Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Shalat Berjamaah

Suatu pagi ketika salat subuh di Masjid Quba’. Sang imam, Ubay bin Ka’ab r.a., membaca surah panjang. (Tidak disebutkan surah apa, mungkin Al-Baqarah atau lainnya). Seorang makmum langsung mundur. Dia berpisah dari imam (mufaraqah).

Usai salat, sang imam mencela tindakan makmum tersebut. Tidak cuma mencela, dia juga mengadukan perihal makmumnya itu kepada Rasulullah SAW., satu-satunya rujukan dan tempat mengadu dalam masalah agama. Si makmum juga mengadu kepada beliau. “Saya mundur pada salat subuh karena si fulan berpanjang-panjang dalam salat,” katanya.

Tiba-tiba Rasulullah SAW murka, sangat murka. Tidak pernah beliau semurka itu. “Wahai para sahabatku sekalian. Di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lain tidak nyaman. Barangsiapa mengimami orang banyak, hendaklah dia mempersingkat karena di belakangnya ada orang-orang lemah atau sakit, orang tua dan anak kecil.” (riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain ada tambahan “… dan orang yang mempunyai hajat atau keperluan.” Dalam riwayat lain pula, beliau juga bersabda, “… dan bila seorang dari kalian salat sendiri, silahkan memperpanjang semau dia.” (riwayat Al-Bukhari).

Begitulah, jika anda salat sendiri, silahkan anda memanjang-manjangkan salat sesuka anda. Tapi bila anda menjadi imam di masjid atau musalla, anda tidak boleh hanya berpikir tentang diri sendiri, tapi juga harus memikirkan orang lain yang ada di belakang anda. Karena itu, persingkatlah salat anda. Lebih-lebih bila jama’ah anda sangat banyak. Tentu diantara mereka sangat beragam kemampuannya. Ada yang kuat dan betah salat berlama-lama, tapi mungkin pula ada yang ingin selekasnya selesai karena mungkin ada keperluan yang harus dilakukan, bekerja, atau karena badan mereka yang lemah.

Mempersingkat salat yang dimaksud di sini bukan sembarang mempersingkat, melainkan dengan tetap mengikuti patokan yang ada. Mempersingkat salat tidak boleh sampai merusak syarat rukunnya. Misalnya, bacaannya tetap harus tartil dalam arti benar dan baik, serta tidak meninggalkan thuma’ninah yang berarti menyempurnakan setiap rukun dengan mendiamkan seluruh anggota badan selama beberapa saat baik dalam posisi ruku’, i’tidal dan sebagainya. Tidak hanya yang wajib, yang sunnah pun juga tetap harus terjaga, seperti membaca surah, membaca doa iftitah, membaca tasbih di saat ruku’ dan sujud, serta lain-lainnya.

Dalam hal surah yang dibaca, juga terdapat ukuran sendiri. Misalnya, membaca surah Al-Baqarah hingga habis, ini tentu saja terlalu panjang bagi imam salat di masjid atau musalla. Tetapi, membaca semacam surah Al-Insan atau Al-Fajr dalam salat subuh tidak dianggap panjang. Justru surah Al-Kafirun atau Al-Ikhlas dalam salat subuh dapat dikategorikan terlalu singkat. Sebaliknya, dalam salat maghrib, dianjurkan untuk membaca surah sesingkat surah-surah tersebut, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. (baca CN edisi terdahulu).

Adapun untuk bacaan tasbih dalam ruku’ dan sujud, dianjurkan supaya imam di masjid atau musalla membacanya tiga kali, tidak lebih. Namun juga dianjurkan untuk tidak kurang dari itu. Sedang dalam tahiyat akhir, seusai membaca salawat Ibrahimiyah, boleh membaca doa yang panjang doanya tidak boleh melebihi panjang bacaan tahiyat bersama salawatnya. Jika lebih pendek, itu lebih baik.

 

Meluruskan Saf

Seorang imam hendaknya menunggu muazin selesai melantunkan iqamat. Setelah itu, jangan pula langsung mengucapkan takbiratul ihram. Lihatlah dulu jama’ah anda di belakang, apakah mereka sudah merapatkan saf dan meluruskannya. Anda perlu menoleh ke kanan dan kiri. Jika anda lihat ada yang renggang, suruhlah makmum di belakangnya mengisi kerenggangan tersebut, atau suruhlah makmum di samping bergeser merapatkan diri. Luruskan pula saf mereka. Ucapkan kalimat seruan, misalnya:

 

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ

Artinya: Luruskan saf-saf kalian karena meluruskan saf-saf adalah bagian dari kesempurnaan salat. (HR. Ibnu Majah)

Setelah itu ucapkan takbir dengan suara keras, sehingga didengar oleh banyak jama’ah. Bila anda seorang makmum, anda tidak perlu mengeraskan suara, cukup sekira anda sendiri mendengarnya. Itu berarti, lisan anda tidak sekadar bergerak-gerak mengucapkannya, namun mengeluarkan suara pula.

Sementara lisan anda melafalkan takbir, hati anda berniat salat. Berniatlah pula menjadi imam supaya anda mendapatkan keutamaan atau pahala berjama’ah.

baca juga: Hukum Menyentuh Mayat Bukan Muhrim

baca juga: Hukum Menyentuh Mayat Bukan Muhrim

baca juga: Dua Versi Asmaul Husna

 

Selanjutnya, setelah diam sejenak untuk mengambil nafas, bacalah doa iftitah dengan suara pelan. Diam lagi sejenak, baru anda membaca ta’awwudz (A’udzu billahi minasy syaythanir rajim).

Usai diam sejenak, mulailah membaca Al-Fatihah, termasuk basmalah, dengan suara keras. Membaca dengan suara keras ini hanya anda lakukan dalam dua rakaat pertama dari salat maghrib, isya’ dan subuh.

Ini tidak hanya berlaku bagi imam, tapi juga bagi orang yang salat sendiri. Sedang bila anda menjadi makmum, setelah membaca doa iftihah, hendaknya anda diam, mendengarkan bacaan Al-Fatihah imam.

Akan halnya pada salat zhuhur dan asar, bacaan Al-Fatihah hendaknya dipelankan. Baik imam maupun makmum membacanya dalam waktu berbarengan.

Bila anda telah sampai pada ujung bacaan Al-Fatihah, jangan langsung mengucap “Amiin”, tapi berhentilah sejenak untuk mengambil nafas. Setelah itu, barulah anda ucapkan “Amiin” dengan suara keras , baik ketika anda menjadi imam maupun saat anda salat sendiri. Adapun bagi makmum, hendaknya dia menunggu ucapan “Amiin”, lalu dia mengucapkannya dengan suara keras secara berbarengan dengan imam. Jangan mendahului, jangan pula membelakangi.

Setelah ucapan “Amiin” hendaknya anda diam beberapa saat. Lebih baik diam ini seperti panjang bacaan Al-Fatihah. Pada saat ini, makmum membaca Al-Fatihah dengan suara pelan.

Kemudian imam membaca surah dengan suara keras dalam dua rakaat pertama salat maghrib, isya’ dan subuh, sedang para makmum diam mendengarkan. Adalah makruh hukumnya bagi makmum membaca surah dalam salat-salat tersebut, kecuali bila dia tidak mendengar bacaan imam, misalnya karena terlalu jauh. Dalam salat zhuhur dan asar, baik imam maupun makmum membaca surah pada dua rakaat pertama dengan suara pelan.

 

Qunut

Doa qunut disunnahkan pada salat subuh, saat i’tidal pada rakaat kedua. Doa dimaksud adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اهْدِنا فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنا فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لنا فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنا شَرَّ مَا قَضَيْتَ

Sebagai imam, hendaklah anda mengeraskan suara di saat membaca doa ini, sementara para makmum mengamininya dengan suara keras pula. Kemudian anda membaca kelanjutan dari doa qunut, yaitu:

فَإِنَّك تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْك ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْت أَسْتَغْفِرُك وَأَتُوبُ إلَيْك .

Bacalah bagian ini dengan suara pelan. Para makmum juga membacanya dengan pelan, dan mereka tidak perlu mengamini bacaan imam karena bagian ini bukan merupakan doa melainkan hanya kata-kata pujian saja. Pujian tidak layak diamini.

Setelah itu, sebagai imam anda kembali mengeraskan suara untuk membaca salawat, bagian terakhir dari doa qunut, yang diikuti para makmum dengan mengamininya dengan suara keras pula. Salawat adalah bagian dari doa.

Selama mengucapkan doa qunut ini, disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan. Tetapi, tidak disunnahkan mengusap wajah di saat selesai.

Perlu juga diingat bahwa imam hendaknya mengeraskan suaranya saat membaca takbir perpindahan rukun. Begitu pula ketika mengucapkan:

سمع الله لمن حمده

Bila anda sudah sampai pada penghujung salat, ucapkan salam dengan suara keras. Sementara lisan anda mengucap salam, hati anda berniat keluar dari salat serta menujukan salam tersebut kepada para makmum yang ada di sebelah kanan dan kiri anda.

Usai salam, janganlah langsung berdiri. Tetaplah duduk di tempat sambil membaca wirid. Putarlah posisi duduk Anda 45 derajat, sehingga anda menghadap ke utara. Dengan demikian, para makmum akan berada di sebelah kanan anda. Demikian inilah teladan yang diperlihatkan oleh Rasulullah SAW.

Tetapi, bila di belakang anda terdapat jama’ah perempuan, anda tidak perlu mengubah posisi duduk anda. Tetaplah menghadap ke kiblat……!  Hamid Ahmad

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *