuan melakukan hal itu.

 

TEORI BIG BANG

Menurut teori Big Bang yang belakang banyak dibincangkan itu, bahwa semesta raya tercipta akibat ledakan gumpalan gas raksasa sekitar 13.960.000.000 tahun yang lalu. Sah-sah saja sebuah pemikiran membuat kesimpulan seperti itu. Tetapi tetap saja kita diliputi kegelapan saintis untuk mengetahui asal-muasal semesta raya dan kehidupan ini secara pasti. Pendukung teori tersebut juga mencoba mengusung salah satu ayat dalam kitab suci Al-Qur’an :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

 

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbiya’ [21]: 30)

Terlepas dari pro dan kontra terori-teori modern mengenai asal-muasal semesta, yang pasti bahwa hanya mengimani teori penciptaan (creationism) saja yang akan memberikan jawaban kepada hati dan logika kita. Sebab, bagaimana keteraturan semesta raya ini terjadi dan bagaimana kehidupan yang amat rumit dan beragam itu muncul di muka bumi jika tanpa subyek pencipta? Bagaimana semua fakta kehidupan itu adalah sebuah fenomena kebetulan atau sebuah keniscayaan? Sungguh sama sekali sulit dicerna oleh akal sehat.

Maka sikap yang bijak adalah berserah diri dan beriman bahwa semesta raya ini adalah kreasi dari Sang Maha Kreator yang tak lain adalah Allah SWT sebegaimana difirmankan dalam kitab-kitab suci samawi-Nya. Tuhan Yang Maha Kuasa telah memilih dengan kehendak-Nya untuk mewujudkan semesta raya dengan segala tatanan dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya. Sebab pada faktanya kita tidak pernah punya kekuatan apapun untuk merubah hukum alam ini. Mampukah kita menghentikan proses penuaan pada diri kita atau makhluk hidup lain? Bisakah kita menghadang kematian yang datang? Dapatkah kita terbitkan matahari dan rembulan sesuai keinginan kita? Tidak, tentunya.

baca juga: Dua Hadits Shahih Yang Menjadi Dalil Bolehnya Tawassul

baca juga: Cara Salaf Meraih Ilmu Yang Bermanfaat

baca juga: Mewaspadai Pemahaman Sekuler

 

TENTANG KUN FAYAKUN

Jika seandainya Allah menggunakan bahasa Arab dalam menitahkan penciptaan maka Allah cukup hanya mengatakan “Kun!” kepada (bakal) obyek yang dikehendaki untuk diwujudkan ataupun obyek yang akan ditiadakan-Nya. Dengan kalimat itu maka terjadilah dan menjadi adalah obyek yang dikehendaki oleh Allah (“fayakunu”) itu. Kalimat “Kun!” (jadilah) tersebut merupakan gambaran atau isyarat bagaimana mudahnya segala sesuatu dalam kekuasaan Allah. Sebesar apapun dan sekecil apapun tak ada bedanya bagi Allah. Sesederhana apapun dan serumit apapun semunya sama mudahnya bagi Allah SWT.

Dan seandainya Allah menghendaki, maka bisa saja Dia mewujudkan makhluk apapun dalam waktu yang maha singkat. Allah bisa menciptakan semesta ini dalam waktu sedetik, sepersepuluh detik, seperseratus detik, seperseribu detik, sepersejuta detik dan seterusnya. Tetapi Allah tidak menghendaki yang demikian. Allah memberikan pelajaran kepada makhluk-Nya agar mempelajari penciptaan-Nya. Maka Allah menciptakan segala sesuatu dengan proses. Proses tersebut merupakan fase dan bagian dari konteks penciptaan itu sendiri. Proses merupakan sunnatullah.

Jika manusia sanggup menemukan hukum elektronika yang demikian cepat cara kerjanya, maka bagaimana dengan Allah SWT yang menciptakan manusia dari sperma yang setelah dewasa mampu menciptakan alat-alat elektronika? Tentu tak ada kesulitan apapun dalam mewujudkan atau meniadakan obyek apapun di mata Allah SWT. Sebab Dia-lah Yang Maha Abadi. Tak bermula Dirinya, tak bermula pula pengetahuan dan kekuasaan-Nya.

Allah telah memilih dengan kebijaksanaan-Nya bahwa semesta raya ini terjadi melalui proses yang “mungkin” amat panjang (dalam perspektif sains). Dalam kitab-kitab suci samawi juga dijelaskan bahwa proses penciptaan bumi dan langit (semesta raya) terjadi dalam enam masa. Tentu hanya Allah SWT saja yang tahu persis mengenai enam masa yang difirmankan-Nya itu. Dalam Al-Qur’an terdapat tujuh ayat yang menjelaskan tentang penciptaan semesta dalam 6 hari (masa) tersebut. Yakni QS Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Hud: 7, Al-Hadid: 4, Al-Furqan: 59, As-Sajadah: 4 dan Qaaf: 38. Salah satunya adalah firman Allah SWT :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

 

Sesungguhnya Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam di atas siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (Dia) ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam”. (QS Al-A’raf [7]: 54).

 

AL-QUR’AN DAN CREATIONISM

Tak terbilang jumlahnya dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang menuturkan kekuasaan, kehendak dan pengetahuan Allah atas segala sesuatu. Tiga sifat tersebut merupakan sifat yang memiliki obyek segala hal yang mungkin terjadi. Dan penciptaan dan peniadaan semesta merupakan fenomena yang mungkin terjadinya (possible). Sebab semesta bukanlah hal yang eksistensinya absolut dan niscaya, tetapi hanya sebuah fenomena dan eksistensi yang bersifat possible (mungkin) saja. Segala hal yang bersifat possible menurut konsep teologi Abul-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi merupakan obyek dari tiga sifat wajibnya Allah SWT tersebut. Itulah salah satu segmen penting dalam teologi Ahlus-Sunnah wal-Jamaah.

Adalah impossible jika semesta raya ini menjadi ada karena dirinya sendiri, sebagaimana tidak logis pula jika dikatakan bahwa semesta ini merupakan keniscayaan dan “efek domino” dari eksistensi Tuhan. Oleh karenanya maka tak ada konsep yang logis mengenai semesta raya selain didasarkan pada teori penciptaan oleh satu Subyek, yakni Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa. Tak terbilang jumlah ayat al-Qur’an yang menuturkan konsep penciptaan semesta dan isinya ini.

Terjadinya musibah, keburukan, kejelekan, kegalalan, kerusakan, kekacauan, nyata-nyata kebanyakan bukan karena keinginan dan kehendak manusia. Semuanya merupakan peristiwa dan fakta di luar rencana manusia. Maka bagaimana bisa dikatakan bahwa makhluk itu punya kendali sepenuhnya atas diri mereka sendiri. Hal-hal negatif itu tak perlu terjadi dalam realitas kehidupan jika makhluk memiliki kuasa dan kendali penuh atas diri mereka sendiri. Manusia juga tidak memiliki kendali apapun atas hukum alam semesta. Bahkan atas nasibnya sendiri. Ada kekuatan di luar sana. Kekuatan dari Yang Maha menciptakan dan Maha mengatur.

Allah membekali manusia agar berpikir dan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Jika manusia mengingkari penciptaan yang agung ini, maka mereka lebih sesat dari binatang. Jika manusia tak “menemukan” Tuhan, maka bukan karena mata yang buta atau telinga yang tuli, melainkan karena mata hati yang telah buta. Betapa merugi orang yang tidak mampu mencerna semesta sebagai bukti eksistensi Tuhan. Anshory Huzaimi

 

 

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *