Haul Dan Maulid Solo Yang Selalu Dirindukan Umat Islam

Menyebut nama-nama para wali bisa mendatangkan rahmat. Itulah yang terefleksi dalam perhelatan haul Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi di Solo.

 

Hujan mengguyur bumi Surakarta di suatu Kamis pagi. Bukan hujan biasa, tapi hujan rahmat. Bercucuran deras dari langit ilahiyah. Curahannya menyejukkan kalbu ribuan muhibbin yang menjejali kawasan Gurawan.

Masjid Riyadh menjadi episentrum. Di situlah helatan haul Al-Imam Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi digelar. Acara ini terjadwal saban tahun. Dan kali ini jatuh pada 16 April 2009.

Sejak pukul 07.45 pagi, masjid itu sudah penuh sesak. Hadirin telah luber ke mana-mana. Di depan tampak seorang habib berwajah arif duduk bersila. Bajunya putih, serbannya hijau, dan sikapnya takzim. Beliau adalah Habib Abdullah bin Ali bin Salim al-Attas, munsib (kepala) keluarga besar Imam al-Attas dari Huraidhah, Hadramaut.

Setengah jam kemudian, suasana menjadi hiruk. Pemicunya adalah kedatangan Habib Umar bin Hafidz, ulama berkaliber internasional. Diiringi belasan santrinya beliau kemudian masuk dan dipersilakan duduk di barisan terdepan di sanding Habib Alwi bin Muhammad Anies al-Habsyi, sang tuan rumah.

Habib Jamal bin Abdulkadir as-Segaf membuka haul dengan pembacaan yasin dan tahlil. Gemuruh ayat-ayat suci itu pun langsung memenuhi masjid. Ditingkahi bacaan “La ilaha ilallah“, tasbih, dan salawat kepada baginda Nabi SAW. Kemudian Ustad Alwi bin Ali al-Habsyi berdiri menghadap tiang microphone. Dibukannya sepucuk kitab, lalu dengan nada yang berat namun mengalir, beliau membacakan manakib Imam Ali dalam teks bahasa Arab yang indah. Sosok sang imam pun terpampang dalam imagi-imagi seluruh hadirin.

Manakib itu kemudian dialih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Pembacanya adalah Ustadz Umar bin Abu Bakar al-Muhdlor, pengasuh pesantren Riyadul Jannah, Pasuruan.

Acara berikutnya adalah tausiyah dari Habib Umar bin Hafidz. Segmen ini sangat ditunggu-tunggu. Beliau, dengan kemegahan rabbaniyah-nya, berdiri dalam jubah soft abu-abu berpadu sorban cokelat. Butiran-butiran hikmah langsung berhamburan di semesta yang teduh itu. Seluruh hadirin tertegun, meresapi kalimat demi kalimat yang digelegarkan Habib Umar. Tak sedikit yang terisak karena haru.

Tausiyah ulama Tarim itu lalu diterjemahkan oleh Habib Jindan bin Novel bin Jindan. Terjemahannya bagus dan mengena. Masyarakat awam yang sedari tadi ingin mengetahui apa yang ditausiyahkan Habib Umar jadi maklum.

Setelah Habib Jindan selesai, giliran Habib Thahir al-Kaff didapuk menjadi pembicara. Seperti biasa, ceramahnya berapi-api, membakar himmah (semangat) kaum muslimin agar bergegas kembali ke jalur salaf. Beliau menutup ceramah dengan doa. Lalu Habib Abdullah bin Ali al-Attas berdiri untuk menuntun hadirin untuk melisankan kalimat tauhid.

Haul kemudian dipungkasi pembacaan doa wahbah oleh Habib Alwi bin Muhammad Anies al-Habsyi. Pas tengah hari, rangkaian haul rampung. Hadirin beranjak untuk istirahat, bersiap mengikuti maulid esok harinya. Para habaib beramah tamah dan menikmati jamuan di tempat khusus yang disediakan shahibul bait.

baca juga: Inilah Sederet Manfaat Tersenyum Yang Dahsyat

baca juga: Fenomena Maulid Nabi Muhammad SAW

baca juga: Mengapa Dunia Barat Alergi Dengan Kata “Jihad”?

 

MAULID

Jumat pagi, 05.45 WIB. Matahari baru saja merekah di tepi bumi. Namun larik demi larik maulid simtuddurrar telah bergema di angkasa Solo. Puluhan ribu hadirin menyimak. Ada yang sembari menahan kantuk.

Ketika mahallul qiyam, hadirin kian khusuk. Mereka berdiri menadahkan tangan, mengiba pada Yang Kuasa agar segala hajat dan harapan dikabulkan.

Lalu dengan sikap bersahaja, Habib Alwi bin Muhammad Anies al-Habsyi membacakan manuskrip yang berisi wasiat-wasiat Imam Ali bi Muhammad al-Habsyi. Nasehat-nasehat itu sungguh menyentuh kalbu. Tak sedikit hadirin yang melinangkan air mata. Isinya banyak memuat pentingnya menuntut ilmu, birrul walidain, serta penjagaan salat lima waktu.

Setelah itu, Habib Najib bin Abdullah as-Segaf memberikan mauidhah hasanah. Tidak terlalu lama, namun menggoreskan pesan yang dalam di sanubari kaum muslimin. Di dalamnya beliau menyinggung maraknya budaya mistis yang bisa membelokkan akidah umat Islam.

Dan akhirnya, doa maulid yang penuh rahasia-rahasia pun dibacakan oleh Habib Alwi bin Muhammad Anies al-Habsyi. Doa ini adalah intisari perhelatan haul. Hadirin khusuk mengamini, memohonkan berkah untuk diri, keluarga, dan negeri ini. Lalu Habib Umar bin Hafidz memimpin ziarah ke pusara Habib Alwi bin Ali al-Habsyi dan kedua putra beliau, Habib Ahmad bin Alwi dan Habib Muhammad Anies bin Alwi.

Para hadirin berkemas. Bersiap pulang ke rumah masing-masing untuk berbagi berkah itu. Dalam benak, mereka menjejakkan harap: mudah-mudahan tahun depan bisa hadir lagi di majelis yang indah ini. Solo memang selalu di hati.

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *