Cara Salaf Meraih Ilmu Yang Bermanfaat

Seorang murid atau santri harus mengagungkan ilmu. Dan di antara bentuk pengagungan ilmu ialah menghormati kitab atau buku pelajaran. Terutama kitab tafsir dan hadis. Sebab, di dalam kitab atau buku itulah termuat ilmu.

Ilmu itu cahaya. Wudhu’ juga cahaya. Dengan berwudhu, bertambahlah cahaya ilmu sehingga bertambah pula barokahnya. Maka dari itu, sebelum mengambil kitab, berwudhu’-lah lebih dulu.

Begitulah tradisi para ulama salaf kita. Walaupun menurut syariat tidak wajib suci dari hadats, mereka tidak mau memegang kitab kecuali dalam keadaan berwudhu’. Syekh Imam Syamsul Aimmah As-Sarkhasi adalah salah satu contohnya. Diceritakan, pada saat sedang membaca kitab di suatu malam, tiba-tiba dia dilanda sakit perut (sehingga sering terkentut). Akibatnya, dia bolak-balik ke kamar mandi sampai 17 kali untuk mengambil air wudhu.

Setelah berwudhu’, ambil kitabmu lalu berangkatlah ke majelis pengajian, madrasah atau sekolah dengan tenang. Sampai di tempat, letakkan kitabmu atau buku pelajaranmu di tempat yang lebih tinggi dari tempat dudukmu. Entah di atas meja atau di atas bangku. Jangan letakkan kitabmu di atas lantai karena hal demikian tidak mencerminkan penghormatan terhadap kitab. Jangan pula selonjorkan kakimu ke arah kitab karena, sekali lagi, ini tidak sopan.

Taruhlah kitab tafsir di atas tumpukan kitab-kitab yang lain. Jangan pula letakkan sesuatu apapun di atas kitabmu. Diceritakan oleh Burhanuddin bahwa seorang ulama pernah meletakkan wadah tinta di atas kitab. Gurunya, yang melihat hal itu, mencela. “Aku tidak melihat manfaat dari ilmumu,” kata guru itu. Mengomentari kejadian ini, Qadhi Fakhrul Islam, yang dikenal dengan julukan Qadhi Khan, berkata, “Kalau dia tidak berniat meremehkan kitab itu, maka tidak apa-apa. Tapi lebih baik dia berhati-hati dan tidak memperbuatnya.”

Bila kau lihat gurumu datang, berdirilah dengan penuh takzhim. Jawablah salamnya dengan sopan.

Oya, jangan duduk terlalu dekat dengan gurumu. Ambil jarak sekitar satu dua meter (satu tombak) darinya karena hal itu mencerminkan sikap hormat. Sebaliknya, duduk lebih dekat dari jarak itu, selain tidak sopan, juga bisa mengganggu gurumu dalam mengajar – kecuali bila memang itu yang dikehendakinya. Misalnya, engkau mengaji secara sorogan, yakni mengaji secara intensif dan saling berhadapan antara guru dan seorang muridnya (seperti banyak dilakukan dalam mengaji Al-Quran dan juga pengajian kitab di pesantren-pesantren tertentu). Apalagi bila suasananya sangat berisik. Misalnya, kebetulan tempatmu belajar persis di pinggir jalan raya. Maka tak apa engkau mendekat darinya.

Ketika pengajian atau pelajaran dimulai, ucapkan basmalah. Mungkin gurumu membaca basmalah, tapi engkau juga harus mengucapkannya pula karena basmalah gurumu tidak mencukupimu. Lebih sempurna lagi, panjatkan doa berikut:

 

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعًا

Artinya: Tuhan, tambahkanlah padaku ilmu yang bermanfaat.

 

Seyogyanya engkau dengarkan uraian mengenai ilmu dan hikmah (Quran) dengan penuh penghormatan dan pengagungan, meskipun engkau telah mendengar masalah dan kata-kata yang sama sebanyak seribu kali.

 

Menulis Indah

 

Di antara bentuk penghormatan terhadap ilmu ialah memperindah tulisan. Jadi, ketika mulai menulis pelajaran, tulislah dengan benar dan indah menurut kemampuanmu. Jangan menulis secara acak-acakan sehingga sulit dibaca orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Imam Abu Hanifah konon pernah mencela seorang penulis kitab karena tulisannya acak-acakan. “Jangan menulis seperti itu,” kata sang imam. “Sebab, kalau kau masih hidup, kamu akan menyesal. Sedang kalau kamu mati, kamu akan diumpat.” Artinya, kalau kamu tua nanti dan pandanganmu mulai melamur, maka kamu akan menyesali perbuatanmu ini. Jika kamu mati, pembaca tulisanmu akan mengumpat kamu.

Sebaiknya pula, jangan menulis dengan tinta merah. Jangan pula kau coret-coret buku atau kitabmu. Selain itu tidak mencerminkan penghormatan pada ilmu, juga membuat buku atau kitabmu jadi kotor dan tidak rapih. Padahal, seperti ditegaskan suatu satu hadis:

 

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالْ

 

Artinya: Sungguh Allah itu Indah, mencintai keindahan.

 

Penting pula selama belajar untuk menghormati teman-temanmu. Jangan ganggu mereka. Jangan pula menyombong pada mereka. Pupuklah rasa sayang dan sikap solider dengan sesama murid atau santri – seperti halnya kau harus memupuk sikap yang sama pada gurumu. Menghormati teman adalah bagian dari pengagungan ilmu.

 

baca juga: Resep Kiai Abdul Hamid Supaya Menjadi Pemimpin Yang Disegani

baca juga: Amalan Melancarkan Rejeki dan Menolak Bala Abuya Sayid Muhammad al-Maliki

baca juga: Cara Tawasul Habib Ali al-Habsyi Agar Doa Cepat Terkabul

 

Mengajar

 

Sama seperti belajar, mengajar adalah salah satu kegiatan keilmuan yang sangat mulia. Betapa tidak. Rasulullah s.a.w. bersabda:

 

إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعُثْنِي مُعْنِتًا وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا  رواه مسلم

 

Artinya: ٍSungguh Allah tidak mengutusku sebagai orang yang memerintahkan pada kesulitan, tidak pula sebagai pemberi beban yang berat, tetapi Dia mengutusku sebagai guru yang memberi kemudahan. (riwayat Muslim)

 

Jadi, kalau Anda seorang guru, berarti Anda mewarisi dan melanjutkan misi Rasulullah s.a.w. Anda telah meniru beliau.

Para ulama, seperti ditegaskan Nabi s.a.w., adalah pewaris beliau, sementara mengajar merupakan inti dari tradisi kepewarisan. Pasalnya, mengajar adalah hakikat dari misi kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., yang diharuskan untuk melakukan tabligh. Hanya dengan mengajar (entah secara verbal ataupun literer), maka dapat dijamin keberlangsungan rantai syariat Islam hingga akhir zaman.

Dari situ, tak heran bila telah menjadi tradisi kaum ulama, baik salaf maupun khalaf (mutakhir), untuk tidak meninggalkan aktivitas mengajar, di tengah kegiatan ibadah atau aktivitas keduniaan mereka lainnya. Bahkan ada yang menjadikan kegiatan mengajar sebagai thariqah mereka.

Lebih dari itu, mengajar juga bisa menjamin keberlangsungan rantai amal atau pahala bagi pelakunya. Rasulullah s.a.w. bersabda:

 

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ  أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

 

Artinya: Ketika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: dari sadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan (orang lain), atau anak saleh yang berdoa untuknya. (riwayat Muslim)

 

Jadi, jika Anda memiliki ilmu, mengajarlah. “Sampaikan,” kata Nabi s.a.w., “apa yang engkau dengar dariku walaupun hanya satu ayat (Al-Quran).” Bila ada orang bertanya sesuatu, dan Anda tahu jawabnya, jangan menghindar untuk menjawab. Jika ada orang meminta Anda untuk mengajari dia, jangan menolak. Nabi s.a.w. sangat mencela orang yang menyembunyikan ilmu.

Percayalah, dengan mengajar Anda sekaligus juga belajar karena ilmu Anda akan bertambah-tambah. Seperti dikatakan seorang ulama:

 

فِي كُلِّ شَيْئٍ زَكَاةٌ وَ زَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيْمُهُ

 

Artinya: Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu adalah mengajarkannya.

 

Sebagaimana harta akan bertambah-tambah bila dizakati, demikian pula ilmu akan bertambah bila diajarkan. Bahkan tidak hanya tambahan ilmu. Allah akan menambah pula kenikmatan lain untuk mereka yang mau mengajar.

 

Menata Niat

 

Alhasil, mengajar adalah kegiatan yang agung dan suci, sebuah kegiatan kerasulan. Jangan kotori kegiatan suci itu dengan niat yang kotor dan tercela. Misalnya, niat untuk pamer (riya’), menyombong, bersaing dengan sesama ustaz, mencari pengaruh atau menyerang orang lain.

Sebelum mengajar hendaknya Anda menata niat di hati. Niatkan untuk meraih ridha dan pahala-Nya. Untuk meneladani sunnah Rasulullah s.a.w. Niatkan pula untuk berdakwah.

Ya, mengajar dalam Islam pada hakikatnya adalah kegiatan mengajak orang-orang ke arah kebaikan serta menjauhkan mereka dari kejelekan. Betapa banyak orang melalaikan kewajiban atau perbuatan baik karena tidak tahu. Begitu pula, amat banyak orang berbuat buruk karena kebodohannya, ketidak-tahuannya.

Sebagai guru Anda juga harus mengagungkan ilmu, supaya ilmu Anda bermanfaat. Imam Malik bin Anas adalah contoh yang baik tentang bagaimana mengagungkan ilmu. Dituturkan, setiap kali beliau hendak meriwayatkan hadis (baca: mengajar), beliau tak lupa untuk berwudhu’, lalu duduk di tengah permadaninya, meyisir jenggotnya sampai rapi, menggunakan minyak wangi, dan mengatur duduknya dalam posisi yang sopan, tenang dan khusyu’.

Anda boleh meniru Imam Malik. Berwudhu’-lah sebelum mengajar. Sisir rambut Anda sampai rapi. Rapikan pula pakaian Anda. Lalu duduklah dengan tenang dan sopan.

Tapi bukan berarti Anda tidak boleh berdiri ketika mulai mengajar. Khususnya bila Anda mengajar di kelas. Di mana perlu, Anda boleh berdiri, mendekati murid-murid Anda, berdiri di tengah mereka, supaya penjelasan Anda bisa mereka cerna.

Oya, jangan lupa memulai kegiatan mengajar dengan membaca basmalah, hamdalah dan salawat. Sebab, bacaan-bacaan inilah yang bisa mendatangkan barokah dan keharuman pada majelis Anda.

Adab atau etiket mengajar lainnya diterangkan oleh Imam Al-Ghazali. Di antaranya ialah memperlakukan murid-murid sebagai anak-anak Anda. Begitulah contoh dan sunnah Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda:

 

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ اْلوَالِدِ لِوَلَدِهِ

 

Artinya: “Aku ini bagi kalian tak ubahnya seorang bapak kepada anaknya. (riwayat Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

 

Sebagai bapak, Anda menaruh belas kasihan pada mereka. Anda mencinta dan sayang pada mereka. Anda peduli pada mereka. Anda peka terhadap capaian keilmuan mereka: seberapa jauh mereka menyerap ilmu dari Anda.

Anda juga peka terhadap perilaku mereka, akhlak mereka, moralitas mereka. Manakala Anda melihat ada yang tidak beres pada mereka, Anda segera turun tangan untuk membetulkannya.

Anda juga peduli pada amaliah mereka: sejauh mana mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dan menjauhi larangan-larangannya. Bila ada yang kurang, Anda segera menyempurnakannya, membuatnya utuh kembali.

Alhasil, tujuan Anda kepada mereka ialah, selain membuat mereka tahu (pintar), ialah menyelamatkan mereka dari api (neraka) akhirat, sebagaimana seorang bapak menghindarkan anaknya dari api dunia.

Berarti, Anda tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik, membimbing mereka. Anda tidak hanya menjadi guru lahiriyah bagi mereka tapi juga guru batiniyah mereka.

 

Menulis

 

Menulis itu, dalam banyak hal, sama dengan mengajar. Entah itu menulis artikel, risalah atau buku (kitab). Malahan, dalam hal-hal tertentu, menulis memiliki keunggulan. Misalnya, bila kegiatan mengajar memiliki keterbatasan dari segi tempat dan waktu, maka menulis memiliki spectrum yang lebih luas dengan audiens yang lebih banyak karena tulisan relatif lebih langgeng.

Banyak ulama yang terkenal sebagai penulis handal. Dan berkat tulisan mereka itulah, ilmu mereka dapat diwarisi hingga sekarang. Sebagai ilustrasi, sebenarnya jumlah mujtahid lebih banyak daripada yang kita kenal sekarang. Imam Sufyan Ats-Tsauri dan Al-Auza’i, misalnya, adalah mujtahid-mujtahid zaman awal. Namun karena mereka tidak melestarikan hasil ijtihad mereka dalam bentuk tulisan, mazhab mereka tidak berumur panjang.

Ada ulama-ulama yang sangat produktif. Seperti Imam Syafi’i, Imam An-Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dan masih banyak lagi. Imam An-Nawawi malah disebut, karomahnya ya menulis itulah.

An-Nawawi memang waliyullah. Cukup banyak karomahnya. Tetapi karomah yang paling besar ialah, beliau dimudahkan untuk menulis banyak-banyak dalam waktu yang singkat.

Coba bayangkan. Beliau wafat dalam usia 46 tahun. Tetapi tulisan beliau banyak sekali. Pernah orang mencoba menghitung-hitung; usia beliau dibagi dengan jumlah tulisan yang ada. Ternyata waktu yang ada tidak cukup untuk merampungkan semua tulisan itu, walaupun beliau menggunakan seluruh waktunya untuk menulis. Padahal, selain menulis, beliau juga mengajar, beribadah dan berbuat kegiatan-kegiatan lainnya.

Adapun etiket menulis sama dengan etiket mengajar. Yakni, Anda mesti memperbagus niat serta mengagungkan ilmu. Dalam hal ini, Imam Al-Bukhari adalah contoh yang baik. Setiap kali hendak menulils satu hadis, beliau selalu berwudhu’ dan salat dua rakaat lebih dulu.

Barangkali itulah rahasianya, kitab kumpulan hadis beliau (Shahih Al-Bukhari) dibaca dan menjadi rujukan utama di bidang ilmu hadis. Hamid Ahmad

 

 

 

 

 

 

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *