Empat Macam Tawassul Yang Dianjurkan Nabi

Kata Tawassul secara bahasa adalah: Upaya mendekatkan diri kepada Allah. Wasilah artinya adalah: Sesuatu yang dijadikan Allah sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan pintu menuju kebutuhan yang diinginkan. Surat al-Ma’idah ayat 35 menyebutkan, yang maksudnya kira-kira demikian: ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan mendekatkan diri kepadaNya “. Surat al-Isro’ ayat 57, maksudnya kurang lebih demikian: ” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) “.

Dengan demikian, praktek tawassul tidak lebih dari upaya mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan wasilah adalah sebuah media dalam usaha tersebut. Tujuan utamanya adalah berpusat kepada pendekatan diri kepada Allah. Tawassul dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara:

A. Bertawassul dengan amal kebaikan yang telah diperbuat, sebagaimana dalam hadits masyhur, yang menceritakan tiga orang yang sedang terperangkap didalam goa, mereka meminta kepada Allah agar dibukakan pintu goa yang tertutup batu, dengan bertawassul melalui amal yang telah diperbuatnya.

B. Bertawassul dengan Rasulullah SAW semasa hidupnya. Dalam sebuah hadits dinyatakan, yang artinya kurang lebih demikian: Suatu ketika datang kepada Rasulullah SAW orang yang buta, ia berkata “Do’akanlah aku kesembuhan”. Rasulullah SAW menjawab ” Jika engkau mau, maka bersabarlah karena itu lebih baik”. Orang buta menjawab ” Aku tidak mempunyai orang yang dapat menuntunku, sedang aku merasa sangat berat sekali “.

Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya wudlu’ dan berdo’a dengan kalimat : Ya Allah, aku meminta kepadamu, dan menghadapmu, melalui pelantara Nabimu Muhammad SAW. Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad aku menghadap kepada tuhanku melalui engkau, dalam memenuhi keinginanku, agar terkabul keinginanku.Ya Allah berilah pertolongan. Kemudian orang buta tersebut berdiri dan sembuh. (HR.Baihaqi)

C. Bertawassul dengan Rasulullah setelah wafatnya. Dalam hadits dinyatakan, yang artinya kurang lebih demikian: :”Barang siapa berziarah ke makamku, maka pasti akan mendapat syafaat (pertolongan)ku”.(HR.Bukhori – Muslim).  Al-Baihaqiy dan Ibnu Syaybah meriwayatkan: Telah terjadi krisis pangan pada masa Khalifah Umar ra. Kemudian Bilal bin al-Harats ra mendatangi makam Rasulullah SAW dan betawassul dengan Rasulullah SAW agar Allah menurunkan hujan. Maka malam harinya ia bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan mengkhabarkan hujan akan segera turun.

D. Bertawassul dengan orang-orang saleh. Dalam hadits, yang artinya kira-kira demikian: ” Bertawasullah kalian dengan aku dan dengan para keluargaku “. (HR.Ibnu Hibban). Imam Bukhori meriwayatkan: Dari Anas ra. Pada saat krisis pangan karena tidak ada hujan, sahabat Umar ra berdoa meminta hujan dan bertawassul dengan sahabat Abbas ra yang merupakan paman Rasulllah SAW. Ya Allah, berilah kami hujan dengan perantara Nabi Muhammad SAW dan Abbas ra paman Nabi. maka turunlah hujan. Kemudin Umar ra berkata: Wahai kalian semua, sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Abbas ra seperti anak kepada bapaknya, maka ikutilah dan jadikan beliau sebagai wasilah kepada Allah.

Kemudian atas dasar beberapa dalil diatas serta dalil-dalil lain yang tidak dapat saya sebutkan semuanya, para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat tentang hukum bolehnya bahkan disunnahkannya tawassul. Imam Syafi’i ketika berada di Baghdad, selalu menyempatkan diri mengunjungi makam Abu Hanifah dan bertawasul. Imam Ahmad bin Hanbal, juga bertawassul dengan Imam Syafi’i dan Imam Malik, serta menyerukan kepada semua orang agar bertawassul dengan Imam Malik, jika mempunyai hajat. Imam Abu Hasan al-Syadzili berkata: “Barang siapa mempunyai hajat, maka bertawassullah dengan Imam al-Ghozali “.

Menurut para ulama’, bertwassul melalui Rasulullah SAW atau orang-orang saleh, pada hakekatnya adalah bertawassul dengan amal kebaikannya sendiri, hal itu dikarenakan, sesungguhnya mereka yang bertawassul dengan seseorang, tidak lain karena kecintaannya serta kemulyaan orang yang ditawassuli, padahal mencintai mereka adalah bagian dari amal kebaikan. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa kegiatan tawassul jauh dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah).

Tidak ada maksud sedikitpun dari orang yang bertawassul, untuk memanjatkan do’a kepada selain Allah, justru dengan bertawassul, mereka berusaha mendekatkan diri kepadaNya dengan menjadikan wasilah sebagai media untuk usaha pendekatan diri kepadaNya. Jika bertawassul termasuk perbuatan syirik, tentu Rasulullah SAW tidak mengajarkan dan menyerukan umatnya untuk melakukannya,  para sahabat serta pengikut-pengikutnya tidak pula melakukannya.

Hanya orang-orang yang kurang mengerti agama atau tidak mengerti sama sekali tentang tawassul, yang menganggap tawassul adalah perbuatan syirik. Semoga dengan penjelasan singkat ini, anda dan kita semua mendapat petunjukNya. Lihat: Al-Mausu’ah al-Yusufiyah hal: 81-123, Mishbahu al-Anam 103-109, Hujjatu Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah hal: 92-106.

sumber: cahaya nabawiy

baca juga: Hukum Makan Kepiting, Begini Polemik Ulama Soal Halal-Haramnya

baca juga: Hukum Membaca Al-Quran Tanpa Tajwid

baca juga: Kewajiban Niat Dalam Tiap Ibadah

baca juga: Adakah Hukum Karma Dalam Islam?

donasi: Dompet Dakwah

 

MENGHADIRI WALIMAH PENGANTIN YANG NON MUSLIM

 

Bagaimanakah hukumnya bila menghadliri undangan Walimatul ‘Arus, sedangkan si mempelai pria non muslim ?.

 

Masruroh

Winongan-Pas

081331187XXX

 

 

Yang dimaksud dengan Walimatul ‘Arus adalah, jamuan makan yang dihidangkan dalam acara pernikahan. Sedangkan pernikahan antara Muslimah dan non Muslim hukumnya tidak sah. Oleh karenanya menghadiri acara tersebut tidak dapat disebut  Walitul ‘Arus, bahkan menghadiri acara tersebut hukumya haram, karena sama dengan menghadiri majlis maksiat, sebab pernikahan tersebut bertentangan dengan hukum Allah.

baca juga: Apakah Makna Syafaat? Dan Apa Saja Macamnya?

baca juga: Cara Berpoligami Yang Benar

baca juga: Shalat Subuh Ala Sunnah Nabi

 

JATUH CINTA PADA SAUDARA SEPUPU

 

Ana mau tanya bagaimana hukumnya mencintai saudara sepupu sendiri ?

 

Nabila al Chered

Rambipuji

0815559567XXX

 

Saudara sepupu bukan termasuk mahram. Hukum melihat dan menyentuhnya adalah haram. Apabila yang anda maksud dengan “mencintai” saudara sepupu adalah menikah, maka hukum pernikahannya sah, namun menurut para ulama’, hukum menikah dengan sepupu adalah makruh namun masih dalam kategori ringan. Lihat: Nihayatu al-Zain hal 300, I’anatu al-Tholibin juz lll hal: 270.

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *