Dua Kenikmatan Yang Diberikan Kepada Mukmin Yang Selalu Berkata Benar

“ Berkatalah dengan kata-kata yang lurus dan benar!”

Demikianlah Al-Qur’an berpesan kepada kita agar di dalam menjalani hidup ini, hendaknya kita senantiasa menjaga ucapan dan selalu berkata benar.

Nyatanya, memang banyak peristiwa besar yang terjadi bermula dari ucapan. Kata-kata bijak yang berbunyi ”mulutmu harimau kamu”, kiranya bukanlah sekedar hiperbola belaka. Sejarah umat manusia seringkali menunjukkan berbagai bencana kemanusiaan muncul akibat ucapan.

Dari sekian banyak pesan yang pernah kita dengar tentang kewaspadaan terhadap ucapan, peringatan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 70 dan 71 tampil sebagai pesan yang paling komplit. Mengapa? Sebab peringatan ini sekaligus mencakup nilai-nilai filosofis ukhrawi yang memang sudah seharusnya menjadi kajian setiap muslim. Adapun  pepatah, kata- kata bijak, petuah atau apapun namanya, semua itu tampaknya hanya mengacu kepada kepentingan dan keselamatan manusia dan kaitannya dengan kehidupan sosial di dunia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Seruan kepada orang-orang beriman pada ayat 70 diawali dengan perintah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah. Kemudian, dengan menggunakan conjunction atau kata penghubung ”wa” yang berarti ”dan”, kita diperintahkan agar selalu berkata-kata benar. Perhatikan penggunaan kata ”wa” yang dipakai secara berdampingan dengan perintah bertaqwa.

Ucapan-ucapan yang tidak benar, ucapan-ucapan yang diutarakan seseorang dengan maksud dan tujuan-tujuan tersembunyi, ucapan-ucapan yang seenaknya saja dilontarkan orang tanpa merisaukan keresahan yang akan muncul di kalangan umat, tentu saja bukanlah ”qaulan sadiidan” sebagaimana termaksud pada ayat ini. Lebih-lebih lagi jika si penutur seorang pemimpin atau seorang yang dianggap ulama, yang dengan humor yang tidak lucu berkata seenaknya saja!

Apakah yang dijanjikan Allah manakala orang-orang yang beriman telah memenuhi kewajiban bertaqwa dan bertutur kata benar? Allah pun menjanjikan dua kenikmatan besar yang akan menjamin keselamatan dan kebahagiaan mereka. Jaminan yang pertama berupa pelurusan amal-amal yang kita lakukan. Seorang muslim yang baik akan menyadari bahwa seberapa pun amal yang mampu dia lakukan, tentu disana-sini penuh kekurangan dan cela. Kita juga tidak pernah tahu apakah amal-amal itu diterima Allah. Ketika amal-amal ini diluruskan Allah, maka Insya Allah di situlah terdapat jaminan penerimaannya.

Jaminan yang kedua adalah diampuninya dosa-dosa.

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُم

Rasul yang maksum dari dosa masih memohon ampunan Allah tidak kurang dari tujuh puluh kali dalam sehari. Bagaimana dengan kita? Jaminan ampunan dari dosa-dosa ini tentu sangat membesarkan hati. Digunakannya bentuk plural atau jamak ”dhunuub” memberikan suatu petunjuk bahwa dosa dan kesalahan yang kita lakukan pastilah tak terhitung jumlahnya.

Tampaknya amal saleh yang belum pasti lurus memang perlu diluruskan, dan dosa-dosa yang teramat banyak itu haruslah diampuni, dan kedua pekerjaan in hanya bisa dilakukan oleh Sang Maha Pelurus dan Sang Maha Pengampun. Syaratnya ? bertaqwa kepada Allah dan berkata-kata benar!

Menurut Yusuf Ali dalam ” The Holy Qu’ran – Text, Transalation and Commentary”, pengertian ”qaulan sadiidan” tidak saja terbatas pada berkata benar. Lebih dari itu, ucapan yang kita utarakan hendaknya juga tidak ”beating about the bush” atau berputar-putar. Jadi intinya adalah, apa yang kita katakan itu haruslah lurus dan benar adanya, dan cara kita mengungkapkannya harus langsung mengarah kepada titik kebenaran itu.

Sungguhlah beruntung orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Sungguhlah beruntung mereka yang hanya berkata-kata dengan benar. Sebab….. di penghujung Al-Ahzab 71 Allah menjanjikan kesuksesan besar bagi mereka dengan janjiNya :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

baca juga: Bagaimana Ciri Kawan Sejati? Ini Kata Habib Muhammad bin Hadi as-Segaf

baca juga: Nasehat Habib Husein bin Muhammad al-Haddad Untuk Kawula Muda

baca juga: Cara Salaf Meraih Ilmu Yang Bermanfaat

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *