Dahsyatnya Manfaat Cinta Rasul Kepada Setiap Insan Muslim

“Ya Rasulallah, kapan hari kiamat datang?” tanya seorang badui.

“Apa yang engkau persiapkan untuknya?”

“Tidak ada. Hanya saja, saya cinta pada Allah dan Rasul-Nya?”

“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, kata Anas bin Malik r.a., “Kami tidak pernah merasakan bahagia sebahagia lantaran sabda Rasulullah s.a.w. ini ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai’. Aku cinta pada Rasulullah s.a.w., Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Aku berharap dapat bersama mereka (kelak di hari kiamat) berkat cintaku pada mereka walaupun amalku tidak sama dengan amal mereka.”

Itulah kekuatan cinta. Cinta bisa membawa kebahagiaan di akhirat. Memasukkan kita ke dalam sorga dan menjauhkan kita dari neraka.

Berbahagialah para sahabat, yang memiliki cinta nan tulus kepada Nabi s.a.w. Bukan cinta birahi atau nafsu. Bukan cinta karena kepentingan. Bukan cinta palsu. Tetapi cinta yang benar-benar murni karena Allah SWT dan karena pribadi agung Rasulullah s.a.w.

Coba simak cerita berikut ini. Diriwayatkan, Abu Shafwan bin Qudamah dibai’at oleh Nabi s.a.w. di Madinah. Setelah bai’at, beliau mengulurkan tangan beliau pada lelaki itu. Abu Shafwan mengusap tangan nan mulia itu sambil berkata, “Aku mencintaimu, ya Rasulallah.” Beliau menjawab, “Orang akan bersama siapa yang dicintainya.”

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menduga, lelaki badui yang diceritakan dalam hadis pertama di atas ialah Abu Shafwan ini. Dengan demikian, meski ada dua hadis berbeda redaksi, tetapi subyek ceritanya sama.

Ada banyak sahabat yang diriwayatkan menyatakan dengan tegas cintanya pada Rasulullah s.a.w. Seperti cinta Umar bin Khaththab r.a. yang saking besarnya sehingga dia berkata lantang sambil menghunus pedang, “Siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan aku tebas lehernya dengan ini.” Dia tidak tahan berpisah dengan beliau.

Seorang sahabat lain kurus karena takut berpisah dengan beliau. Rasulullah s.a.w. mendapati lelaki tersebut dalam kondisi seperti itu setelah lama tidak bersua dengannya. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu?”

Dia menjawab, “Saya tidak tahan berpisah dengan Baginda sebentar saja. Bagaimana kalau nanti tidak bisa saling bertemu?”

Beliau menjawab, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.”

Pembaca, dari penuturan di atas kita tahu, kekuatan cinta yang menyelamatkan itu ada syaratnya. Syarat pertama, cinta itu bukan karena nafsu, melainkan cinta yang suci, cinta karena Allah SWT. Cinta karena Allah itu sangat tinggi derajatnya. Diriwayatkan bahwa Allah berfirman dalam hadis qudsi, “Aku mendapati cinta-Ku pada orang-orang yang saling mencinta karena Aku.” (riwayat Malik) Tetapi bila cinta itu cinta karena nafsu birahi pada orang yang tidak selayaknya (baik dia sesama jenis maupun lain jenis tapi bukan istri atau suami sahnya), maka cinta ini cinta yang mencelakakan.

Syarat kedua ialah, cinta itu harus tertuju pada pihak yang tepat. Yakni tertuju pada orang yang memang layak untuk dicintai. Seperti Rasulullah s.a.w., kaum shiddiqin dan para wali. Namun bila cintanya ditujukan pada orang fasiq (seperti artis yang bergelimang maksiat), wow, ini cinta yang mengkhawatirkan. Bisa-bisa kelak di akhirat dia dikumpulkan dengannya. Sebab, sabda Rasulullah s.a.w. tadi, “Orang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”

 

ALASAN

Tentu saja, yang paling tepat untuk dicintai adalah Rasulullah s.a.w. Kita boleh mencintai orangtua kita, anak kita, saudara-saudara kita, istri-istri kita, para sahabat Nabi s.a.w., ulama, atau siapapun, tetapi yang paling kita cintai, setelah cinta kita pada Allah, adalah Rasulullah s.a.w. Cinta kita pada beliau harus mengungguli cinta kita pada yang lain. Kalau tidak, azab Allah bakal menanti. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ

 

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, sanak kerabat kalian, harta benda yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian cemaskan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian senangi, itu lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan azab-Nya’.” (At-Taubah: 24)

 

Jadi, mencintai Rasul adalah perintah Allah. Wajib. Bahkan Nabi s.a.w. menegaskan, salah satu ukuran kesempurnaan iman seseorang ialah cintanya pada beliau. Beliau bersabda, “Tidaklah beriman seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada yang lain.” Jadi, semakin cinta dia pada Rasulullah s.a.w., semakin sempurna imannya. Dan bisa pula dibalik, semakin tebal imannya, otomatis semakin cinta dia kepada Rasulullah s.a.w.

Beliau memang tidak hanya harus dicintai, tapi juga pantas untuk mendapatkan cinta kita. Betapa tidak, beliau adalah manusia yang paling dicintai oleh Allah. Beliau adalah manusia paling mulia.

Beliau penyelamat kita – ini menjadi alasan lain mengapa kita pantas mencintainya. Beliau yang menunjuk jalan kebenaran pada kita. Beliau yang mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya Islam. Beliau pula yang akan memberi syafaat pada kita, ketika tidak seorang pun sanggup melakukannya.

Beliau juga mencintai kita semua. Beliau peduli pada kita. Dari waktu ke waktu, beliau selalu memikirkan kita, keselamatan kita, kebahagiaan kita. Beliau korbankan seluruh raga, harta dan perasaan beliau untuk kita, sahabat dan umatnya.

baca juga: Kehebatan Maulid Simthud Durar Karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi

baca juga: Wasiat Habib Munzir al-Musawa Soal Dahsyatnya Fadhilah Siwak

baca juga:Kisah Penjahit Miskin Yang Membangun Masjid Megah Di Hadramaut

 

BUKTI

Namun cinta kita pada beliau harus tulus. Bukan sekadar hiasan bibir, melainkan menghunjam dalam hati. Lebih bagus lagi bila cinta itu mampu menggetarkan hati, seperti cinta yang dipunyai kaum salaf dan para ulama saleh dulu. Setiap kali disebut nama beliau, hati bergetar. Hati terasa sejuk. Serasa ada air yang mengalir di batin. Lalu mengalirlah, dari bibir mereka, puji-pujian kepada beliau. Meluncurlah puisi, syair atau untaian kata prosaik yang indah-indah mengenai beliau.

Kendati begitu, cinta tidak cukup hanya dipendam di hati. Sedalam apapun cinta kita kepada Allah dan Rasulullah s.a.w., namun bila tidak dibuktikan dalam perbuatan nyata, maka itu percuma. Atau setidaknya, jauh dari sempurna. Sebab, Allah SWT berfirman:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ الله وَ يَغْفِر لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ

 

“Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”

 

Dalam ayat ini Allah seperti minta bukti pada kita. Seakan dikatakan oleh Nabi s.a.w., atas perintah Allah, “Ayo kalau kalian mengaku cinta pada Allah, mana buktinya? Kalian harus membuktikan cinta kalian dengan mengikuti aku.”

Dalam kehidupan sosial kita pun, bila seseorang menyatakan cintanya pada orang lain, maka dia diminta buktinya. Jika dia berbuat sesuatu yang justru tidak disenangi kekasihnya, sang kekasih pasti marah dan tidak percaya.

Begitupun dalam hubungan dengan Allah. Dalam ayat di atas, misalnya, Allah menjadikan ketaatan kita pada apa yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. sebagai syarat untuk mendapatkan cinta Allah dan ampunan-Nya. Dengan demikian, percumalah cinta itu bila tidak disertai dengan ketaatan.

Itu untuk orang yang mengaku cinta pada Allah. Apalagi orang yang mengaku cinta pada Rasulullah s.a.w. Padahal, cinta pada Allah itu tarafnya jelas lebih tinggi daripada cinta pada Rasulullah s.a.w.

Oya, firman Allah di atas menegaskan bahwa cinta Allah dan cinta Rasulullah s.a.w. itu sesuatu yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Begitupun, cinta Allah dan Rasul di satu pihak dan kesetiaan terhadap syariah dan sunnah Rasulullah s.a.w. di pihak lain merupakan satu kesatuan. Saling terkait.

Karena itu, cinta kita pada Allah dan Rasul-Nya harus dibuktikan dengan mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sebagaimana disampaikan oleh Rasul. Bila ada orang yang mengaku cinta pada Allah dan Rasul-Nya namun dia tidak mematuhi perintah dan larangannya, itu merupakan pelecehan atau cinta yang semu belaka. Misalnya, kalau Anda lebih mengutamakan perintah atasan, orangtua atau istri/suami Anda daripada perintah Allah, maka Anda lebih mencintai mereka daripada Rasulullah s.a.w., dan itu riskan terhadap azab Allah seperti disebut dalam ayat Al-Quran yang dikutip terdahulu. Atau Anda melalaikan salat karena sibuk dengan pekerjaan Anda, Anda tidak berzakat karena merasa sayang dengan harta Anda, atau Anda berbuat maksiat karena menuruti anak yang Anda sayangi, atau membiarkannya terlibat perbuatan dosa karena cinta Anda padanya, berarti Anda tidak mencintai Rasulullah s.a.w.

Cinta pada Rasul juga harus dibuktikan dengan kesetiaan kita pada sunnah beliau. Dalam ayat di atas disebutkan, “maka ikutilah aku”. Ini sesuai dengan sabda beliau, “Barangsiapa menghidup-hidupkan sunnahku, maka dia sungguh mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, dia akan bersamaku di sorga.” Karena itu, marilah kita menjalankan sunnah Nabi s.a.w. dengan penuh cinta.

 

PUPUK CINTA

Mari kita pupuk rasa cinta kepada beliau, khususnya di bulan Maulid ini. Pupuklah pula cinta Rasul di hati anak-anak kita. Jangan biarkan kita atau mereka lebih mengidolakan para artis atau pemain olah raga, sementara cinta Rasul tidak tertanam sama sekali di hati mereka. Atau di hati mereka ada cinta Rasul namun masih kalah dari cinta mereka pada idola tadi.

Cinta Rasul itu bisa dipupuk. Kalau para sahabat, yang hidup sezaman dengan beliau, bisa mencintai beliau sedemikian rupa, kita bisa pula memiliki cinta serupa. Sebab, meski jasad beliau telah terbujur di bumi Madinah, sebenarnya ruh beliau masih hadir di tengah kita. Cinta beliau masih terus menjamah kita. Kalau orang mati syahid saja disebut dalam Al-Quran tidak mati, apalagi beliau. Betapa banyak cerita tentang para wali yang berjumpa dengan beliau. Tidak hanya dalam mimpi, tapi juga dalam keadaan terjaga. Jadi beliau, pada hakikatnya, masih hidup.

Beliau telah berjanji bahwa beliau (baca: ruh beliau) akan bangkit dan hadir bila ada orang yang membaca salawat pada beliau. Maka, marilah kita perbanyak membaca salawat dan menyebut-nyebut nama beliau. Membaca salawat dan menyebut-nyebut nama beliau merupakan pupuk bagi benih cinta di hati, sekaligus bukti akan cinta kita pada beliau.

Cara lain untuk memupuk rasa cinta ialah dengan membaca riwayat hidup beliau dan mempelajari sifat-sifat beliau. Mengetahui akhlak beliau yang agung dan keutamaan-keutamaan beliau akan menambah rasa cinta di hati.

Di bulan Maulid ini kita biasa mengadakan pembacaan Maulid, entah itu Maulid Diba’i, Al-Barzanji, Maulid Al-‘Azab atau Maulid Habsyi. Semuanya bercerita tentang perikehidupan beliau sejak lahir hingga wafat. Itu merupakan hal yang baik. Walaupun itu tidak ada di zaman Rasulullah s.a.w atau zamannya sahabat, namun kata ulama, itu adalah bid’ah hasanah (baik) karena dapat memupuk rasa cinta sekaligus menjadi bukti cinta pada beliau.

Akhirnya, marilah kita baca dan pelajari hadis-hadis beliau. Sama seperti dua hal yang disebut barusan, mempelajari hadis juga dapat meningkatkan rasa cinta sekaligus bukti akan cinta kita pada beliau. Lebih dari itu, juga bisa menambah perbendaharaan ilmu kita.

Dan, tentu saja, jangan lupa untuk membaca Al-Quran. Sebab, Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan pada beliau. Jadi, sangat naïf bila orang mengaku cinta pada Rasulullah s.a.w., tapi dia tidak pernah menyentuh Al-Quran. Bibirnya tidak pernah bergetar dengan huruf-huruf Al-Quran.

Alhasil, cinta Rasul berarti cinta pada semua yang ada pada diri beliau dan sekitar beliau. Cinta pada sifat-sifatnya, pada hadisnya, pada kitab sucinya, pada sahabat-sahabatnya, pada keluarganya, yaitu istri-istrinya, paman-pamannya dan keturunan atau dzurriyah-nya. Hamid Ahmad sumber: cahayanabawiy

donasi: Dompet Dakwah

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *