Dahsyat! Isi Ceramah Habib Umar bin Hafiz di Universitas Michigan

usa

Kita tentunya sudah biasa menyimak ceramah-ceramah Habib Umar bin Hafiz di podium atau majelis-majelis taklim. Beliau acapkali menyelipkan kisah kehidupan para salaf di tengah ceramah-ceramah beliau. Bayangkan jika beliau memberikan ceramahnya di hadapan para guru besar Universitas terkemuka di Amerika Serikat? Berikut ini adalah cuplikan ceramah ilmiah Habib Umar di aula Universitas Michigan, Detroit, Amerika Serikat pada 23 April 2011.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menghimpun kita di dalam urusan yang baik ini, di Universitas besar yang senantiasa melapangkan jalan bagi penelitian-penelitian dan ikhtiar pencarian kebenaran. Atas dasar niat yang baik dan keinginan yang kuat untuk menyebarkan manfaat, sebetulnya penelitan adalah salah satu bentuk hidayah yang tak ternilai.

Kami menghaturkan terimakasih kepada pihak yang telah merancang pertemuan ini, serta memberikan kesempatan berharga bagi kami untuk bertatap muka dengan para guru besar, peneliti, dan mahasiswa di universitas ini. Pada kesempatan ini tema yang akan kita perbincangkan adalah “modernisasi.”

Tidak disangsikan lagi bahwa anda semua tentunya sudah sering mendengar kata  “modernisasi” atau pembaruan. Silang pendapat mengenai makna kata ini memang banyak. Sebelum membahas lebih jauh mengenai tafsir “modernisasi” ini, alangkah baiknya apabila kita memahami arti “modernisasi”, definisinya, dan bagaimana kita menguraikannya agar diskusi kita lebih terarah dan mencapai hasil yang diharapkan.

Mari coba kita artikan modernisasi dengan kalimat yang mencakup semua aspek kehidupan. Para pakar mengartikan modernisasi berbeda-beda, berdasarkan kontek yang melatar-belakangi pemikiran mereka, baik itu ekonomi, sosiologi, politik atau sosial.

Kalimat yang paling tepat dalam mendefinisikan modernisasi barangkali adalah: memperbarui segala sarana yang memberikan manfaat pada kehidupan manusia serta meningkatkan kualitasnya. Apabila kita mendefinisikan modernisasi dengan kalimat ini, maka akan muncul ulasan sebagai berikut:

Pertama, tidaklah mungkin bagi manusia untuk meniadakan secara keseluruhan hal-hal yang telah wujud sejak lahirnya manusia dan terciptanya alam semesta. Juga tidaklah elok bagi orang yang berakal untuk senantiasa terpaku pada masa lalu sehingga melupakan hikmah sunnatullah berupa perkembangan segala sesuatu dan kian majunya sarana-sarana kehidupan.

Orang yang hendak merevolusi tatanan kehidupan secara total berarti harus membuang semua hal-ihwal yang telah ada semenjak awal kehidupan makhluk. Betapa mustahilnya upaya semacam ini. Manusia yang berakal tentunya memaklumi bahwa segala sesuatu yang menjadi intisari kebutuhan hidup telah ada sejak masa Nabi Adam AS hingga sekarang. Kita merasakan intisari kehidupan itu hingga kini secara mutlak,  walau pun dalam bentuk yang berbeda. Intisari kebutuhan hidup itu berupa makanan, minuman, tempat tidur, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya.

Apakah modernisasi berarti meninggalkan makanan sama sekali atau tidak memakai bahan makanan pokok yang sejatinya telah tersedia sejak masa lampau? Tidak. Bukanlah demikian arti hidup modern. Modernisasi hanya berlaku pada pendayagunaan peralatan untuk menanam bahan pangan, menghidangkan makanan, cara memasak, mengolah bahan serta lainnya.

 

Ada pun orang yang bersikap jumud (kaku) dengan tidak mau memanfaatkan kemajuan teknologi, maka orang ini adalah seperti yang pernah disitir seorang penyair:

 

Katakanlah kepada orang yang enggan melirik era baru

 

Dan lebih mengagungkan masa-masa lampau

 

Sesungguhnya masa lalu dulunya adalah baru

 

Sedangkan era baru ini kelak akan menjadi masa lalu

 

Sikap kaku semacam itu sungguh tidak bijak sebab kemajuan adalah iradah Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ

“Dan bumi itu kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).” (QS Az-Zariyaat 51;48)

 

Dalam ayat yang sebelumnya Allah SWT berfirman:

 

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.” (QS Az-Zariyaat 51;47)


Mari sekarang kita membaca modernisasi dengan kaca mata Islam.  Sesungguhnya ajaran-ajaran agama Allah SWT yang diwahyukan kepada para nabi tidak pernah berubah sejak era Adam As hingga Baginda Rasulullah SAW. Ajaran agama mengandung kewajiban yang mesti dilaksanakan serta larangan yang mesti ditinggalkan. Meninggalkan kewajiban bisa mengundang bahaya-bahaya begitu pula melanggar larangan. Dasar-dasar agama itu dipatri Allah SWT berdasarkan kemahatahuan-Nya atas segala makhluk yang diciptakan-Nya.

Dalam ranah ekonomi umpamanya, sesungguhnya Allah SWT menghalalkan jual beli untuk melapangkan jalan rejeki yang tidak berbenturan dengan larangan-larangan. Larangan-larangan yang dimaksud di sini adalah aksi-aksi penipuan, pengkhianatan, penzaliman dan berbagai kemudharatan. Pada ranah ini, juga pada ranah-ranah lainnya, kita tentunya tidak menghendaki modernisasi yang mengarah pada penzaliman kepada sesama seperti halnya sistem korporasi dan kapitalisme yang berjalan saat ini. Dengan menyebarnya transaksi-transaksi riba yang diusung kapitalisme, akhirnya kita terjerumus pada krisis keuangan seperti yang kita alami sekarang.

Modernisasi mestinya bermakna proses perkembangan berasas syariah dengan pendayaan peralatan-peralatan mutakhir. Modernisasi harusnya melahirkan kemudahan komunikasi dan transportasi dari satu negara ke negara lain. Demikian itulah modernisasi yang dianjurkan syariah. Apabila modernisasi diartikan sebagai upaya mengesampingkan ajaran-ajaran agama, menepis halal-haram dalam memberi dan menerima, melegalkan penipuan, takhayul, dan hal-hal yang merugikan sesama, maka pengertian modernisasi semacam ini tidak mungkin diterima dalam Islam.

baca juga: Doa Habib Umar bin Hafiz Untuk Nusantara

baca juga: Seruan Habib Umar bin Hafiz Ihwal Pentingnya Menjaga Ujaran Lisan

baca juga: Nasehat Habib Abdullah al-Haddad Tentang Dunia Sebagai Ladang Akhirat

 

Sesungguhnya agama kita (Islam) mewariskan ajaran yang sangat mengagungkan modernisasi. Betapa tidak, usaha seseorang untuk memodernisasi peralatan yang berguna bagi umat manusia dicatat sebagai ibadah. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di sore hari merasa lelah karena pekerjaan tangannya, maka dosa-dosanya terampuni tatkala ia tidur malam.”

Para ulama besar terdahulu banyak yang terjun ke dalam usaha pertanian. Mereka berlaku demikian karena ingin mendapatkan bagian pahala dari bercocok tanam. Bahkan sebagian dari mereka memiliki keahlian khusus mengenai kondisi tanah, cara mengolah tanah, merawat tanaman, memilih momen yang tepat untuk menanam bibit, dan pengetahuan-pengetahuan mengenai pertanian lainnya.

Dihikayatkan bahwa suatu kali Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad menemukan persoalan yang rumit dalam urusan agama. Beliau mengirim seorang kepada Habib Abdurrahman Bilfaqih guna menanyakan persoalan itu. Ketika utusan itu tiba di tujuan, ia mendapati Habib Abdurrahman tengah menggali sumur untuk menyirami tanaman-tanamannya. Utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya. Kemudian Habib Abdurrahman meminta utusan itu mengambil pena dan kertas, satu-satunya peralatan tulis yang ada di masa itu. Seandainya ada peralatan tulis yang lebih modern (seperti laptop dan flashdisk), niscaya Habib Abdurrahman akan menyuruh utusan mengambil itu, bukan pena dan kertas.

Betapa naifnya apabila kita  bersikap terlalu kaku dengan tidak mau menulis kecuali dengan peralatan tulis yang dipakai orang-orang dahulu. Kita tidak boleh berpikiran bahwa peralatan yang tidak pernah dipakai para salaf mesti dipinggirkan. Meski begitu, kita harus mengakui keunggulan orang-orang dahulu. Tanpa peralatan canggih seperti komputer yang kita miliki sekarang, mereka mampu memenuhi alam ini dengan buku-buku yang bermanfaat. Sejatinya buku-buku itu lebih istimewa dari pada ucapan-ucapan. Dengan buku, para pembaca dapat mengambil faedah lebih banyak. Buku adalah sumber yang lebih abadi, lebih menyebar dan lebih detail isinya.

Sebelum duduk di sini, saya tadi melihat-lihat perpustakaan Universitas ini, tepatnya di ruang penyimpanan koleksi buku tulisan tangan (manuskrip). Sebagian manuskrip itu ditulis 800 tahun hingga 900 tahun yang lampau. Semua itu membuat kita merasa kagum kepada para penulis terdahulu. Saya kemudian membandingkan tulisan orang-orang dahulu dengan orang-orang sekarang. Menurut pengamatan saya, tulisan orang-orang sekarang lebih bagus, akan tetapi tulisan orang-orang dahulu isinya lebih berbobot….(*)

diterjemahkan oleh Syamsul Hari

sumber: habibomar.com

donasi: Dompet Dakwah

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *