Dua Hadits Shahih Yang Menjadi Dalil Bolehnya Tawassul

Paham Ahlussunnah merupakan paham mayoritas umat Islam di muka bumi ini. Paham ini bercirikan sikap konsisten pada Kitab Allah (Al-Qur’an), sunnah Rasul-Nya serta para sahabat penerusnya. Paham yang mendapatkan garansi keselamatan langsung dari Rasulullah ini pada umumnya sangat moderat dan tidak gampang terjebak dalam sikap mengkafirkan kelompok Islam lain yang beda pandangan atau bahkan berseberangan dalam beberapa hal dengan mereka. Termasuk dalam memandang persoalan amalan-amalan yang tidak terdapat pada masa Nabi SAW, Ahlussunnah tidak serta-merta menghakimi dengan mengatakan sesat.

Dalam memandang persoalan amalan “bid’ah” tersebut, kelompok Ahlusunnah lebih mengedepankan pendekatan yang relatif lunak, sehingga tidak terjebak pada sikap generalisasi yang kurang bijak. Sebab persoalan amalan bi’dah masih bisa dicarikan ruang untuk menjadi “tidak lagi bid’ah” atau dengan bahasa lain “bid’ah hasanah”. Namun “ruang” ini sama sekali tentu bukan menjadi jalan untuk menciptakan “syariat baru”. Sama sekali tidak, melainkan sebuah usaha “kompromi” guna menghindari tindakan-tindakan ekstrem yang hanya akan melukai persaudaraan sesama kaum muslimin.

Berbeda dengan kelompok semacam Wahabi (Salafi) yang punya kecenderungan menyatakan sesat terhadap segala bentuk amalan yang tidak terdapat di masa Nabi SAW. Kelompok yang satu ini bahkan tidak jarang mengkafirkan orang-orang yang melakukan tawassul kepada Allah melalui para Nabi atau wali Allah. Kelompok yang mengibarkan paham Muhammad bin Abdul Wahhab ini dengan tidak proporsional membandingkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang yang menyembah berhala yang menngggunakan alasan sebagai wasilah (perantara) untuk dekat kepada Allah.

 

Tawassul bukan Syirik

Persoalan tawassul (membuat wasilah atau perantara) dalam kaitan hubungan vertikal manusia (hamba) kepada Tuhannya perlu kita cermati bagaimana semestinya praktik dari hal itu. Jika dalam beribadah sudah tentu manusia bisa langsung melakukan tanpa wasilah apapaun kepada Tuhannya. Bahkan jika dalam beribadah kepada Allah seseorang menggunakan wasilah (perantara) dengan—misalnya—menyembah atau bersujud kepada selain Allah, maka jelas itu merupakan tindakan syirik yang dimurkai oleh Allah SWT meskipun dengan alasan agar berhala-berhala itu bisa mendekatkan manusia kepada Allah.

Agama samawi tidak pernah merekomendasikan bahkan sama sekali tidak menoleransi segala bentuk tindakan syirik. Syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah, sebab syirik merupakan tindakan aniaya yang amat besar yang sama sekali tidak pantas bagi kesucian dan keagungan Allah SWT.

Persoalan tawassul akan menjadi berbeda jika praktiknya dengan cara melakukan pendekatan kepada orang-orang yang sudah jelas-jelas dekat dengan Allah atau dimuliakan oleh Allah seperti para Rasul atau Nabi Allah atau “orang-orang tertentu” yang dalam pandangan kita mereka masuk kategori “dekat” dengan Allah. Misalnya orang-orang yang ahli beribadah dan istiqamah kepada Allah sehingga mereka memenuhi kriteria kewalian yang ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Iwr& žcÎ) uä!$uŠÏ9÷rr& «!$# Ÿw ê’öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÏËÈ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qçR%Ÿ2ur šcqà)­Gtƒ ÇÏÌÈ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut (kepada selain Allah) pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa” (QS Yunus [10]: 62-63)

Praktik tawassul dengan orang-orang mulia itu misalnya dengan menyebutkan keutamaan, ketinggian pangkat dan derajat, kebesaran, kebaikan, kerasulan, kesalehan atau kewalian mereka ketika kita memohon atau berdoa kepada Allah SWT. Praktik tawassul semacam ini merupakan bagian dari ungkapan rasa cinta terhadap orang-orang yang dicintai oleh Allah. Hal itu tidak masalah kita lakukan. Sangat tidak bijak jika hal itu dikatakan bid’ah sesat, apalagi syirik. Sebab pada dasarnya dalam praktik tawassul semacam itu kita memohon kepada Allah agar kita mendapatkan kebaikan seperti yang telah Allah berikan kepada orang-orang yang dicintai-Nya itu.

Ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan orang yang menyembah berhala meskipun dengan alasan bahwa berhala-berhala itu tak lebih dari sekedar “wasilah” agar yang menyembahnya bisa lebih dekat kepada Allah. Penyembahan terhadap berhala-berhala maupun sesembahan batil lainnya sama sekali tidak pernah diajarkan oleh agama-agama samawi. Dan bahkan agama menegaskan bahwa hal itu merupakan tindakan syirik dan bodoh yang bisa merusak iman (ketauhidan) seseorang.

Sayangnya, kelompok yang mengaku diri sebagai al-Muwahhidin (ahli tauhid) ini justeru terjebak pada sikap yang bisa mendekati tindakan syirik. Sikap tersebut adalah keyakinan mereka bahwa Allah bersemayam di atas Arasy sebagaimana makhluk fisik yang memerlukan volume ruang dan waktu. Mereka juga menganggap Allah sebagai Zat yang memiliki anggota tubuh seperti halnya manusia. Mereka mengusung ayat-ayat mutasyabihaat sebagai argumen tanpa mengindahkan etika penyucian terhadap Zat Allah Yang Maha Suci dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya.

Kelompok yang suka mengusung zahirnya ayat ini bahkan berani menyatakan kafir kepada para peziarah makam Nabi SAW. Kelompok ini telah melakukan kesalahan besar dengan mengusung ayat-ayat yang sebenarnya ditujukan kepada orang-orang kafir untuk menghantam kaum Muslimin. Generalisasi yang mereka lakukan jauh dari rasional karena tanpa melihat duduk persoalan yang semestinya. Ziarah kubur jelas-jelas dibolehkan oleh Islam. Jika ziarah ke makam orang biasa saja dibolehkan, apalagi ke makam orang-orang yang jelas-jelas menjadi wali Allah.

 

Hanya Allah Tempat Meminta

Jika orang-orang kafir itu menyembah berhala atau berdoa kepada selain Allah maka itu mereka lakukan dengan keyakinan bahwa selain Allah itu mempunyai kekuatan dan pengaruh untuk memberikan kebaikan atau kejelekan. Sedangkan orang-orang mukmin yang bertawassul kepada para Nabi atau wali itu sama sekali berbeda dengan praktik yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu, Orang-orang yang melakukan tawassul kepada Nabi atau wali Allah itu tetap memohon kepada Allah dan bahwa hanya Allah saja yang mutlak memiliki kekuatan atau pengaruh memberikan kebaikan atau keburukan, manfaat atau bahaya.

Orang-orang yang bertawassul itu tidak pernah punya keyakinan bahwa para Nabi atau wali Allah itu yang akan mengabulkan permintaan atau doa mereka. Melainkan Allah SWT saja yang akan mengabulkan doa mereka. Mereka berharap dan memohon kepada Allah agar mereka diberikan kebaikan sebagaimana yang telah diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh itu. Dengan mendekati hamba-hamba-Nya yang saleh itu, mereka berharap bisa pula dekat kepada Allah. Itulah arti dari praktik tawassul yang dilakukan oleh umat Islam.

Umat Islam yang melakukan tawassul itu melihat bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah itu merupakan jalan terbaik untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Mereka bukan memohon kepada orang-orang shaleh itu, tetapi memohon kepada Allah dengan perantara kebaikan orang-orang yang dicintai oleh Allah tersebut. Allah-lah satu-satunya yang kita pinta dan kita tuju. Umat Islam tidak membedakan antara orang-orang yang dibuat tawassul itu masih hidup atau sudah meninggal. Sebab, masih hidup atau sudah mati maka pada dasarnya mereka tidak bisa mengabulkan doa seseorang. Hanya Allah SWT yang mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.

baca juga: Mewaspadai Pemahaman Sekuler

baca juga: Sejuta Khasiat Maulid Nabi Menurut Para Ulama Salaf

baca juga: Merebut Berkah Nabi

 

Dalil Tawassul

Tawassul bukan merupakan tindakan bid’ah apalagi sesat sebagaimana yang dituduhkan oleh kelompok Wahhabi. Sebab praktik tawassul juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri. Dalam suatu hadits riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Anas bin Malik r.a., bahwa Nabi SAW pernah mengatakan, (yang artinya) “(Ya Allah) ampunilah Umi Fathimah binti Asad dan lapangkan jalan untuknya dengan kebenaran Nabi-Mu dan nabi-nabi yang sebelumku”.

Juga dalam hadits lain diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW.

Lelaki itu berkata kepada Nabi SAW, “Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhan mataku!”.

Nabi SAW berkata, “Jika kamu mau maka berdoalah, dan jika kamu mau bersabar maka bersabarlah! Dan itu lebih baik bagimu”.

Berdoalah!” pinta laki-laki itu.

Maka Nabi memerintahkan orang itu untuk berwudlu dengan baik dan diapun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad Nabi (pembawa) rahmat. Wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap Tuhan-ku dengan (perantara) engkau untuk kebutuhanku agar dikabulkan. Ya Allah jadikan ia (Muhammad) sebagai penolongku”. Luar biasa, ketika laki-laki itu pulang maka dia sembuh total dari kebutaannya. (HR At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Baihaqi, Ath-Thabrani dari Utsman bin Hanif).

Dua hadits shaheh di atas jelas sekali mengisahkan praktik tawassul dengan menggunakan kebenaran dan pangkat seorang Nabi. Dengan demikian, maka tawassul sama sekali bukan tindakan bid’ah melainkan sunnah. Kedua hadits di atas merupakan dalil jelas bahwa praktik tawassul sama sekali tidak sama bahkan tidak mirip dengan tindakan syirik para penyembah berhala. Dan bahwa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan bertawassul dengan orang-orang yang dicintai-Nya adalah logis dan etis. Anshory Huzaimi

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *