Cara Cerdas Mencari Pahala Sebanyak-Banyaknya

Apakah anda ingin pahala puasa satu tahun penuh dengan cara yang ringan? Nabi Muhammad saw punya cara mudah untuk itu, baginda menyampaikannya sebagai berikut:

“ Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan, kemudian ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun” (HR Muslim)

Lihatlah, begitu mudahnya Islam memberi jalan bagi penganutnya untuk mendapatkan pahala. Dalam hal ini, hadits diatas dapat dicerna secara logika, karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kalinya. Sehingga 36 hari puasa seakan sama dengan 360 hari alias 1 tahun. Allah menjanjikan pahala manusia digandakan 10 kali lipat bila dia melakukan suatu kebaikan, dan satu pahala bagi orang yang berniat melakukan kebaikan. Sebaliknya dosa tidak akan dicatat apabila masih dalam niat, sedangkan satu nilai dosa diberikan bila ternyata manusia melakukannya. Allah mempermudah manusia karena Dia tahu bahwa manusia cenderung mudah untuk melakukan dosa. Sebagai pengimbang, Allah memberi jalan mudah bagi manusia untuk meraih pahala. Ini tak lain merupakan bukti cinta Allah pada kita, makhluknya.

Ini hanyalah salah satu contoh kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT bagi hambanya untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Masih banyak lagi cara-cara mudah dan praktis untuk menumpuk pahala. Kita bisa disebut orang bodoh apabila tidak dapat mengambil kesempatan meraih pahala yang ditawarkan dengan jalan-jalan yang begitu mudah dilakukan. Banyak sekali amalan-amalan yang terlihat sepele tapi ternyata mendapat penghargaan yang besar dari Allah SWT. Prinsip ekonomi yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah, dengan modal sekecil-kecilnya kita harus mendapat penghasilan yang sebesar-besarnya.

Nyatanya hal ini tidak berlaku pada kehidupan sehari-hari kita. Secara logika pun, bila kita ingin mendapatkan hasil yang besar maka harus melakukan usaha yang keras ataupun modal yang besar pula. Prinsip ini justru berlaku pada agama kita. Berbagai cara mendapatkan pahala dengan usaha yang bisa dibilang tidak berat, tetapi dengan hasil yang maksimal. Tentu saja kita tidak akan mendapatkannya secara real, tetapi akan tercatat sebagai tabungan pahala yang tersimpan. Catatan ini akan berguna sebagai bekal dan penentuan di manakah kita akan tinggal di alam akhirat nanti, di surgakah atau di  neraka? Sebagaimana yang tertulis dalam kitab suci kita :

”Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS Albaqarah :197)

Potongan ayat tersebut menyampaikan keterangan secara umum bahwa manusia perlu membekali dirinya dengan ketakwaan. Makna takwa begitu luas, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, tidak berhenti sampai di situ saja. Dalam ayat-ayat yang lainnya banyak sekali keterangan yang lebih jelas dan spesifik tentang peluang-peluang yang tersedia bagi mereka yang mau mengamalkannya dan Allah menjanjikan pahala yang tidak sedikit.

Rasulullah juga menegaskan hal ini di dalam hadits-haditsnya dengan cara-cara yang lebih spesifik sebagaimana hadits yang dikemukakan di awal tadi. Tidak hanya cara mengumpulkan pahala tetapi juga cara atau jalan mengurangi dosa. Silakan anda simak tips dari Nabi  berikut ini :

” Barangsiapa setiap selesai sholat membaca tasbih (subhanallah) 33x, membaca tahmid (alhamdulillah) 33 x,membaca takbir (Allahu akbar) 33 x, kemudian menyempurnakan bilangan 100-nya dengan membaca ’laa ilaaha illallah wahdahu laasyarikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadir’ (tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, Dia sendiri Yang Maha Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), niscaya akan diampuni dosa-dosa orang itu meski sebanyak buih di lautan” (HR Muslim).

Manusia memang biasanya hanya tergiur dengan sesuatu yang tampak, artinya pahala yang dijanjikan Allah karena tidak tampak secara nyata maka manusia banyak yang melalaikannya. Manusia cenderung melihat cerah tidaknya masa dcpan hanya sebatas di dunia, apakah itu materi, jabatan, status sosial dan lainnya. Padahal jika kita bandingkan semua itu tidak ada artinya bila saja pandangan kita lebih jauh ke depan. Saat ini, terutama di Indonesia, lowongan pekerjaan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kita bisa saksikan betapa seseorang yang baru lulus sekolah atau kuliah berebut mencari lowongan pekerjaan yang terbatas ketersediaannya dengan jumlah pelamar yang tidak seimbang. Selain terbatas jumlahnya, lowongan pekerjaan yang ada juga meminta syarat-syarat yang cukup berat, misalnya batasan umur, gender, skill (kemampuan) tertentu, nilai IPK, penampilan, memiliki kendaraan atau tidak, padahal tidak semua orang dapat memenuhi syarat-syarat ini.

Saya ingin menganalogikannya dengan lowongan pekerjaan yang disediakan oleh Allah SWT. Job yang tersedia tidak terbatas jumlahnya, semua orang dapat melakukannya tanpa melihat usia, gender, bagaimana penampilannya, skill yang dimilikinya dan syarat-syarat lainnya. Selain itu gaji yang dijanjikan oleh Allah juga tidak sedikit. Namun kita bisa lihat kecenderungan manusia pada duniawi lebih berat ketimbang kecenderungannya pada kehidupan ukhrawi. Tak sedikit dari kita lebih suka  mengejar materi, status sosial, jabatan di dunia, bahkan terkadang dengan cara-cara yang tidak halal. Ada baiknya kita simak firman Allah berikut ini :

 

Artinya:

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al kahfi :46)

Bukan artinya kita harus menjauhi kehidupan duniawi sama sekali, yang menjadi inti permasalahannya adalah bahwa kita harus pandai-pandai memanfaatkan peluang hidup ini untuk menumpuk pahala demi kepentingan akhirat kita kelak. Sesungguhnya dalam setiap aktivitas, kita dapat menyelipkan usaha mencari pahala didalamnya. Sebagai contoh, apabila sedang bekerja di kantor, di sekolah atau di manapun, kita selipkan di sela-sela pekerjaan kita dzikrullah atau bahkan membaca Al Quran. Demikian pula ketika sedang  menunggu antrian dokter misalnya atau ketika melakukan perjalanan keluar kota.

baca juga: Ingin Jadi Orang Sukses? Camkan Nasehat Habib Abdulqadir Bin Ahmad Berikut Ini!

baca juga: Kisah Perempuan Yang Masuk Surga Tanpa Amal Kebajikan

baca juga: Keberanian Rasulullah SAW Di Medan Perang

 

Di sinilah saya menyebutnya sebagai cara cerdas mencari pahala. Kita dituntut kreatif mengambil peluang-peluang yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Bahkan Allah menyediakan pahala tidak hanya pada hal-hal yang berbau ibadah saja namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Seorang bapak yang berangkat kerja dengan niat menafkahi istri dan anak-anaknya, seorang ibu sebagai manajer rumah tangga yang melakukan tugas rumah dengan niat patuh dan menjaga harta suaminya, seorang anak yang berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas duniawi yang dijanjikan pahala oleh Allah swt.

Selain pahala yang dapat diraih selama kita hidup di dunia, Islam juga memberi peluang bagi mereka yang ingin mendapat pahala di kala ”pensiun” yang artinya kita tetap mendapatkan kucuran pahala walaupun kita sudah meninggal dunia. Bila selama di dunia kita harus mencari pahala secara aktif, maka ketika sudah meninggal pun kita dapat memperoleh pahala secara pasif. Pahala itu dikirimnkan kepada mereka dari hasil investasi mereka selama di dunia. Sebagaimana kita tahu bahwa ketika seorang manusia telah meninggalkan dunia ini, maka semuanya telah berakhir. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki amal ibadahnya. Orang yang melakukan maksiat hingga ujung usianya dan belum sempat bertaubat, maka tak ada lagi kesempatan baginya di alam kubur. Namun, bagi manusia yang telah berinvestasi, maka pahala akan terus mengalir meskipun ia telah berada di alam barzah. Mereka masih memiliki peluang untuk menambah ”nilai rapor” pahala yang dimilikinya. Apa saja investasi itu? Mari kita simak hadits Nabi SAW yang cukup populer berikut ini :

” Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda : ’ Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali 3 perkara ; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan orangtuanya’.” (HR Muslim)

Pertama, sedekah jariyah adalah mengeluarkan sebagian harta kita untuk kepentingan umat Islam yang dilakukan secara ikhlas yang mana pahalanya akan terus mengalir. Misalnya: membangun masjid, madrasah, pesantren, jembatan dan sebagainya. Selama fasilitas tersebut digunakan dan dimanfaatkan oleh umat Islam atau juga masyarakat umum, maka selama itu pulalah mereka yang bersedekah jariyah akan mendapatkan ”gajinya”. Tanpa bekerja apapun, ia masih terus mendapat kucuran pahala. Inilah yang disebut pensiunan pahala.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya dan kemudian muridnya mengamalkannya, maka sang guru akan mendapat pahala dari setiap murid yang mengamalkannya. Bahkan meskipun guru itu telah meninggal dunia. Bayangkan pahala yang diperoleh para ulama besar seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan banyak lagi ulama-ulama lainnya. Mereka telah menyusun hadits, menulis kitab yang digunakan oleh para penuntut ilmu di seluruh dunia. Saat ini mereka terus menikmati pahala yang terus mengalir karena kekayaan ilmu yang mereka miliki. Begitu juga mereka yang mempunyai majelis ta’lim, madrasah, pesantren dengan jumlah murid yang tak hanya 1 atau 2 orang tetapi mencapai ribuan orang. Alangkah menggiurkannya pahala yang dijanjikan!

Ketiga, anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Orangtua yang sukses bukanlah orangtua yang berhasil menjadikan anak-anaknya orang-orang hebat dan berpenghasilan besar semata, tetapi mereka adalah orang tua yang mampu menjadikan anak-anak mereka takut pada Allah SWT. Islam mengajarkan, anak adalah investasi pahala yang tidak ada habis-habisnya bagi orangtua. Agar dapat menjadi investasi pahala, maka anak haruslah menjadi anak-anak yang taat pada Allah dan berbakti pada orangtua. Mengingat pergaulan saat ini yang menakutkan karena banyaknya pengaruh-pengaruh negatif, patut membuat para orangtua cemas. Namun, dengan hanya cemas semata tanpa melakukan tindakan yang tepat atau misalnya memilih mengurung anak karena takut dia akan terpengaruh pada hal-hal yang negatif tidak akan berpengaruh besar pada tingkatan takwanya pada Allah. Pendidikan harus tetap diberikan. Utamanya, menanamkan pendidikan agama sedari dini untuk takut kepada Allah. Dengan bekal rasa takut kepada Allah, kemungkinan untuk ingkar pada perintah-perintah-Nya akan bisa diminimalisir. Setelah memberi bekal yang cukup kita haruslah menyerahkan segalanya pada Allah semata, karena itu kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa :

Artinya : Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Furqan : 74)

Kecerdasan dalam pandangan manusia pada umumnya adalah dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam menyiapkan dirinya untuk kehidupan di masa akan datang. Segala waktu, tenaga, harta atau apapun kita kerahkan untuk mencapainya. Namun, banyak dari kita yang hanya membatasi kecerdasan dengan orientasi kesuksesan di dunia. Ada baiknya kita ubah sedikit orientasi ini, karena ada hal lain yang lebih penting untuk kita utamakan. Berinvestasi untuk akhirat kita. Masa depan kita tidak hanya terbatas 60 – 70 tahun mendatang, tetapi  juga untuk kehidupan abadi nantinya. Alangkah baiknya bila kita ambil langkah-langkah tepat untuk meraih sebanyak-banyak pahala sebagai bekal untuk kehidupan yang abadi. Fatimah Azzahrah Alatas SE

sumber: cahaya nabawiy

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *