Ingin Jadi Orang Sukses? Camkan Nasehat Habib Abdulqadir Bin Ahmad Berikut Ini!

Telah berkata Sayyidi Al-Habib Al-Qutub Abdul Qadir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf-Jeddah. Semoga Allah senantiasa menjaganya. Untaian kalimat yang indah ini beliau ungkapkan dalam sebuah majelis rauhah yang diadakan di rumah As-Sayyid Al-Fadhil Thoha bin Muhammad Assegaf pada sore hari Jum’at 14 Rabiuts Tsani 1411 H. Sebagaimana biasa majelis tersebut diawali dengan pembacaan Kitab Suci, kemudian dilanjutkan dengan lantunan Nasya’id dari Qasidah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ra.

Setelah pembacaan qasidah, berkatalah Al-Habib Abdul Qadir Ra.: “Yang banyak menimpa manusia pada zaman yang akhir ini adalah satu hal yang disebut dengan Futurul Himam (vakumnya kesungguhan hasrat) dalam mencapai kemuliaan disisi Allah SWT. Hal itu dapat kalian fahami dari ucapan Al-Habib Ali didalam qasidahnya yang baru saja kalian dengar.” Juga yang telah dilantunkan oleh Syekh Baroja’. Adapun syahid dari apa yang diucapkan beliau adanya sebuah ungkapan, “Perahu takkan berlayar tanpa adanya kekuatan tiupan angin.”

Para ulama berkata sesungguhnya Al-Himmah (kesungguhan hasrat) merupakan penuntun lahirnya sebuah taufiq ilahi (pertolongan Allah bagi hambanya agar mampu melaksanakan ketaatan) dan sebagai pos bisyarah (kabar gembira). Jika seseorang memiliki keinginan  atas sesuatu lalu ia bersungguh-sungguh didalam mencapainya, maka segala kesukaran akan menjadi mudah dan ringan baginya, Allah pun akan membantunya dengan ma’unah dan taufiqNya, serta dengan pengukuhan dan pemeliharaan menuju kebenaran, hingga segala kesulitan akan tunduk baginya dan Allah akan menjadikan segala keinginannya menjadi realita (kenyataan).

Hal ini lah yang banyak hilang dari manusia di zaman ini, sebab musababnya tiada lain yaitu para manusia di masa sekarang ini dirinya telah mencair dan hatinya telah meleleh, hingga ia tak mampu lagi melihat hakikat Insaniahnya. Bukankah sesungguhnya Allah SWT telah memuliakan manusia dan menjadikan dalam dirinya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluq yang lain. Dalam diri seorang manusia Allah memberinya kemampuan menalar yang juga ditunjang oleh kekuatan fisik, dan kecerdasan berfikir yang dengan itu semua seorang manusia mampu menundukkan gunung dan menggoyahkan batu karang. Semua kekuatan itu kini telah melemah.

Jika saja seseorang bersunguh – sungguh menggunakan daya upayanya untuk mencari keridhoan Allah Ia pasti akan menolongnya dengan taufiq, hingga ketika ia melakukan apa yang diinginkan segala kesulitan akan menjadi jinak di sisinya, tiada lagi sesuatu yang mustahil baginya. Dan sesungguhnya tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Maka sayogyanya setiap orang bersungguh – sungguh dan berijtihad serta berlaku jujur dalam niatnya.

Apabila ia menghadap kepada Allah diiringi dengan kesungguhan maka Allah pasti akan membantunya, terlebih dalam urusan ibadah dan kebaikan. Bukankah kalian telah banyak mendengar ahwal (amaliah) para guru pembesar dan kaum arifin dari salaf kita? Diantara mereka ada yang menghidupkan seluruh malamnya dengan ibadah, diantara mereka ada juga yang menghidupkan sepertiga, separuh malam ada pula yang lebih dan kurang.

Adapun kebanyakan orang sekarang merasa berat untuk bangun dari tidurnya karena ia tak pernah puas beristirahat (bermalas- malasan), hingga ia baru mau bangun ketika menjelang fajar atau justru bersamaan masuknya waktu subuh, itupun dengan kepala yang enggan untuk bangun seakan ia tak mampu bergerak karena merasa kurang tidurnya, ini semua adalah akibat gangguan dan rayuan syetan.

Lihatlah perbedaan ini dengan mereka yang menghidupkan waktu malamnya, baik sepertiga maupun separuh malam, sebagaimana yang telah digambarkan Allah dalam firmanNya (Beliau lalu mengutip beberapa ayat Alqur’an tentang keutamaan Qiyamullail) orang-orang tersebut tak pernah  berat untuk bangun karena merasa kurang tidurnya, mereka justru bangkit dengan tubuh yang ringan dan giat serta tuma’ninah dalam beribadah, mereka bisa lakukan itu semua kerena di dorong oleh kekuatan himmah yang menjadi sebab adanya taufiq Ilahi disinilah letak pentingnya kesungguhan hasrat dalam urusan akhirat tak terkecuali urusan duniawiyah (lebih lanjut beliau melukiskan tentang bagaimana lemahnya himmah para manusia diakhir zaman ini, lalu beliau meceritakan sebuah kisah yang bekaitan dengan kesungguhan himmah sebagai berikut).

baca juga: Jalan Cepat dan Mudah Menjadi Waliyullah Menurut Habib Abdulqadir bin Ahmad as-Segaf

baca juga: Kisah Dakwah Habib Abdullah as-Syathiri di Pelosok Hadramaut

baca juga: Kisah Habib Ahmad as-Syathiri Tentang Pencuri Yang Ingin Bersedekah

 

Dahulu kala ada seorang Darwisy (orang Badui/ jelata) pada suatu saat ia melihat putri seorang Raja di zaman itu, tentu saja ia langsung terpersona dengan kecantikan putri Raja yang jelita itu, iapun bermaksud melamarnya. Ketika penduduk sekitar mengetahui jika ia ingin melamar putri Raja merekapun mentertawakan dan mecemoohnya, hal ini wajar, kerena anggapan mereka bagaimana mungkin seorang jelata yang berasal dari pegununggan ini akan meminang seorang putri Raja??? Hal ini tidak masuk diakal mereka. Sang Darwisy tidak mengubris celotehan orang-orang disekitarnya, dengan penuh keyakinan ia masuk istana dan menghadap sang Raja. Setelah ditanya ia menyampaikan maksud kedatangannya yang tiada lain untuk meminang putri sang Raja.

Sepontan sang Raja menjadi kaget bercampur sinis, lalu dengan nada menghina Raja itu berkata kepada si Darwisy, “Apa?!!, kamu mau melamar putriku??!!”, Rajapun terkekeh mentertawakannya, lalu kata Raja, “Taukah kamu berapa mahar untuk putri para Raja?”, kebetulan pada waktu itu si Darwisy membawa sebuah mangkuk yang biasanya dijadikan wadah untuk makanannya, iapun menjawab, “Berapakah mahar yang engkau minta untuk putrimu?”, sambil menunjuk mangkuk yang dibawanya si Raja menjawab, “Maharnya adalah, jika engkau mampu memenuhi mangkukmu itu dengan intan berlian !” Si Darwisy-pun segera keluar dari istana Raja dengan maksud memenuhi permintaan Raja, disisi lain si Raja bepikir bahwa hal itu takkan mungkin dapat dipenuhinya.

 

Diiringi kemauan yang kuat, si Darwisy bertanya-tanya kepada orang di sekitarnya, “Dimanakah aku bisa mendapatkan intan? ”Orang-orangpun menjawab, “Kamu hanya bisa mendapatkan intan di dasar lautan.” Ia lalu pergi ke pingiran laut dengan polosnya ia bermaksud menguras air laut itu hingga pikirnya jika air laut telah terkuras ia akan dapat dengan mudah mengambil intan sebanyak yang diinginkan. Bukankah ini (menguras air laut) adalah sesuatu yang mustahil ??, namun karena Allah SWT melihat adanya kesunguhan hati hambahnya yang polos ini maka Ia mengilhami seluruh ikan yang ada dilautan itu agar masing-masing dari mereka mengambil intan di dasar laut dan memuntahkannya kedaratan!

Maha Suci Allah seluruh ikan itu mentaati perintahnya, dalam waktu sekejap intan yang berkemilau telah memenuhi daratan, si Darwisy memungutnya satu demi satu hingga memenuhi mangkuknya selebihnya ia tinggalkan begitu saja. Lalu ia kembali ke istana menghadap Raja sembari menunjukkan mangkuk yang penuh dengan intan yang berkemilau cahayanya itu, ia berkata cukupkah ini menjadi mahar putrimu?? Tentu saja sang Raja terperangah melihat intan yang indah sebanyak itu yang sebelumnya tak pernah ia melihatnya, pada akhirnya iapun berhasil menikahi putri sang Raja.

Lalu habib Abdul Qadir menuturkan himmah semacam inilah yang kini telah tiada dalam diri kita… (ini hanyalah ringkasan dari kalam beliau yang telah dihimpun oleh salah seorang murid beliau Assayyid Muhammad bin Abdulqadir bin Husain Assegaf yang dapat kami terjemahkan).

donasi:Dompet Dakwah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *