Beginilah Cara Guru Syarwani Abdan Mendidik Murid-Muridnya Hingga Menjadi Ulama

kiai-hamid

Jika Anda ke Banjar atau Martapura, tidak lengkap jika Anda tidak membawa oleh-oleh permata. Namun kini Anda tidak perlu jauh-jauh kalau sekedar untuk mencari permata dari Banjar. Anda yang ingin belanja atau hanya sekedar jalan-jalan, silahkan datang ke Jl. Kauman Bangil. Setiap hari, sekitar jam 10.00 hingga menjelang dluhur banyak warga Banjar di Bangil membuka dagangannya berupa permata. Tapi jangan salah pilih, di jalan Kauman tepatnya pada bangunan nomor 171 ada permata sebenar-benarnya permata.

Komunitas masyarakat Banjar memang gampang ditemukan di Bangil. Ketika pelaksanaan Haul , lebih dari 10.000 warga Banjar berkumpul. Bahkan banyak dari mereka yang saat itu datang langsung dari Banjar. Tidak tanggung-tanggung Walikota, Bupati Banjar dan gubernur Kalsel turut hadir dalam acara tahunan tersebut yang dilaksanakan di lingkungan pesantren Datuk Kalampayan.

Pesantren yang berada di sebelah barat masjid Agung Bangil ini didirikan oleh KHM. Syarwani Abdan atau orang Banjar lebih akrab dengan menyebutnya Guru Bangil (sirah beliau selengkapnya baca rubrik Sirah).

Pada tahun 1970, setelah sudah cukup lama mengasuh majlis ta’lim beliau memutuskan untuk mendirikan pondok pesantren. Pesantren yang juga disebut pondok Banjar ini bercirikan salafiyah. Pesantren ini sekilas tidak berbeda dengan pesantren lainnya. Pembelajaran yang dilakukan juga mengunakan metode Halaqah (weton), sorogan (individual) serta Riadhah dan Mujahadah. KH. Kasyful Anwar, putra Guru Bangil sekaligus pengasuh pesantren Datuk Kalampayan saat ini menerangkan metode riadlah sebagai learning by doing.

Dalam hal pembinaan santri, tuan Guru Syarwani membimbing santri secara langsung melalui teladan yang nyata. Terkadang tuan guru memberikan amalan tertentu kepada santri.

Perbedaan dari pesantren lainnya adalah terletak pada kehidupan keseharian pesantren. Pesantren ini sangat mengandalkan kemandirian santri dalam mengatur jadwal kegiatannya sendiri. Tidak ada pembelajaran di kelas, tidak ada penjenjangan atau tingkat pendidikan, tidak ada ujian. Semua pembelajaran langsung dibawah pengawasan pengasuh. Terdapat jam-jam tertentu setiap dimana semua santri wajib belajar, baik apakah langsung kepada pengasuh atau kepada asatidz. Seperti pegajian kitab Shahih Bukhari pada jum’at pagi yang dibina langsung oleh pengasuh. Pada jam-jam tertentu pula santri wajib belajar. Dengan demikian kemampuan santri akan sangat ditentukan ketekunan santri.

Dipesantren inipun tidak ada Haflah Imtihan seperti di pesantren pada umumnya. Waktu pendaftaran pun tidak ditentukan waktunya. Tapi itu bukan berarti santri bebas keluar masuk pulang dari pesantren. Beberapa santri mengungkapkan biasanya pengasuh mengizinkan santri pulang ketika sudah minimal lima tahun mondok. Percakapan bahasa Arab juga menjadi aktifitas keseharian santri.

baca juga: Rubat Tarim, Kawah Candradimuka Para Habaib Dan Ulama

baca juga: Tanda Kewalian Syekh Abu Yazid al-Busthami di Masa Kecil

baca juga: Ketika Kiai Abdul Hamid Membuka Kewalian Kiai Syarwani Abdan

Pesantren yang saat ini dihuni sekitar 100 orang santri ini memang dikhususkan bagi santri dewasa. Atau khusus bagi mereka yang telah tamat tingkat Aliyah. Ibarat proses pembuatan permata, maka pesantren Datuk Kalampayan ini adalah proses finishing sebuah permata. Sebelum siap di “jual” ke masyarakat. Maka sebagai sebuah proses, setiap santri bisa menentukan seberapa tinggi kualitas yang diharapkan yang semuanya itu ditentukan oleh kesungguhan santri dalam menempa dirinya sendiri.

Alumni pesantren ini tersebar di seluruh daerah di Kalimantan. Sebagai hasil tempaan pesantren tersebut beberapa alumni telah berhasil mendirikan pesantren seperti yang ada di Kalimantan selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimatan Timur dan Tembilahan (Sumatera).

dapatkan buku: Khulasoh Madad+Maulid Dhiyaullami, Maulid Diba’, Qosidah Burdah dan Hadrah Basaudan

dapatkan buku: Samudera Hikmah Syekh Abdul Qadir al-Jailani

dapatkan buku: Biografi Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *