Belajar Adab Kepada Orang Yang Tidak Beradab

Dalam sebuah pesta pernikahan tepatnya di rumah saudagar kaya yang menikahkan putri terkecilnya hadir sekitar 1.000 undangan. Kala itu, dalam pesta pengantin tersebut yang hadir rata-rata orang kaya. Sedangkan, orang miskin yang tampak batang hidungnya hanya beberapa gelintir orang saja. Konon saudagar kaya itu memisahkan jamuan makanan antara si kaya dengan si miskin. Melihat diskriminasi sosial yang dilakukan oleh saudagar kaya itu, ada salah seorang yang hadir dalam undangan tersebut merasa “kebakaran jenggot“ sehingga menegurnya dengan berkata, mengapa anda harus membedakan dalam menjamu tamu-tamumu yang hadir, apalagi tamu miskin yang tak berdosa semacam kami ini, dimana letak adabmu“. Apa maksud kamu mencampuri urusanku dan ini adalah hakku dan siapapun tak berhak mencampurinya.“ tukas saudagar kaya dengan agak sedikit sewot.

Menyimak peristiwa yang terjadi pada sepenggal kisah tersebut, maka betapa pentingnya adab bagi manusia yang mengaku sebagai hamba Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW diutus kepermukaan bumi ini tak lain hanya untuk menyempurnakan budi pekerti manusia ditengah bejadnya moral ummat manusia kala itu. Tak dapat dinafikan korelasi agama dengan adab yang mana kalau keduanya tidak berjalan secara harmonis maka akan berekses pada kehancuran agama. Maka dari itu, tak ada kebaikan agama bagi orang yang tidak beradab dan begitupula tak ada iman bagi orang-orang yang tidak menjunjung budi pekerti yang luhur. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang menjunjung budi pekerti yang luhur. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaqnya.“ (HR. At- Tirmidzi)

Kemuliaan adab atau budi pekerti yang luhur ini telah dilukiskan oleh Allah SWT pada pribadi Nabi SAW. Beliau SAW memiliki keagungan budi pekerti yang luhur. Hal ini dapat kita simak dalam sirah perjalanan yang ditulis oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi yang apabila ada orang miskin yang mengundanggnya, beliau selalu tanggap. Keteladanan yang patut kita imitasi pada pribadi Rasulullah SAW memang telah diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Qur`an surat Al Qolam : 4, “Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang agung.“

Kedudukan seseorang menjadi mulia disisi Allah SWT, bukanlah disebabkan karena ia memiliki jabatan, harta, tahta dan keluasan ilmunya, namun karena keluhuran budi pekertinya. Bila seseorang  menjunjung tinggi akhlaq meskipun ilmu yang dimilikinya hanya sedikit, maka ia akan disanjung dan dimuliakan oleh masyarakat. Namun, sebaliknya walaupun keluasan ilmu yang dimiliki laksana gunung Uhud, tetapi bejad adabnya dan tidak memiliki etika dalam bergaul di masyarakat, maka ia justru akan dinistakan.

Orang yang berilmu harus menghiasi perilakunya dengan akhlaq yang luhur. Tak dapat dipungkuri bagi seseorang yang berilmu bila dalam pergaulannya mengabaikan akhlaq yang seharusnya ia junjung, maka ilmu itu tak akan membawa manfaat dan akan membinasakannya. Sebaik-baiknya hiasan bagi orang yang berilmu adalah bersolek dengan budi pekerti yang yang luhur. Mengenai korelasi antara ilmu dengan adab, Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dalam sebuah wasiatnya pernah mengungkapkan bahwa, “Ketahuilah, adab adalah tepung sedangkan ilmu adalah garamnya. Ilmu itu hanyalah keberkahan semata.“

Sudahkah kita menjunjung tinggi moralitas ditengah-tengah masyarakat yang mengabaikan adab sebagai bagian dari pada agama ?. Sungguh amatlah naif apabila adab kita abaikan dan berkumpul pada orang-orang tak beradab yang justru akan mengakibatkan kita semakin jauh dari Allah SWT. Maka dari itu, berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas adab pada diri kita masing-masing, agar kita masuk dalam kategori sebaik-baiknya manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik akhlaq budi pekertinya.“

Begitu urgentnya nilai akhlaq  bagi kehidupan ini, sampai Nabi Muhammad SAW amat mengecam dan menyatakan celaka bagi orang-orang yang tak memiliki adab. Kehancuran dan kerusakan alam semesta seperti kita saksikan banyak para pejabat pemerintahan yang korupsi, para penebang liar menjarah hasil hutan secara serakah tanpa memperhatikan norma yang termaktub dal Al Qur`an. Mereka mengeksplorasi alam tanpa memperhatikan adab yang seharusnya di junjung tinggi sehingga menyebabkan kerusakan alam ini. Mereka tak mengenal, tak memperhatikan norma dan nilai-nilai yang termaktub dalam agama sehingga terjadilah penyimpangan sosial yang berekses pada kerugian pada masyarakat itu sendiri. Rasulullah  pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang apa yang disebut kecelakaan. beliau menjawab, “kejelekan budi pekerti.``

Bahkan Islam tidak akan dapat tegak dengan sempurna tanpa dilandasi dengan budi pekerti yang luhur. Ingatkah bahwa Rasulullah SAW diutus dimuka bumi ini selain menyebarkan agama yang hak, juga memiliki misi yang amat sangat mulia yakni menyempurnakan akhlaq manusia ditengah bejatnya moral masyarakat jahiliyyah kala itu. Tumbuh dan berkembangnya agama Allah dimuka bumi ini amat bergantung pada seberapa jauh aplikasi dan implementasi akhlaq yang mulia ditengah-tengah ummat. Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan bertanya : “apa yang disebut agama, ya Rasul !“ Nabi SAW menjawab : Akhlaq yang mulia.“ Lelaki itu datang lagi kearah kiri dan kanan beliau dan berkata: “agama itu apa, ya Rasul !“ Nabi SAW bersabda : “kebaikan akhlaq yang mulia.`` Lelaki datang lagi dari arah kiri dan kanan beliau, dan berkata : “Apa yang disebut agama, “Ya Rasul!“. Sabda Nabi SAW : “Apa kamu tidak juga faham, dia (budi pekerti yang luhur) agama, dan janganlah kamu marah`(emosi)`.

Sebenarnya banyak pelajaran yang seharusnya dapat dijadikan contoh bagi generasi muda dalam meneladai adab dan akhlaq yang mulia, namun mengapa justru mereka terbawa arus modernisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, hingga  kehilangan jati diri. Westernisasi (kebarat-baratan) membuat generasi muda kita lupa seakan-akan terkena sihir   sehingga merasa bangga dengan adab yang justru bertentangan dengan adat istiadat serta agamanya sendiri. Lihat saja, bagaimana gaya hidup generasi muda metropolitan dan megapolitan yang cenderung sekuler, tidak mengindahkan nilai dan norma-norma agama yang sepatutnya mereka junjung. Agaknya sikap hedonisme dan oportunisme yang menghinggapi para generasi muda ini berekses pada kehilangan keseimbangan diri (self equilibrium).

Keprihatian yang harus dirasakan oleh semua elemen masyarakat saat ini adalah rusaknya moral generasi muda. Padahal, mereka adalah generasi penerus yang akan bertanggungjawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan bangsa yang berwibawa dan berakhlak mulia. Maka dari itu, pendidikan adab harus menjadi prioritas orang tua, pemerintah dan masyarakat. Dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga karena dari sinilah kharakter pendidikan adab bagi anak-anak mulai terbentuk. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang diberikan orang tua kepada anaknya yang lebih utama dari sopan santun yang baik.Betapa pentingnya penanaman adab sedini mungkin pada generasi muda karena kalau sejak kecil seorang anak tidak diberi pelajaran tentang bagaimana mekanisme bersopan santun maka akan membawa dampak pada kerusakan moral dikala ia menginjak dewasa. Lebih parah lagi, kalau seseorang sudah kehilangan adab ia akan bertindak rusak dan melakukan perilaku menyimpang yang mana dapat merugikan citra dirinya sendiri, orang tua dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

baca juga: Dahsyatnya Manfaat Cinta Rasul Kepada Setiap Insan Muslim

baca juga: Kehebatan Maulid Simthud Durar Karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi

baca juga: Cegah Kanker Dengan Shalat Tahajud

 

Kerusakan moral dan adab di lingkungan masyarakat itu seharusnya segera dibenahi dan dipetik hikmahnya agar menjadi masyarakat yang beradab . Kalau kita renungi sejenak bahwa secara tak sadar kita telah belajar akhlaq dari orang-orang yang tak memiliki akhlaq. Mengapa demikian ? karena dari orang-orang yang tak beradab tersebut, kita dapat memilah perbuatan yang sesuai dengan adab. Mengenai  belajar adab pada orang yang tak memiliki adab maka Imam Syafi`i pernah berkata, Saya belajar adab dari orang yang tak memiliki adab.`

Maka dari itu, sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa manusia hidup didunia ini tak bisa melepaskan adab. Ketika manusia kehilangan adab maka ia akan memperoleh sanksi sosial ditengah-tengah masyarakat. Karena itu, pelajaran adab  tidak hanya kita peroleh pada orang-orang telah terhias perangainya dengan adab yang baik, tetapi juga dapat kita peroleh pada orang-orang yang tidak beradab.

(Hasyim Utsman Al Jufri).

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *