Arti Kata “Munkar” Menurut Imam Al-Ghazali

Menurut Imam Al-Ghazali, istilah munkar lebih umum daripada maksiat. Sebab, anak kecil atau orang gila berbuat zina. Ini bukan maksiat karena anak kecil dan orang gila bukan tergolong orang mukallaf, sehingga apapun yang mereka lakukan tidak berimplikasi dosa. Namun yang mereka lakukan adalah kemungkaran, dan orang yang melihat wajib melarangnya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah s.a.w.:

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ  الحديث

 

“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Kalau tidak mampu, maka dengan lisannya… dan seterusnya.”

Dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin Al-Ghazali menjelaskan, banyak sekali ragam kemungkaran itu. Ada kemungkaran khas di jalanan (seperti orang membuat perintang di tengan jalan yang membahayakan para pelintas), di pasar (seperti mengurangi timbangan), di masjid (seperti salat tanpa thuma’ninah, yakni diam dan tenang sebentar, pada saat ruku’, sujud dan seterusnya), pada jabatan publik (seperti korupsi, suap menyuap) dan lain-lain. Ini belum lagi kemungkaran-kemungkaran yang merupakan dosa-dosa besar seperti zina, judi, minum minuman keras dan semacamnya.

Ditegaskan oleh Al-Ghazali bahwa siapapun memiliki kewajiban (secara kifayah alias fardhu kifayah) untuk mencegah kemungkaran yang dia lihat ada di sekitarnya. Kalau bisa dengan tangan. Kalau tidak mampu dengan lisan. Misalnya, di jalan dia lihat ada orang minum minuman keras, maka dia wajib mencegah dengan menuangkan minuman tersebut. Atau, di masjid dia lihat orang salat tanpa thuma’ninah, maka dia wajib membetulkannya. Seperti dalam suatu hadis diterangkan, Nabi s.a.w. pernah melihat seseorang salat dengan ruku’ dan sujud persis seperti burung mematuk. Beliau menyuruh orang itu untuk mengulangi salatnya.

Dengan demikian, spectrum nahi munkar itu luas sekali, dan kita hendaknya melakukan pencegahan bila terjadi kemungkaran di sekitar kita. Terutama para ulama, sebagai pewaris misi kerasulan Nabi s.a.w. Sebab, nahi munkar itu tak ubahnya “law enforcement” (penegakan undang-undang) dalam hukum positif. Sekali terjadi pembiaran (permisivisme), toleransi yang tidak semestinya, maka akan terjadi pelanggaran yang lebih hebat lagi, sehingga pada akhirnya kita sulit untuk memberantasnya. Misalnya, ketika seorang pedagang kaki lima (PKL) dibiarkan menggelar dagangannya di lokasi larangan, maka PKL-PKL lain akan mengikuti jejaknya. Dan begitu jumlah mereka semakin banyak, pihak berwenang sulit untuk menertibkannya. Demikian pula dengan kemungkaran.

Dibanding zaman dulu, kemungkaran yang kita saksikan sekarang tentu jauh lebih hebat. Kita sekarang mungkin tidak bisa membayangkan ada seorang kiai yang merazia perempuan tidak berkerudung atau memakai rok sebatas betis sebab pelanggaran yang terjadi sudah jauh lebih hebat lagi dari itu.

baca juga: Belajar Adab Kepada Orang Yang Tidak Beradab

baca juga: Melakukan Maksiat Dengan Niat Akan Taubat; Nasehat Imam al-Haddad

baca juga: Manfaat Tidur Siang Menurut Para Ulama dan Auliya

 

Kita khawatir, terjadi kemungkaran yang begitu hebat dan terbendung sekarang ini gara-gara kita, khususnya para tokoh agamanya, kurang melaksanakan tugas nahi munkarnya. Memang faktornya cukup banyak. Di antaranya ialah faktor globalisasi dan luberan budaya asing. Tetapi setidaknya meyusutnya ruh atau semangat nahi munkar menjadi salah satu faktornya, dan itu menjadi faktor yang cukup penting. Indikasinya, dulu masih sering kita mendengar gerakan bersama untuk memprotes tayangan bioskop atau televisi yang berbau pornografis. Sekarang, kita seperti kehabisan nafas atau tenaga. Meski tayangan yang ada jauh lebih berbau porno dibanding tayangan yang dulu mendapat protes keras, kita seperti bersikap acuh saja. Dulu kita selalu mendengung-dengungkan ukhuwah islamiyah. Sekarang, para tokoh agama justru larut dalam konflik sesama mereka. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Sekarang musibah terjadi di mana-mana. Terkadang kita bertanya, apa gerangan sebabnya. Kalau benar bencana-bencana itu dikarenakan murka Allah, jangan-jangan itu dikarenakan kelalaian kita dalam urusan amar ma’ruf nahi munkar. Bukankah Rasulullah s.a.w. bersabda, “Perintahkanlah kebajikan dan cegahlah kemungkaran sebelum (datang masa) kalian kalian berdoa lalu doa kalian tidak dikabulkan.” Hamid Ahmad

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *