Hukum Nikah Sirri

Saya ingin mengajukan pertanyaan sebagi berkut :1. Siapakah yang berhak menjadi istri di ahirat nanti, bagi seorang laki-laki muslim yang beristri dua ?. Apakah istri yang tua atau yang muda ?. Dan bagaiamana pula bagi seorang laki-laki muslim yang beristri lebih dari satu, seperti dua, tiga dan empat ?. Siapakah yang berhak menjadi istri diantara mereka ?. 2. Apakah wajib memberi nafkah baik nafkah lahir atau batin bagi seorang laki-laki yang sudah selesai akad nikah secara sirri, sedangkan diantara keduanya masih melanjutkan mencari ilmu, seperti mondok atau sekolah diluar negeri ?. Mohon supaya dilengkapi dengan dalil naqli atau lainnya. Atas jawaban ustadz saya ucapkan sukran jazila.

H.Abd.Rahman Baidlawi

Situbondo

Untuk pertanyaan anda mengenai siapa kelak yang akan menjadi istri di aherat, bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu, sudah pernah saya jawab pada yang lau, jadi mohon maaf, karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menjawab kembali pada edisi ini.

Tentang pertanyaan anda mengenai kewajiban memberi nafkah bagi yang telah menikah sirri, dapat saya jelaskan sebagi berikut. Sebelumnya perlu saya jelaskan, yang dimaksud dengan nikah sirri yang kita kenal selama ini, adalah pernikahan yang tidak dilakukan dengan mengadakan sebuah acara-acara tertentu, akan tetapi hanya dilakukan dengan melibatkan orang-orang yang menjadi persaratan dalam prosesi akad nikah, seperti hanya melibatkan wali atau hakim yang menjadi wali, dan dua saksi.

Kata “sirri” dalam bahasa arab berarti rahasia/sembunyi, sehingga wajar jika pernikahan yang hanya melibatkan segelintir orang kemudian disebut nikah sirri, karena tidak banyak orang yang mengetahuinya dan terkesan dirahasiakan/disembunyikan. Istilah nikah sirri sebagaimana diatas, tidak dikenal dalam hukum islam, yang terpenting akad nikah yang sudah memenuhi segala persaratannya telah dilakukan, maka telah secara resmi pula menjadi pasangan suami istri, dan oleh karenanya segala hal yang menyangkut kewajiban-kewajiban suami istri telah berlaku, seperti kewajiban nafkah dan lain-lain.

baca juga: Beginilah Cara Seorang Hafizah Membaca Al-Quran Waktu Haid

baca juga: Hukum Kawin Lari

baca juga: Bolehkah Minum Obat Batuk Yang Mengandung Alkohol?

 

Dengan demikian apabila seseorang telah melakukan akad nikah dengan sah, baik dilakukan dengan cara sembunyai-sembunyi (sirri) atau terang-terangan, maka secara resmi pula, menurut hukum islam telah menjadi pasangan suami istri. Dan perlu juga saya jelaskan, bahwa kewajiban memberi nafkah bagi suami adalah hak yang dapat digugurkan oleh istri, sehingga apabila istri rela jika suami tidak memberi nafkah karena alasan-alasan tertentu, seperti yang anda sebutkan dalam pertanyaan, maka kewajiban tersebut menjadi gugur.

Sedangkan mengenai kewajiban memberi nafkah batin, dalam madzhab Syaf’i tidak ada keharusan suami memberi nafkah batin. “Hubungan badan” dalam madzhab syafi’i, hanyalah perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan, bukan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh suami. Semoga anda puas dengan jawaban kami. Syukran.

sumber: cahayanabawiy

donasi: Dompet Dakwah

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *