Cerita Habib Umar bin Hafiz Tentang Kehebatan Syekh Abubakar bin Salim

Alhamdulillah. Sholawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, para sahabat dan penolong-penolong Rasulullah, serta orang-orang yang membela dakwahnya dari kaum anshar dan muhajirin. Mereka inilah yang dipuji oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang mengikuti jejaknya Rasulullah.

Allah juga menyebutkan kemulian orang-orang yang berjalan mengikuti jejak dan membela dakwah Nabi Muhammad SAW. Maka perkumpulan kitapun pada hari ini di dalam memperingati salah seorang satu dari keturunan Rasul SAW, yaitu Syaikh Abu Bakar bin Salim.  Allah ridlo dengan ridlonya Syaikh Abu Bakar dan Allah Ta’ala murka dengan kemurkaan Syaikh Abu Bakar bin Salim. Beliau adalah seorang wali besar, seorang mutawaddi’, seorang yang berakhlak.

Diriwayatkan 15 tahun dari masa hidupnya, beliau tidak duduk melainkan dalam keadaan seperti tasyahud akhir. Ketika ditanya, mengapa engkau duduk seperti ini? Padahal engkau sudah tua? Tidakkah engkau lelah? Maka beliau menjawab, “Inilah duduknya seorang hamba dihadapan sayyidnya, dihadapan majikannya. Dan aku adalah hamba yang berada dihadapan majikanku, Allah Ta’ala.” Syaikh Abu Bakar bin Salim mempunyai saudara kembar yaitu Sayyid Agil bin Salim yang keluar lebih dulu dari perut ibu beliau, baru setelah itu sayyid Abu Bakar bin Salim.

Tatkala beliau menulis kitab “Miftah as-Sarair” pada saat usia 17 tahun, dilukiskan dalam kitab tersebut tentang keadaan seorang ‘arif billah, sehingga beliau mengatakan seraya bertawajjuh beliau menyebutkan: “Demi Allah,  aku tidak melihat sesuatu melainkan tatkala aku melihat sesuatu tersebut sebelumnya atau sesudahnya atau ketika aku melihat sesuatu tersebut, maka aku melihat Allah SWT. Sehingga tatkala dikatakan bahwasanya Allah ridlo dengan ridlonya dan Allah murka dengan murkanya.

Kemuliaan ini merupakan warisan dari Rasulullah SAW. Seperti halnya Rasululllah berkata, “Allah ridlo dengan ridlonya Sayyidatuna Fatimatuz Zahra dan Allah murka dengan kemurkaannya Sayyidatuna Fatimatuz Zahra.” Rahasia syiir tersebut diwariskan turun temurun oleh keturunan Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dikatakan sebagaimana yang biasa kita baca bahwa “Yang mencintai Husain, maka Allah akan mencintai orang tersebut.”

Kemuliaan ini juga terjadi pada masa Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ketika beliau melakukan hijrah dari Bashrah menuju Hadramaut. Dikisahkan waktu itu Sayyidina Abdullah bin Umar bin Yahya mimpi bertemu Rasulullah SAW., maka beliau bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau ridlo dengan keluarnya Imam Muhajir dari negeri Bashrah menuju Hadramaut? Apakah engkau ridlo?”. Maka dijawab oleh Rasul, “Aku gembira dan aku ridlo dengan apa-apa yang menggembirakan Sayyidina Ahmad bin Isa al-Muhajir. Aku ridlo dengan ridlonya al-Muhajir, dan aku gembira dengan gembiranya al-Muhajir.” Rahasia dari perkataan itu menggambarkan bahwa pewaris-pewaris Rasul itu senantiasa ada sampai sekarang.

Ketahuilah bahwasanya pangkat, harta, politik, wanita, semuanya tidak akan mengangkat harkat dan memuliakan derajat seseorang di hadapan Allah. Ketahuilah jika kita mengejar hal-hal yang dihinakan oleh Allah SWT, maka Allah akan menghinakan kita. Naudzubillahi min dzalik. Ketahuilah bahwa kejahatan yang dilakukan orang-orang kafir seperti Amerika atau siapa pun juga. Allah menggerakkan mereka karena keadaan kaum muslimin yang makin melemah iman dan istiqomahnya. Tidak berjalan di jalannya Rasul dan imannya sudah goyah. Maka oleh Allah SWT mengirim kepada mereka bencana yang dibuat oleh kaum Kafir dan Yahudi. Naudzu billahi min dzalik.

Akan tetapi bila kaum muslimin menyadari tentang masalah yang sebenarnya menimpa mereka, maka mereka akan menyadari bahwa tidak akan ada keselamatan, tidak ada perbaikan untuk Indonesia ini, untuk kaum muslimin Indonesia maupun di luar Indonesia melainkan dengan kembali ke jalan Rasul SAW. Didiklah keluarga kita seperti keluarganya, mendidik istri mengikuti jejak syaikh Abu Bakar bin Salim. Mengajarkan kepada keluarganya ibadah dan menjauhi hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Al-Habib Alwi bin Shahab, mengatakan bahwa dahulu pada zaman lampau, keadaan alam ini sudah kacau. Saat ini lebih kacau lagi, banyak kaum muslimin yang dibantai dan dibunuh. Ketahuilah bahwa tidak ada keselamatan melainkan dengan kembali ke jalan Allah, Jalan para salaf kita. Kembali pada Al-Qur’an, hadits dan thariqoh Rasul SAW. Carilah kemuliaan dari Allah, Rasul dan para ulama’. Tidak ada kemuliaan yang dapat dicari dari orang kafir dan orang fajir atau siapapun yag terbukti menentang Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada kemuliaan pada diri mereka. Mengapa kita meniru mereka?

Kita harus bergantung kepada Allah. Bersihkan diri dan seluruh anggota badan kita mata, tangan, kaki, telinga, dan termasuk hati kita dari maksiat. Hati kita dibolak-balikkan oleh Allah, maka bagaimana hati ini bisa bermaksiat kepada Allah?  Bersihkan juga rumah kita dari kemaksiatan serta hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT. Nabi Ibrahim a.s berkata dalam munajatnya sebagaimana dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Beliau berkata: “Ya Allah, jangan Engkau permalukan aku ya Allah di hari kebangkitan, hari dimana tidak membawa manfaat seluruh harta, anak-anak atau apapun melainkan mereka yang datang ke hadapan Allah dengan membawa hati yang selamat”.

Tatkala syaikh Abu Bakar bin Salim berkata: “Aku ditawari Allah, bagaimana tentang keturunanmu? Kami akan memberikan kepada mereka banyaknya ilmu atau keselamatan hati atau hati yang bersih”. Maka beliau menjawab, “Ya Rabb, aku memilih untuk anak-anakku, hati mereka yang bersih sebab banyaknya ilmu tidak membawa manfaat apabila hatinya kotor. Penuh dengan dengki dan hasud. Penuh dengan kesombongan. Banyaknya ilmu tidak akan membawa manfaat jika diiringi dengan kecintaan pada dunia, kecintaan pada hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.”

baca juga: Kisah Habib Salim Tentang Lelaki Kaya Yang Mati Dalam Tumpukan Uangnya

baca juga: Kisah Habib Muhammad bin Hadi as-Segaf Tentang Lelaki Yang Suka Adu Domba

baca juga: Karomah Sayidina Husain bin Ali, Cucu Nabi Yang Kepalanya Dipenggal

 

Sayyidina Husain, putra Syaikh Abu Bakar bin Salim meskipun berharta, tidak lalai kepada Allah SWT. Tatkala ditanya oleh sebagian orang dan murid-murid beliau, “Wahai guruku, Engkau adalah seorang wali besar sekaligus saudagar kaya, tapi kehidupan Anda selalu dalam kesucian, hati selalu hadir bersama Allah SWT dan tidak terpikir serta berpaling kepada dunia. Kok bisa begitu? Apakah ini mungkin? Aku tidak percaya. Maka oleh Sayyidina Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim dijawab, “Seandainya seluruh hartaku habis lenyap tak tersisa, maka hatiku tidak akan berbekas. Hubunganku hanya kepada Allah. Yang aku kejar hanya keridlaan Allah ‘Azza wajalla.” Tatkala seorang putrinya memakai gelang dari perak, maka beliau bertanya kepada putrinya, “Apakah seluruh perempuan di kota Inat ini memakai gelang seperti yang engkau pakai itu?

Putrinya menjawab: “Tidak wahai ayah. Aku saja dan tidak banyak orang yang mampu memakai gelang perak seperti ini”. Mendengar hal itu, beliau bertanya lagi: “Wahai anakku, apakah engkau ingin mengganggu para kaum wanita? Apakah engkau ingin membuat mereka iri dan menginginkan gelang tersebut?” Putrinya menjawab: “Tidak. Bukan maksudku seperti itu, ayah. Lantas apa yang engkau inginkan dariku?”. “Wahai putriku, aku tidak ridlo jika engkau memakai gelang itu. Aku ingin engkau melepas dan mematahkan gelang itu dihadapanku”, pinta Sayyidina Husain. Demikianlah beliau mengajarkan kepada putrinya, bahwa kemuliaan didapat bukan dari hal seperti itu. Bukan dari harta, dan tidak mengagungkan harta.

Ketahuilah kalian para alawiyyin serta para pecinta ahlul bait, bahwa kemuliaan kalian bukan dari harta, bukan dengan jabatan, bukan dengan kedudukan. Akan tetapi dengan warisan dari Rasul SAW, yaitu ilmu, akhlak, syiar, para salafunas sholeh, para pendahulu kita. Ikuti jejak mereka. Itulah kemulian umat Nabi Muhammad SAW.

Siapa diantara kita yang mempunyai perhatian untuk berziarah ke Hadramaut? Menyekolahkan dan mendidik anak-anak mereka dengan didikan dari seorang alim yang bernasab langsung kepada Rasulullah SAW. Jelas asalnya ilmu itu dari mana, menyambungnya dari siapa dan melalui siapa?  Dalam ilmu tersebut diajari juga bagaimana cara membersihkan hati dari kesombongan dan kecintaan pada dunia sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul. Jika ada waktu kosong atau masa liburan, jangan segan-segan untuk memasukkan anak ke pesantren-pesantren kilat ataupun ke tempat pendidikan selama satu bulan atau lebih. Sehingga mereka mengerti tentang syariat sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

Kita bertawajjuh di saat yang mulia ini, kita minta kepada Allah agar mewujudkan seorang murabbi, seorang pendidik yang mampu mendidik kaum muslimin dan alawiyyin. Dikisahkan ada seorang habib dalam keadaan sakaratul maut beliau menangis. Ketika ditanya, wahai habib mengapa engkau menangis? ia menjawab, aku menangis bukan karena amal-amalku. Aku menangis karena aku akan meninggalkan anak-anakku tanpa ada murabbi yang akan mendidik dan mengajarkan kepada mereka ajaran Rasulullah SAW. Itu yang aku tangiskan.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan manfaat dari apa yang kita baca dan lihat ini. Allah bersihkan hati kita dari berbagai macam kotoran. Dan Allah sediakan bagi anak-anak kita kelak ketika mereka kita tinggalkan. Sehingga hati mereka senantiasa suci dan bersambung kepada Allah SWT.

Disarikan dari  ceramah Habib Umar bin Hafidz

di kediaman Habib Muchsin bin Idrus al-Hamid

Jakarta

donasi: Dompet Dakwah

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *