Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf, Pemegang Estafet Qutub Di Zamannya

Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut sangat pas untuk melukiskan sosok Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf. Ayahnya adalah seorang ulama besar dan berpengaruh. Demikian pula kakek dan datuk-datuknya. Seolah tak mau kalah, Habib Ahmad pun menjelma menjadi tokoh ulama setelah melalui usaha yang keras.

Hebatnya lagi, Habib Ahmad berhasil pula mengkader putranya, Habib Abdul Qodir bin Ahmad as-Segaf menjadi ulama besar. Jadinya, darah ulama yang suci itu mengalir dari generasi ke generasi berikut sesuai fitrahnya.

Habib Ahmad di lahirkan di kota Sewun pada 19 Sya’ban 1278 Hijriyah. Sewaktu lahir, ayahandanya, wajihuddin Habib Abdurrahman bin Ali As-Segaf merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Pasalnya, sejak lama ia sudah mendapatkan isyarat-isyarat ilahiyah bahwa kelak putranya itu akan menjadi seorang ulama besar.

Pun demikian kakek Habib Ahmad dari pihak ibu, Syaikh Muhammad bin Abdullah Baraja, ia begitu bahagia dengan kelahiran anak dari putrinya tersebut. Bagaimana tidak, jauh hari ia sudah mendapatkan berita akan kelahiran cucunya itu dari menantunya, Habib Abdurrahman. Dalam diri cucunya itu, Syaikh Muhammad menaruh harapan dan cita-cita setinggi langit.

Memasuki usia tamyiz, tanda-tanda kejeniusan Habib Ahmad mulai nampak. Ayahandanya pun langsung mengantarkannya mengarungi samudra pengetahuan dengan mengajarinya bacaan Al-Qur’an terlebih dahulu. Dan berkat kecerdasannya, Habib Ahmad melewati fase awal ini dengan cepat. Dalam usia yang masih hijau, ia sudah mampu membacaAl-Qur’an dengan baik sekalipun tulisan Kalamullah tersebut tanpa disertai harakat dan tanda baca. Ajaibnya lagi, di usia ini juga ia sudah mampu membaca segala macam kitab dengan cepat tanpa menyalahi kaidah nahwu, sharaf dan tajwidnya sekaligus.

Kemudian Habib Ahmad mulai mengembangkan pengetahuannya. Ia mempelajari risalah jami’ah karya Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi kepada ayahandanya sendiri. Dilanjutkan dengan mempelajari kitab safinah an-naja karya Syaikh Salim bin Abdullah bin Sumair, ringkasan-ringkasan Abi Fadl dan Abi Suja’. Ia juga menghafal beberapa kitab matan penting dalam bidang fikih, nahwu dan tajwid.

Berharap agar cakrawala pengetahuan putranya bisa lebih meluas, Habib Abdurrahman memerintahkan Habib Ahmad menuntut ilmu kepada ulama-ulama besar kala itu. Diantaranya Habib Abdul Qodir bin Hasan as-Segaf, Habib Muhammad bin Ali as-Segaf (dalam bidang tafsir, hadis, fikih dan taSAWuf), Habib Shofi bin Syaikh bin Thaha as-Segaf, Habib Alwi bin Abdurrahman as-Segaf, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur.

Dalam bidang tasawuf, Habib Ahmad pernah belajar kepada Habib Syaikh bin Umar as-Segaf, Habib Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih dan Habib Umar bin Hasan bin Abdullah al-Haddad dan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi.

Belum puas sampai disitu, Habib Ahmad kemudian bersama kedua saudaranya, Jakfar dan Abdul Qodir diboyong oleh ayahandanya ke rumah Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Disini Habib Ahmad memperdalam pengetahuan fikih dan nahwu.

 

ANTARA AYAH DAN ANAK

Setelah beberapa lama mondok di Rubat asuhan Habib Ali al-Habsyi, Habib Ahmad kemudian pulang untuk berkhidmat dan menggali pengetahuan ayahandanya sendiri yang memang seolah tak ada habis-habisnya. Ia selalu menyertai ayahnya dimanapun berada, di majelis taklim, di mesjid, bahkan pada saat istirahat. Ia senantiasa shalat lima waktu di belakang ayahnya.

Sementara itu, Habib Abdurrahman makin mencintai anak emasnya tersebut karena keindahan akhlak dan perangainya. Ia menganjurkan putranya yang sudah alim itu agar senantiasa membaca Al-Qur’an setelah salat subuh dan dhuhur. Juga mengajarinya beberapa kitab fikih dan taSAWuf setelah salat dhuhur dan ashar. Rutinitas demikian dijalani dengan istiqamah oleh Habib Ahmad sampai wafatnya ayahanda tercinta pada hari Jum’at 30 Sya’ban 1292 Hijriyah.

Sepeninggal ayahandanya, Habib Ahmad memokuskan diri berkhidmat kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Baginya, Habib Ali adalah syaikh futuh  yang kedua setelah ayahnya sendiri. Siang dan malam ia melazimi majelis gurunya tersebut. Tak terhitung berapa banyak kitab-kitab yang dipelajarinya dari penulis maulid simtud durrar yang masyhur itu . Tercatat bahwa Habib Ahmad menuntut ilmu kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi selama lebih dari 24 tahun.

Kemudian Habib Ahmad menunaikan ibadah haji pada tahun 1317 Hijriyah sekaligus berziarah ke makam datuk termulianya, Rasulullah SAW. Selama di Haramain ini ia juga menyempatkan diri belajar dan mengajar. Diantara ulama yang ia ambil faedah pengetahuannya adalah Habib Husein bin Muhammad al-Habsyi, Syaikh Muhammad Sai’id Babushail dan Umar bin Abu Bakar Bajunaid.

baca juga: Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Nusantara Yang Mendunia

baca juga: Kedalaman Ilmu dan Ketinggian Akhlak Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad

baca juga: Kisah Hidup Habib Ahmad bin Smith, Pembaharu Islam Abad Kedua Belas

SIFAT-SIFAT WALI ALLAH

Mengenai karakteristik Habib Ahmad, Salah satu putranya, Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Segaf, Jeddah (semoga Allah memanjangkan umur beliau dan menganugerahkan manfaat beliau kepada kita) bertutur, “Habib Ahmad adalah sosok ulama yang zuhud, ia tak pernah memikirkan urusan keduniawian sedikitpun. Ia sangat tawadhu’ (rendah hati), ia tak pernah berambisi untuk dijadikan pemimpin sekalipun di dalam salat atau majelis khoir. Di zamannya, tak ada seorang ulama pun yang bisa memadukan ilmu dan amal sesempurna dia. Ia selalu memperhatikan dan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sekalipun dalam keadaan sakit. Ia adalah khalifah dan pemilik maqam terbesar. Masjid Thaha senantiasa makin benderang sinarnya manakala Habib Ahmad di dalamnya.”

Habib Muhammad bin Hasan Aidid berkisah bahwa suatu ketika ia menghadiri salat jum’at di masjid jami’ Tarim. Di dalam khutbahnya, khatib melukiskan sifat-sifat wali Allah yang sangat istimewa dengan panjang lebarnya. Mendengar itu, Habib Muhammad menggerutu di dalam benaknya, “Adakah orang semacam ini (wali Allah) di masa sekarang.” Seketika itu pula terdengar suara gaib berbisik di telinganya. “Ketahuilah, Di tengah-tengah kalian ada Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf. Dia adalah salah satu dari para wali Allah di muka bumi.”

Al-Allamah Syaikh Abdul Kabir Bahmid bercerita, “suatu ketika aku bermimpi. Seolah-olah aku melihat kerumunan manusia berkumpul di masjid Habib Husein bin Abdullah Aidid untuk membaca maulid Nabi SAW. Nampak Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf duduk di depan sendiri. Kemudian mereka semua saling ngobrol dan bersalam-salaman. Lalu mereka membuat kesepakatan bahwa maqam khilafah nabawiyah (penerus Rasulullah SAW) diamanatkan kepada Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf.”

Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi amat mencintai Habib Ahmad dan mengagumi kecerdasan serta ketinggian nalarnya. Hingga pada saat Habib Ali memegang tongkat imamah ‘ammah (pemimpin umat) yang menuntutnya untuk lebih sering keluar untuk berdakwah, beliau menyerahkan sebagian tugas mengajarnya di Rubath dan Masjid Riyadh kepada Habib Ahmad. Nah, Selama mengajar di Rubath inilah banyak sekali ulama yang mengambil faedah pengetahuan darinya. Diantaranya adalah Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri, Habib Salim bin Hafid beserta putranya, Muhammad, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dan Habib Alwi bin Muhammad al-Mihdhar.

Salah satu murid teristimewa Habib Ahmad adalah putranya sendiri, Habib Abdul Qodir bin Ahmad as-Segaf. Sedari kecil Habib Abdul Qodir sudah diproyeksikan untuk menjadi pengganti Habib Ahmad. Ia mendapatkan pendidikan terbaik dari ayahnya dalam segala bidang pengetahuan. Ia berkhidmat dan menyertai ayahnya tersebut sampai wafatnya pada tanggal 4 Muharram 1357 Hijriyah. Habib Ahmad kemudian dikebumikan di kota Sewun di dekat pembaringan leluhurnya. Syamsul

dapatkan buku: Khulasoh Madad+Maulid Dhiyaullami, Maulid Diba’, Qosidah Burdah dan Hadrah Basaudan

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *