Hukum Kawin Lari

Bagaimana hukumnya nikah lari ?.

Saya tidak begitu jelas maksud dan praktek kawin lari dalam pertanyaan antum. Lazimnya yang disebut kawin lari adalah perkawinan tanpa restu orang tua sehingga dalam prosesi akad nikah tidak melibatkan orang tua pihak perempuan, dan kemudian menyerahkan kepada hakim (penghulu) atau orang yang dianggap sebagai hakim dari kalangan tokoh agama.

Normalnya sebuah prosesi akad nikah harus melibatkan orang tua atau yang menggantikannya dari pihak perempuan, tetapi dalam keadaan tertentu pernikahan dapat dilakukan tanpa melibatkan mereka. Dalam madzhab Syafi’I peran wali nikah dapat dilakukan oleh hakim atau orang yang dianggap sebagai hakim ketika tidak diketahui keberadaan orang tua dan yang menggantikannya atau keberadaan orang tua dan yang menggantikannya diketahui melebihi jarak diperbolehkan melakukan Qoshor sholat ( hasil konversi Syeh Amin al-Kurdi dalam kitab Tanwirul qulub + 80,64 km) dari tempat dilakukan akad nikah.

Menurut sebagian ulama’ penggantian peran hakim kepada orang yang dianggap sebagai hakim oleh calon suami istri disaratkan keberadaan orang tua atau yang menggantikannya tidak diketahui, tidak cukup dengan hanya keberadaannya diketahui melebihi jarak diperbolehkan Qoshor sholat .

Dalam hal penyerahan proses pernikahan kepada orang yang menggantikan posisi hakim, harus diserahkan kepada orang yang saleh, berpegang teguh pada ajaran agama, dan dipastikan tidak terdapat hakim atau ada namun menuntut upah atas jasanya, selanjutnya pihak laki-laki dan perempuan menyatakan : “saya menjadikan anda sebagai hakim untuk pelaksanaan akad nikah saya dengan…….. ” . Lihat : Bughyatul mustarsyidin hal : 207.

baca juga: Seputar Permasalahan Puasa

baca juga: Dimanakah Posisi Makmum Perempuan Yang Benar?

baca juga: Apakah Janda Punya Hak Memilih Wali?

 

Mengingat sakralnya perkawinan, serta tuntunan untuk extra hati-hati dalam proses akad nikah karena menyangkut hubungan intim antara laki-laki dan perempuan, saya anjurkan untuk selalu berhati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan melakukan akad nikah dan sebisa mungkin dilakukan dengan memenuhi segala persyaratan yang telah disepakati oleh semua ulama’.

Dalam keadaan orang tua atau yang menggantikannya masih ada, pelakasaan akad nikah dengan melibatkan mereka tentu lebih terjamin keabsahannya, Perkawinan tidak semata-mata hubungan antara suami istri, jalinan hubungan antar keluarga suami dan istri mempunyai andil yang tidak kecil dalam keharmonisan rumah tangga, lebih-lebih perkawinan juga diharapkan dapat meneruskan keturunan silsilh keluarga  yang akan terus berlanjut.

Bagaimanapun juga restu orang tua sangat diperlukan dalam perkawinan demi menjaga hubungan antara anak dan orang tua,  lebih-lebih doa mereka sangat dibutukan dan mudah terkabul. Ridlo Allah terkait erat dengan ridlo orang tua dan murka Allah juga terkait dengan murka orang tua.  Mudah-mudahan penjelasan ini dapat memuaskan antum. Syukron  sumber: cahayanabawiy.com

donasi: Dompet Dakwah

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *