Abu Darda, Sahabat Nabi Yang Ahli Hikmah dan Makrifat

Selagi balatentara Islam berperang kalah menang di beberapa penjuru bumi, sementara itu di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmat dan filosof yang mengagumkan, yang dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai.

Ia senantiasa mengucapkan kata-kata kepada masyarakat sekelilingnya: “Maukah anda sekalian, aku kabarkan amalan-amalan yang terbaik, amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat anda, lebih baik dari pada memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang leher anda, dan malah lebih baik dari uang mas dan perak?”

Para pendengarnya sama-sama menjulurkan kepala mereka ke muka karena ingin tahu, lalu segera menanyakan : “ Apa yang anda maksud itu ?”  Ia memulai bicaranya dengan wajah berseri-seri, di bawah cahaya iman dan hikmat, lalu menjawab : “Dzikrullah” (menyebut serta mengingat nama Allah) “Wa-ladzikrullahi akbar” (dan sesungguhnya dzikir kepada Allah itu lebih utama).

Bukanlah maksud ahli hikmat yang mengagumkan ini menganjurkan orang menganut filsafat memencilkan diri, dan menyuruh orang agar meninggalkan dunia,serta mengabaikan hasil  yang telah dicapai Agama ini melalui jihad atau kerja mati-matian.

Ketahuilah beliau bukanlah tipe orang yang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan Agama bersama Rasulullah SAW ,sampai datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Mekah.

Namun ia merupakan golongan orang yang setiap merenung dan menyendiri, di relung hikmah, dan membaktikan hidupnya untuk mencari hakikat dan keyakinan, menemukan dirinya dalam suatu wujud yang padu, penuh dengan sari hayat dan gairah kehidupan.

Ahli hikmat yang besar di zamannya itu, adalah seorang insan yang telah dikuasai oleh kerinduan yang amat mendalam untuk melihat hakikat dan menemukannya. Dan disebabkan pula ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang teguh, maka ia merasa yakin dan percaya bahwa iman dengan segala tindak lanjutnya berupa kewajiban dan pengertian, merupakan jalan yang utama dan satu-satunya untuk mencapai hakikat itu.

Demikianlah ia tetap berpegang teguh dan secara bulat menyerahkan dirinya kepada Allah. Keteguhan hatinya, dengan petunjuk dan kebesaran ditempanya kehidupannya sesuai dengan cetakan dan patokannya. Ia terus menelusuri jejak hingga akhirnya menemukannya, dan berada diatas jalan lurus hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh, dan menempati kedudukan yang tinggi beserta orang-orang yang benar secara sempurna, yakni disaat ia menyeru Tuhannya dengan membaca ayat-Nya: “Sesungguhnya shalatku dan ibadatku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah semata, Tuhan alam semesta” (QS: Al-An’am: 162).

Begitupun juga dalam melawan hawa nafsu dan mengekang dirinya untuk memperoleh mutiara bathin yang sempurna telah mencapai tingkat tertinggi yaitu tingkatan tafani rabbani -memusatkan fikiran, perhatian dan amaliahnya kepada pengabdian – menjadikan seluruh kehidupannya semata bagi Allah Rabbul’alamin.

Siapakah sahabat Rasulullah SAW yang memiliki gelar yang sangat agung ini ! Siapakah beliau bila diperhatikan terlihat sinar yang bercahaya-cahaya di sekeliling keningnya ? Dan akan tercium bau  semerbak yang bertiup dari arahnya ?. Beliau adalah Abu Darda’, yang sirah perjalanan hidupnya, kami kutib dari Rijal Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid.

Dikisahkan bahwa seseorang bertanya kepada ibunya tentang amal yang sangat disenangi oleh Abu Darda’ ? Ternyata jawabannya tiada lain adalah “Tafakkur dan mengambil I’tibar atau pelajaran!”  Sungguh benar, ia telah meresapi dengan sempurna firman Allah SWT : “Hendaklah kamu mengambil ibarat  (pelajaran, perbandingan dan sebagainya) wahai orang-orang yang mempunyai pikiran!” (QS: Al-Hasyr: 2)

Ia selalu mendorong kawan-kawannya untuk merenung dan berfikir, katanya : “Berfikir (tafakkur) satu jam, lebih baik dari pada beribadat satu malam !” Dan sesungguhnya beribadat dan bertafakkur serta mencari hakikat telah menguasai seluruh diri dan kehidupannya.

Berikut penuturan beliau sendiri ; “Aku mengislamkan diriku kepada Nabi SAW, sewaktu aku menjadi saudagar . Keinginanku agar ibadat dan perniagaanku dapat berhimpun pada diriku jadi satu, tetapi hal itu tidak berhasil. .Lalu kusampingkan perniagaan, dan mengahadapkan diri kepada ibadat. Dan aku tidak akan merasa gembira sedikitpun jika sekarang aku berjual beli dan beruntung setiap harinya tiga ratus dinar, sekalipun tokoku itu terletak di muka pintu masjid.!”

Perhatikan, aku tidak menyatakan kepada kalian, bahwa Allah mengharamkan jual beli, hanya aku pribadi lebih menyukai agar aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikannya daripada dzikir Allah!

Diisyaratkannya kepada kita tujuan yang lebih tinggi yang hendak dicapainya, menyebabkannya ia meninggalkan dagang sekalipun ia berhasil dalam hal ini. Ia sebenarnya mencari keistimewaan rhani dan keunggulan yang menuju derajat kesempurnaan tertinggi yang dapat tercapai oleh anak manusia. Beliau menghendaki agar ibadat itu laksana tangga yang akan mengangkatnya ke alam kebaikan yang tinggi, hingga ia dapat menengok yang haq dalam kebesarannya, dan hakikat pada sumbernya. Seandainya yang dikehendaki hanyalah semata-mata ditunaikannya perintah dan ditinggalkannya larangan, niscaya ia sanggup menghimpun antaranya dengan dagang dan usaha-usahanya yang lain. Berapa banyaknya para pedagang yang shaleh, atau sebaliknya orang shaleh yang jadi pedagang.

Dan sesungguhnya banyak terdapat di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW. yang perniagaan dan jual belinya tak melalaikan mereka mengingat Allah, bahkan mereka bergiat mengembangkan perniagaan dan hartanya untuk dibaktikannya kepada tujuan Islam dan mencukupi kepentingan Muslimin. Akan tetapi jalan yang ditempuh para sahabat yang lain itu tidak mengurangi arti jalan hidup Abu Darda’, dan sebaliknya jalan yang ditempuhnya tidak pula mengurangkan makna jalan mereka, maka setiap orang dimudahkan Allah untuk mengikuti jalan hidup yang telah ditetapkan  masing-masing.

Abu Darda’ merasakan sendiri dengan sebenar-benarnya bahwa ia diciptakan bagi sesuatu yang memang akan dicapainya yaitu mengkhususkan diri mencari hakikat dengan mengalami dan melalui latihan-latihan berat dalam menjauhi kesenangan dunia sesuai dengan keimanan yang dipimpin Allah kepadanya, digariskan Rasul dan Agama Islam.

Beliau adalah seorang laki-laki yang bertahan mengasah jiwa dan mensucikannya, sehingga menjadi cermin yang memantulkan hikmat, kebenaran, dan kebaikan. Beliau juga sebagai seorang maha guru dan ahli hikmat yang lurus. Berbahagialah mereka yang datang menemuinya dan bersedia mendengarkan ajarannya.

Filsafatnya terhadap dunia, kesenangan dan kemewahan amat terkesan sekali sampai ke dasar jiwanya dengan ayat-ayat al-Quran :“Orang yang mengumpul-ngumpul harta dan menghitung-hitungnya . . . , disangkanya hartanya dapat mengekalkannya“.(QS: Al-Humazah: 2 – 3)

Beliau juga sangat terkesan sabda Rasulullah SAW sampai lubuk hatinya : “Yang sedikit mencukupi, lebih baik dari yang banyak membawa rugi”. Dalam haditsnya yang lain : “Lepaskanlah dirimu dari keserakahan akan dunia sekuasa kamu, sebab siapa yang dunia menjadi tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan miliknya yang telah terkumpul, lalu dijadikannya kemiskinan dalam pandangan matanya. Dan siapa yang menjadikan akhirat tujuan dan cita-citanya, Allah akan menghimpunkan miliknya yang bercerai berai, lalu dijadikan-Nya kekayaan dalam hatinya, dan dimudahkannya mendapatkan segala kebaikan”. (H.R. Thabarani mu’jam al-Kabir)

Oleh karena itulah ia menangisi mereka yang jatuh menjadi tawanan harta kekayaan dan berkata : “Oh Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang!” Dan ketika ditanya orang: “Dan apakah pula hati yang bercabang-cabang itu wahai Abu Darda?” Dijawabnya: “Memiliki harta benda di setiap lembah!dan ia menghimbau manusia untuk memiliki dunia tanpa terikat kepadanya.Itulah cara pemilikan yang hakiki! Adapun keinginan hendak menguasainya secara serakah tak akan pernah ada kesudahannya, maka yang demikian adalah seburuk-buruk corak perhambaan diri, dan perbudakan! Ketika itu ia berkata pula : “Barang siapa yang tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka tak ada dunia baginya?”.

Harta baginya hanya sebagai alat bagi kehidupan yang bersahaja dan sederhana, tidak lebih. Bertolak dari sana, maka menjadi kewajibanlah bagi manusia mengusahakannya dari yang halal dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, tidak dengan cara rakus dan serakah seenaknya.

Kata beliau :“Jangan engkau makan, kecuali yang baik ,Jangan engkau usahakan, kecuali yang baik, Dan jangan engkau masukkan ke rumahmu, kecuali yang baik!”

Pernah ia menyurati sahabatnya dengan kata-kata sebagai berikut : “Arkian, tidak satupun harta kekayaan dunia yang kamu miliki, melainkan sudah ada orang lain memilikinya sebelum kamu! Sebenarnya yang kamu miliki dari dunia, hanyalah sekedar yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu. Maka utamakanlah diri itu dari orang yang untuknya kamu kumpulkan harta itu yaitu anak-anakmu yang bakal mewarisimu. Karena dalam mengumpul-ngumpul harta itu kamu akan memberikannya kepada salah satu diantara dua: Adakalanya kepada anak yang saleh yang beramal dengannya guna mentaati Allah, maka ia berbahagia atas segala penderitaanmu  .Dan ada kalanya pula kepada anak durhaka yang mempergunakan untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu.. Maka percayakanlah nasib mereka kepada rizqi yang ada pada Allah, dan selamatkanlah dirimu sendiri !”

Menurut Abu Darda’, keruntuhan cepat yang dijumpai bala tentara Islam pada negeri-negeri yang dibebaskan, sebabnya ialah karena negeri-negeri tersebut kehilangan pegangan ruhani yang benar yang melindunginya dan beragama dengan benar yang menghubungkannya dengan Allah.

Dan karena itu pula ia mengkhawatirkan keadaan Kaum Muslimin disaat ikatan iman mereka mengendor, hubungan mereka dengan Allah menjadi lemah ,Sebagaimana menurut keyakinannya dulu dunia seluruhnya hanya semata-mata pinjaman, begitu juga ia menjadi jembatan untuk menyeberang kepada kehidupan yang abadi dan lebih mengasyikkan.

Pada suatu saat para sahabatnya menjenguknya sewaktu ia sedang sakit, mereka mendapatinya terbaring diatas hamparan dari kulit..Mereka menawarkan kepadanya agar kulit itu diganti dengan kasur yang lebih baik dan empuk .Tawaran ini dijawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuknya, sedang kedua matanya yang bercahaya-cahaya menatap jauh ke depan : “Kampung kita nun jauh disana, untuknya kita akan berangkat kepadanya dan beramal untuk bekal disana !”

Pandangan terhadap nilai dunia ini bagi Abu Darda’ Bukan sekedar arah pandangan saja, tetapi lebih dari itu ia merupakan suatu jalan hidup !

Yazid bin Mu’awiyah putera Khalifah pernah melamar anaknya dan ditolaknya. Kemudian ia dilamar oleh salah seorang Muslim yang shaleh tetapi miskin, maka puterinya itu dinikahkannya kepadanya. Orang-orang pada tercengang dengan tindakannya itu.

Ia seorang yang bijaksana berjiwa lurus dengan hati yang mulia. beliau berkata: “Kebaikan bukanlah karena banyak harta dan anak-pinakmu tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmumu, dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah SWT!”

Pada masa Khalifah Utsman r.a. Muawiyah menjadi gubernur di Syria, dan Abu Darda’ menjabat hakim atas kehendak Khalifah. Disana beliau menjadi tonggak penegak yang mengingatkan orang akan jalan yang ditempuh Rasulullah dalam hidupnya, zuhudnya, dan jalan hidup para pelopor Islam yang pertama dari golongan syuhada dan shiddiqin. “Negeri Syria waktu itu adalah negeri yang makmur penuh dengan nikmat dan kemewahan hidup. Penduduk yang mabuk dengan kesenangan dunia dan tenggelam dalam kemewahan ini, seolah-olah merasa dibatasi dengan peringatan dan nasihat Abu Darda’”

Abu Darda’ mengumpulkan mereka dan berpidato di hadapannya : “Wahai penduduk Syria, kalian adalah saudara seagama, tetangga dalam rumah tangga, dan pembela melawan musuh bersama, tetapi saya merasa heran melihat kalian semua, kenapa kalian tak punya rasa malu? kalian kumpulkan apa yang tidak kalian makan. Kalian bangun semua yang tidak akan kalian diami. Kalian harapkan apa yang tidak akan kalian capai.

Beberapa kurun waktu sebelum kalian, mereka pun mengumpulkan dan menyimpannya, Mereka mengangan-angan panjang, membina, dan meneguhkan bangunannya ,Tetapi akhirnya semua itu jadi binasa  ,angan angan mereka jadi fatamorgana dan rumah-rumah mereka jadi kuburan belaka, mereka itu ialah kaum ’Ad, yang memenuhi daerah antara Aden dan Oman dengan anak pinak dan harta benda! ”

Kemudian terbayang diantara kedua bibirnya suatu senyuman lebar yang mengejek, ia melambaikan tangannya kepada khalayak yang penuh berdesakan dan dengan kelakar sinis yang menusuk ia pun berteriak :” Ayo, siapa yang mau membeli harta peninggalan kaum ’Ad daripadaku dengan harga dua dirham ?”

baca juga: Kisah Khalid bin Walid, Panglima Islam Yang Tak Terkalahkan

baca juga: Raja Yamamah Yang Setia Membela Rasulullah

baca juga: Kisah Jagoan Quraisy Yang Menjadi Jagoan Islam

 

Abu Darda’ adalah seorang yang berwibawa, anggun, dan menyinarkan cahaya, hikmatnya meyakinkan, sikap tingkah wara’, logikanya benar dan cerdas! Beribadah menurut beliau bukan sekedar formalitas dan ikut ikutan ; sebenarnya adalah ikhtiar mencari kebaikan dan mengerahkan segala daya upaya untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah, senantiasa rendah hati, dan mengingatkan manusia akan kelemahannya serta kelebihan Tuhan atasnya.

Ia pun berkata :“Carilah kebaikan sepanjang hidupmu dan majulah mencari embusan karunia Allah, sebab sesungguhnya Allah mempunyai tiupan rahmat yang dapat mengenai siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya!” Mohonlah kepada Allah agar ia menutupi malu atau cela dan kejahatan serta menghilangkan rasa ketidak tentramanmu!”

Seorang sahabatnya bernama Abu Qalabah bercerita sebagai berikut : “Suatu hari Abu Darda’ melihat orang-orang sedang mencaci-maki seseorang yang terperosok pada perbuatan dosa, ia berseru: “Bagaimana pendapat kalian bila menemukannya terperosok ke dalam lobang? bukankah seharusnya kalian berusaha menolong mengeluarkannya dari lobang tersebut?” Jawab mereka: “Tentu saja !”Katanya: “Kalau begitu jangan kalian cela dia, tetapi hendaklah kalian memuji syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan kalian!” Tanya mereka pula : “Apakah anda tidak membencinya ?” Jawabnya : “Yang kubenci adalah perbuatannya, bila ditinggalkannya maka ia adalah saudaraku . . . .”

Seandainya apa yang telah dikemukakan diatas bagi Abu Darda’ merupakan salah satu wajah dari kedua wajah ibadah, maka wajahnya yang lain ialah ilmu dan ma’rifat.

Sungguh, Abu Darda’ benar-benar mengkuduskan ilmu dengan setinggi-tinggi kedudukan, disucikannya selaku ia seorang budiman, dan  seorang ‘abid. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu :“Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin, apabila tidak berilmu, apa guna ilmu, apabila tidak dibuktikan dalam perbuatan”.

Ilmu baginya ialah : pengertian dari hasil penelitian, jalan dalam mencapai tujuan, ma’rifat untuk membuka tabir hakekat, landasan dalam perbuatan dan bertindak, daya fikir dalam mencari kebenaran dan motor kehidupan yang disinari iman, dalam melaksanakan amal bakti kepada Allah ar-Rahman.  “Pendidik dan penuntut ilmu sama mempunyai kedudukan yang mulia, masing-masing mempunyai kelebihan dan pahala”

Ia melihat pula bahwa kebesaran hidup ini yang banyak sangkut pautnya dengan segala sesuatu tergantung kepada ilmu yang baik. Resapkan ucapannya ini: “Aku tak tahu mengapa ulama kalian pergi berlalu, sedang orang-orang jahil kalian tidak mau mempelajari ilmu ? Ketahuilah bahwa guru yang baik dan muridnya, serupa pahalanya.

Dan tak ada lagi kebaikan yang lebih utama dari kebaikan mereka.

Beliau mengatakan bahwa “Manusia itu ada tiga macam : orang yang berilmu, orang yang belajar, dan yang ketiga orang yang bodoh tidak mempunyai kebaikan apa-apa”

Pengawasan Allah terhadap hamba-Nya menjadi dasar yang kuat bagi Abu Darda’, untuk membangun hak-hak persaudaraan di atasnya. Berkatalah Abu Darda’ r.a.

“Aku benci menganiaya seseorang dan aku lebih benci lagi, jika sampai menganiaya seseorang yang tidak mampu meminta pertolongan dari aniayaku, kecuali kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.!”

Ia selalu memberi peringatan keras terhadap masyarakat dari pikiran keliru yang menyangka bahwa kaum lemah mudah diperlakukan sewenang-wenang dengan menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan. Diperingatkannya, bahwa didalam kelemahan orang-orang itu, terdapat kekuatan yang ampuh, yakni jeritan hati dan memohon kepada Allah karena kelemahan mereka, lalu menyerahkan nasib mereka ke hadapan-Nya atas perlakuan orang yang menindasnya itu!

Itulah Abu Darda’ yang budiman, yang zuhud, ahli ibadah dan yang selalu merindukan kembali hendak bertemu dengan Tuhannya. Dan Inilah dia, bila ada orang yang terpesona dengan ketaqwaannya, lalu mereka meminta do’a restunya, dijawabnya dengan kerendahan hati yang teguh, katanya “Aku bukan ahli berenang, hingga aku takut akan tenggelam ”.

baca juga: Imam Faqih Muqaddam, Wali Paling Berpengaruh Di Hadramaut

baca juga: Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Segaf, Pemegang Estafet Qutub Di Zamannya

donasi: Dompet Dakwah

 

 

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *